Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 318 — JANTUNG YANG TERLUPAKAN
Di dalam Crystal Hall—
tidak ada jawaban.
Elyon, Elarion, Ace, Rowan dan Kevin masih berdiri di sekitar kristal utama bersama Sylvester.
Mereka telah mengamati setiap sudut ruangan.
Memeriksa pola energi.
Mencari ukiran.
Mencari simbol.
Bahkan mencoba menghubungkannya dengan catatan sejarah kerajaan.
Namun—
tidak ada satu pun yang memberikan jawaban.
Ace akhirnya menghela napas.
“Jadi… kita benar-benar tidak tahu apa-apa?”
Sylvester menggeleng.
“Tidak.”
Rowan menatap kristal besar di hadapannya.
“Bahkan tidak ada catatan?”
“Tidak ada yang lengkap.”
Kevin mengerutkan kening.
“Bagaimana mungkin tempat sebesar ini tidak memiliki sejarah?”
Sylvester tidak langsung menjawab.
Elyon akhirnya berkata,
“Karena Crystal Hall lebih tua daripada Istana Lunaris.”
Semua menoleh kepadanya.
Elyon melanjutkan,
“Bahkan lebih tua daripada kerajaan Lunaris sendiri.”
Ace membelalakkan mata.
“Lebih tua dari kerajaan?”
“Ya.”
Elarion berjalan mendekati salah satu kristal.
“Seberapa tua?”
Elyon menggeleng.
“Itulah masalahnya.”
Ia menatap seluruh ruangan.
“Kami tidak tahu.”
Hening.
“Perpustakaan kerajaan tidak memiliki catatan tentang pembangunannya.”
“Bagian penelitian juga tidak menemukan apa pun.”
“Tidak ada dokumen lama yang menjelaskan fungsi awalnya.”
Ace menggaruk kepala.
“Jadi selama ini kalian punya ruangan kuno sebesar ini…”
Ia menunjuk ke sekeliling.
“…dan tidak tahu siapa yang membuatnya?”
Elyon mengangguk.
“Benar.”
Rowan menghela napas.
“Menakutkan.”
Sylvester kemudian berkata,
“Bahkan sejak aku menjadi penjaga kristal di Lunaris…”
Ia berhenti sebentar.
“…sejarah Crystal Hall sudah tidak lengkap.”
Ace menatapnya.
“Tidak lengkap?”
Sylvester menggeleng.
“Lebih tepatnya…”
Tatapannya menjadi serius.
“Sejarahnya seperti sengaja dihilangkan.”
Semua terdiam.
Elyon menambahkan,
“Bukan hanya dilupakan.”
Ia menatap kristal utama.
“Jejak sejarahnya…”
“...seperti telah dihancurkan.”
Ace langsung mengernyit.
“Dihancurkan?”
“Ya.”
Rowan melihat sekeliling.
“Siapa yang melakukan itu?”
Tidak ada jawaban.
Karena bahkan Elyon tidak tahu.
Dan justru itulah yang membuat tempat itu semakin aneh.
Sebuah bangunan yang lebih tua dari kerajaan.
Sebuah sejarah yang seharusnya menjadi bagian dari dunia mereka—
namun telah dihapus begitu bersih sampai generasi sekarang bahkan tidak tahu harus mulai mencari dari mana.
Elarion menatap kristal utama.
“Kalau seseorang sengaja menghapus sejarahnya…”
Ia berhenti.
“…berarti ada alasan.”
Elyon mengangguk.
“Itu yang ingin kuketahui.”
Namun Crystal Hall tetap diam.
Tidak memberikan jawaban.
Hanya cahaya samar yang sesekali berdenyut.
**…tik.**
***
Sementara itu—
di sisi lain istana.
Fiona dan Darrien baru saja tiba di Aula utama.
Fiona masih memikirkan percakapan mereka sebelumnya.
Namun tiba-tiba—
ia berhenti.
Darrien yang berjalan beberapa langkah di depannya ikut berhenti.
“Ada apa?”
Fiona tidak menjawab.
Ia berdiri diam.
Matanya menatap lurus ke depan.
Kemudian—
ia mendengarnya.
**…duk.**
Fiona mengerutkan kening.
**…duk.**
Sebuah suara yang sangat samar.
Seperti detak jantung.
Ia menyentuh dadanya sendiri.
“…”
**…duk.**
Suara itu terasa familiar.
Terlalu familiar.
Namun ingatan tentangnya terasa begitu jauh.
Seolah-olah ia pernah mendengarnya—
sangat lama sekali.
Fiona memiringkan kepala.
“Apa itu…?”
Darrien menoleh.
“Fiona?”
Tidak ada jawaban.
Mata Fiona perlahan berubah.
Tatapan yang sebelumnya lembut menjadi kosong.
Bukan karena ia kehilangan kesadaran sepenuhnya.
Namun seperti—
ada sesuatu yang menarik pikirannya ke tempat lain.
Darrien langsung menyadarinya.
“Fiona?”
Ia berjalan mendekat.
Namun Fiona justru melangkah maju.
Satu langkah.
Kemudian satu lagi.
Darrien segera menghadangnya.
“Fiona.”
Tidak ada reaksi.
Ia mencoba berdiri di depannya.
Namun Fiona bergerak ke sisi lain.
Darrien kembali berpindah.
Fiona terus berjalan.
Seolah-olah ada sesuatu yang memanggilnya.
“Fiona, tunggu.”
Tidak ada jawaban.
Darrien mulai khawatir.
Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi.
Namun ia tahu satu hal—
Fiona tidak sedang berjalan karena keinginannya sendiri.
Ada sesuatu yang menariknya.
Dan ia tidak akan membiarkannya pergi sendirian.
Darrien akhirnya berhenti mencoba menghentikannya.
Ia hanya mengikuti dari belakang.
Menjaga jarak beberapa langkah.
Tidak mengganggu.
Tidak memanggil lagi.
Hanya memastikan Fiona tetap aman.
Sementara itu—
Fiona terus berjalan.
Menuju suatu tempat yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu.
Dan semakin jauh ia melangkah—
suara itu semakin jelas.
**…duk.**
**…duk.**
**…duk.**
Seperti sebuah jantung yang telah menunggu—
sangat lama.
