Completed
594
BAB 478 — KEKUATAN YANG BARU TERBANGUN
Pagi itu, medan latihan Veyth terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.
Angin bergerak perlahan melewati lapangan luas yang dipenuhi bekas retakan dari latihan sebelumnya. Beberapa batu masih terlempar di sudut medan, sementara lingkaran sihir yang digunakan untuk menjaga keamanan area masih menyala tipis.
Di tengah lapangan...
Darrien berdiri sendirian.
Matanya terpejam.
Tidak ada pedang di tangannya.
Tidak ada senjata.
Hanya tubuhnya yang berdiri tegak dengan kedua tangan sedikit terbuka di sisi tubuh.
Beberapa meter di sekelilingnya...
Puluhan magical dummy bergerak perlahan.
Namun hari ini berbeda.
Dummy-dummy itu bukan dummy biasa yang selama ini digunakan Darrien untuk latihan.
Mereka adalah—
tingkat tertinggi.
Tubuh mereka dibuat dari material sihir yang jauh lebih padat.
Inti sihir mereka memiliki energi yang hampir menyerupai penyihir tingkat tinggi.
Dan yang paling menyulitkan...
mereka tidak bergerak mengikuti pola sederhana.
Mereka bisa menyerang dari berbagai arah.
Mundur.
Berpindah posisi.
Mengubah kecepatan.
Bahkan bekerja sama untuk mengepung satu target.
Darrien masih memejamkan mata.
Satu tarikan napas.
Dalam.
Perlahan.
Ia merasakan keberadaan setiap dummy.
Satu di depan.
Tiga di kiri.
Empat di kanan.
Dua berada cukup jauh di belakang.
Lima bergerak di udara.
Dan sisanya...
menunggu kesempatan.
Darrien mengerutkan kening tipis.
Biasanya, ia akan menggunakan penglihatannya untuk membaca pergerakan mereka.
Hari ini tidak.
Ia ingin tahu apakah sesuatu benar-benar berubah di dalam dirinya.
Apakah semua yang terjadi semalam...
hanya mimpi?
Atau benar-benar nyata?
Grandmaster Darrien.
Sosok dari masa lalu.
Versi dirinya yang pernah mencapai puncak kekuatan.
Sosok yang selama ini bahkan tidak pernah ia bayangkan akan benar-benar ia temui.
Dan kekuatan yang diberikan kepadanya.
Darrien perlahan mengepalkan tangan.
Magicure yang berada di dalam tubuhnya bergerak.
Bukan seperti kemarin.
Energi itu terasa lebih dalam.
Lebih berat.
Lebih padat.
Namun juga...
lebih tenang.
Darrien membuka sedikit matanya.
"...Benarkah?"
Ia menatap telapak tangannya.
Tidak ada cahaya berlebihan.
Tidak ada ledakan.
Hanya aura tipis yang bergerak di sekitar jarinya.
"Kalau ini memang kekuatanmu..."
Ia terdiam sejenak.
"...maka aku harus bisa menggunakannya."
Salah satu magical dummy tiba-tiba bergerak.
WHOOOSH!
Tubuhnya melesat dari sisi kiri.
Darrien menutup matanya kembali.
Dummy itu hampir mencapai wajahnya.
Tiga meter.
Dua meter.
Satu meter—
Darrien memiringkan kepala.
WHAM!
Tinju dummy melewati wajahnya.
Darrien tidak membuka mata.
Ia hanya menggeser satu langkah ke samping.
Dummy kedua menyerang dari belakang.
Darrien menunduk.
Serangan itu melewati rambutnya.
Dummy ketiga muncul dari atas.
Darrien mengangkat satu tangan.
DUUM!
Telapak tangannya menghantam lengan dummy tersebut.
Tubuh dummy terpental.
Namun Darrien tidak berhenti.
Ia sudah merasakan dua energi lain bergerak dari sisi kanan.
Satu rendah.
Satu tinggi.
Darrien berputar.
Kakinya menyapu tanah.
WHOOSH!
Tubuhnya bergerak seperti bayangan.
Ia melewati serangan pertama.
Menghindari serangan kedua.
Kemudian—
DARRIEN MENYENTILKAN DUA JARI.
Ting!
Sebuah lapisan magicure tipis muncul.
Dummy yang berada di depannya berhenti sepersekian detik.
Cukup.
Darrien melangkah masuk.
BOOM!
Satu pukulan menghantam inti tubuh dummy.
Tubuh logam itu terlempar jauh.
BRAAAK!
Sebuah batu besar di belakangnya pecah ketika dummy menghantamnya.
Darrien berhenti.
Matanya masih tertutup.
Napasnya tetap stabil.
"...Lebih kuat."
Ia membuka mata perlahan.
Ada sedikit keterkejutan di dalam tatapannya.
Bukan karena dummy itu hancur.
Tetapi karena—
ia hampir tidak menggunakan seluruh tenaganya.
Darrien melihat tangannya sendiri.
Semalam...
Grandmaster Darrien memberinya kekuatan.
Namun kekuatan itu bukan sesuatu yang bisa langsung ia kuasai sepenuhnya.
Ia bisa merasakan sesuatu yang jauh lebih besar berada di dalam dirinya.
Seperti lautan yang baru saja dibuka pintunya.
Dan dirinya...
baru menyentuh permukaannya.
Darrien tersenyum tipis.
"Jadi memang nyata."
Seketika—
SEPULUH MAGICAL DUMMY menyerang bersamaan.
Darrien mengangkat kepala.
"Oh."
Matanya menyipit.
"...kalian tidak memberi waktu untuk berpikir, ya?"
WHOOSH!
Sepuluh tubuh melesat.
Darrien bergerak.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tubuhnya berputar.
DUK!
Satu serangan dihentikan dengan siku.
BAM!
Serangan kedua dihantam dengan telapak tangan.
WHAM!
Darrien menendang satu dummy hingga terpental.
Namun empat lainnya langsung mengejarnya.
Darrien melompat.
Tubuhnya berputar di udara.
Satu dummy melewati bawahnya.
Darrien mendarat di bahunya.
Kemudian ia menggunakan tubuh dummy itu sebagai pijakan.
BOOM!
Ia melesat menuju dummy lain.
"Too slow."
DUARR!
Satu pukulan.
Dummy terlempar.
Darrien berbalik.
"Yang berikutnya."
Dua dummy datang bersamaan.
Kali ini Darrien tidak menghindar.
Magicure meledak dari tubuhnya.
WHOOM!
Gelombang tekanan menyebar.
Dua dummy itu berhenti mendadak.
Darrien muncul tepat di antara keduanya.
Tangannya bergerak.
Kanan.
Kiri.
DUK!
DUK!
Dua inti sihir terkena hampir bersamaan.
Kedua dummy terlempar ke arah berlawanan.
Darrien mendarat dengan satu lutut menyentuh tanah.
Debu berputar di sekelilingnya.
Ia mengangkat wajah.
Napasnya sedikit lebih berat.
Tetapi...
senyum kecil muncul.
"Masih bisa."
Darrien berdiri.
Di sisi lain medan latihan—
lima orang sedang menonton.
Kevin berdiri paling depan.
Dan ekspresi wajahnya...
berbeda.
Sangat berbeda.
Matanya tidak berkedip.
Ia menatap Darrien seolah baru menemukan sesuatu yang jauh lebih menarik daripada buku sihir kuno.
Rowan memperhatikan wajah Kevin.
Kemudian menoleh kepada Ace.
Ace juga sedang memperhatikan Kevin.
Keduanya saling pandang.
"...Kau lihat itu?"
Ace berbisik.
Rowan mengangguk.
"Dia tersenyum."
Ace membeku.
"...Benar."
Keduanya kembali melihat Kevin.
Kevin masih tersenyum tipis.
Ace langsung merinding.
"Ini berbahaya."
Rowan mengerutkan kening.
"Kenapa?"
"Kevin tersenyum karena latihan."
Ace menelan ludah.
"Itu berarti dia menemukan sesuatu yang menarik."
Rowan berpikir sebentar.
"...Bukankah itu bagus?"
Ace menatapnya serius.
"Bagus untuk Kevin."
Ia menunjuk medan latihan.
"Tidak bagus untuk Darrien."
Rowan terdiam.
"...Oh."
Dari belakang mereka, Elyon dan Elarion baru saja tiba.
Elarion menghela napas.
"Apa yang kalian lakukan?"
Ace menjawab tanpa menoleh.
"Investigasi."
Elarion mengangkat alis.
"Investigasi apa?"
Ace menunjuk Kevin.
"Kenapa dia tersenyum."
Elyon berhenti.
Menatap Kevin.
Kemudian menatap Darrien.
"...Oh."
Elarion juga ikut melihat.
Ia langsung memahami.
"Magicure Darrien berubah."
"Ya," jawab Rowan.
"Sejak pagi," tambah Ace.
Kevin akhirnya berbicara.
"Jelas berubah."
Keempat orang itu menoleh kepadanya.
Kevin masih menatap Darrien.
"Magicure-nya jauh lebih padat."
Ia melangkah sedikit lebih dekat ke batas medan.
"Dan stabil."
Elyon menyilangkan tangan.
"Seberapa besar perubahannya?"
Kevin tidak langsung menjawab.
Tatapannya mengikuti setiap gerakan Darrien.
"...Cukup besar."
Elarion mengamati.
"Apakah dia sudah mencapai Grandmaster?"
Kevin menggeleng.
"Belum."
Ace menghela napas lega.
"Syukurlah."
Kevin menoleh.
"Kenapa?"
Ace langsung memasang wajah serius.
"Karena kalau dia sudah Grandmaster pagi-pagi begini, aku akan mempertimbangkan pensiun."
Elyon terkekeh.
"Alasan yang sangat mulia."
"Aku serius."
Ace menunjuk Darrien.
"Dia sudah menyiksa kita dengan latihan biasa."
"Kalau naik level lagi..."
Ace menggeleng.
"Aku ingin hidup lebih lama."
Rowan menahan tawa.
Namun Kevin tidak ikut tertawa.
Ia kembali menatap medan.
"Belum Grandmaster."
Suaranya tenang.
"Tapi..."
Ia tersenyum lagi.
"...dia sedang menuju ke sana."
Elarion langsung serius.
"Secepat itu?"
"Kalau dia mampu menstabilkan kekuatan barunya..."
Kevin berhenti.
"...ya."
Semua kembali melihat Darrien.
Di tengah medan—
Darrien kini menghadapi seluruh magical dummy yang tersisa.
Jumlahnya lebih dari dua puluh.
Mereka bergerak bersamaan.
Suara langkah mereka mengguncang tanah.
Darrien menarik napas.
Magicure di dalam tubuhnya bergerak semakin dalam.
Ia teringat kata-kata Grandmaster Darrien.
*Berdirilah dengan kakimu sendiri.*
*Jangan mengejar kekuatan hanya karena ingin menang.*
*Fokus pada masalah di hadapanmu.*
Darrien membuka kedua matanya.
Tatapannya menjadi tenang.
"...Baik."
Salah satu dummy menyerang.
Darrien maju.
Bukan mundur.
BAM!
Ia menahan pukulan dengan satu tangan.
Tubuhnya terdorong beberapa meter.
Sepatu Darrien menggores tanah.
Namun ia tidak kehilangan keseimbangan.
Ia mengangkat kepala.
"...Aku mengerti."
Magicure mulai berkumpul di lengannya.
Dummy itu menyerang lagi.
Darrien menghilang.
WHOOSH!
Ia muncul di belakang dummy.
Satu pukulan.
DUARR!
Dummy terlempar.
Dua lainnya datang dari kanan.
Darrien berputar.
Kakinya menghantam satu.
Tangannya menahan yang lain.
Lalu—
BOOM!
Ia melepaskan gelombang magicure pendek.
Keduanya terpental.
Namun belum sempat mendarat—
lima dummy lain sudah berada di udara.
Darrien menatap mereka.
Senyumnya semakin jelas.
"Bagus."
Ia merendahkan tubuh.
"Datang sekaligus."
WHOOM!
Magicure meledak dari bawah kakinya.
Darrien melesat.
Tubuhnya menembus barisan pertama.
DUK!
Satu.
BAM!
Dua.
WHAM!
Tiga.
Ia berputar di udara.
Keempat.
Kelima.
Keenam.
Setiap gerakan terasa semakin ringan.
Bukan karena tubuhnya berubah.
Tetapi karena—
magicure itu mulai mengikuti pikirannya.
Tidak liar.
Tidak meledak sembarangan.
Tidak memaksa.
Ia mengalir.
Seolah-olah kekuatan itu sudah mengenal tubuhnya.
Darrien mendarat.
Tiga dummy terakhir mengepungnya.
Ia mengangkat tangan.
Magicure terkumpul di telapak tangannya.
Lebih padat dari sebelumnya.
Tanah di bawah kakinya mulai retak.
Kevin langsung menyipitkan mata.
"...Menarik."
Elyon menoleh.
"Seberapa menarik?"
Kevin tersenyum.
"Sangat."
Ace langsung mundur satu langkah.
"Aku tidak suka jawaban itu."
Elarion terkekeh.
"Diam dan lihat."
Darrien menatap tiga dummy di depannya.
Kemudian—
ia menurunkan telapak tangannya.
"Jangan terlalu keras."
Ace mengerutkan kening.
"Dia bicara kepada dummy?"
Rowan menjawab datar.
"Kurasa iya."
Ace mengangguk serius.
"Baik. Dia mulai kehilangan akal."
Darrien menghilang.
Tiga dummy bahkan tidak sempat bereaksi.
DUARR!
DUARR!
DUARR!
Ketiganya terlempar hampir bersamaan.
Medan latihan kembali sunyi.
Debu perlahan turun.
Darrien berdiri di tengah lapangan.
Dadanya naik turun.
Ia menatap kedua tangannya.
Kemudian mengepalkan tangan.
Magicure yang baru itu masih terasa di dalam tubuhnya.
Nyata.
Bukan mimpi.
Grandmaster Darrien benar-benar telah menyerahkan warisan kekuatannya.
Namun Darrien tahu satu hal.
Ia belum menguasainya.
Belum.
Ia hanya baru membuka pintunya.
Darrien menatap ke depan.
"Kalau begitu..."
Senyumnya berubah lebih tajam.
"...aku akan belajar menggunakannya."
Dari kejauhan, Kevin tersenyum semakin lebar.
Ace langsung menoleh kepada Rowan.
"Dia tersenyum lagi."
Rowan menghela napas.
"Aku tahu."
Ace menunjuk Kevin.
"Ini bukan lagi latihan biasa."
Elyon tertawa kecil.
"Sepertinya Kevin akhirnya menemukan sesuatu yang membuat paginya menyenangkan."
Kevin tidak membantah.
Ia hanya menatap Darrien.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama—
ekspresi Kevin benar-benar terlihat puas.
"Sepertinya..."
Ia bergumam pelan.
"...aku harus meningkatkan level dummy berikutnya."
Ace langsung membelalakkan mata.
"HAH?!"
Darrien yang mendengar dari kejauhan menoleh.
"...Apa?"
Ace menunjuk Kevin dengan wajah panik.
"JANGAN BIARKAN DIA MEMBUAT DUMMY YANG LEBIH KUAT!"
Kevin tersenyum.
Terlambat.
Sudah jelas dari wajahnya—
ide itu sudah masuk ke kepalanya.
Dan ketika Kevin sudah menemukan sesuatu yang menarik...
tidak ada seorang pun di Veyth yang cukup bodoh untuk mencoba menghentikannya.
Share this novel