205. Setelah Hari Yang Panjang

Romance Series 382

BAB 205
SETELAH HARI YANG PANJANG

Malam akhirnya tiba di Istana Veyth.

Setelah seharian berlatih bersama Kevin—

Darrien akhirnya mendapatkan waktu untuk dirinya sendiri.

Ia duduk di dalam bak mandi yang dipenuhi air hangat.

Uap tipis memenuhi ruangan.

Perlahan—

ketegangan pada otot tubuhnya mulai menghilang.

Darrien menyandarkan kepalanya.

Matanya terpejam.

“…”

Hari ini terasa sangat panjang.

Kevin benar-benar tidak berubah.

Selama bertahun-tahun—

cara latihannya masih sama.

Tidak memberikan terlalu banyak waktu untuk beristirahat.

Memaksa tubuh untuk bergerak.

Memaksa pikirannya untuk memperhatikan setiap kesalahan.

Namun Darrien harus mengakui—

latihan hari ini memberinya banyak hal.

Ia mulai memahami bagaimana menggunakan Dark Magic tanpa hanya mengandalkan kekuatannya.

Ia mulai memperhatikan gerakan lawan.

Ia mulai memahami pentingnya kecepatan, keseimbangan, dan kendali.

Kekuatan besar saja ternyata tidak cukup.

Darrien menghela napas.

“Besok pasti lebih buruk.”

Ia bahkan bisa membayangkan senyum Kevin.

Darrien membuka matanya sebentar.

“Monster.”

Kemudian ia kembali menyandarkan kepalanya.

Air hangat perlahan membuat tubuhnya semakin rileks.

Untuk beberapa saat—

tidak ada pikiran tentang kerajaan.

Tidak ada latihan.

Tidak ada musuh.

Tidak ada rahasia.

Hanya ketenangan.

***

Beberapa waktu kemudian—

Darrien akhirnya keluar dari kamar mandi.

Tubuhnya terasa jauh lebih ringan.

Ia mengenakan pakaian tidurnya dan berjalan menuju tempat tidur.

Begitu tubuhnya menyentuh kasur—

rasa lelah kembali terasa.

Darrien berbaring.

Tatapannya mengarah ke langit-langit.

Hari yang panjang akhirnya berakhir.

Namun pikirannya belum benar-benar tenang.

Perlahan—

sebuah ingatan kembali muncul.

Lembah.

Pertarungan itu.

Musaka.

Koga.

Darrien mengerutkan kening.

Ia masih bisa mengingat suara Musaka.

“Setelah aku menyelesaikan balas dendamku terhadapmu…”

Musaka tersenyum dingin.

“…Fiona akan menjadi hadiahku kepada Koga.”

Darrien mengepalkan tangannya.

Hadiah.

Musaka telah membicarakan Fiona seolah-olah dia hanyalah sesuatu yang bisa diberikan kepada orang lain.

Bukan seseorang.

Bukan seseorang yang memiliki perasaan.

Bukan Fiona.

Darrien menarik napas perlahan.

Amarah kembali muncul di dalam dirinya.

Namun sebelum ia sempat menenangkan pikirannya—

ingatan berikutnya muncul.

Koga.

Serangan terakhirnya.

Darrien masih bisa mengingat tekanan sihir yang menghantam tubuhnya.

Kekuatan itu terlalu besar.

Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Pertahanannya runtuh.

Dan kemudian—

serangan terakhir menghantamnya.

Tubuh Darrien terlempar.

Dunia di sekelilingnya mulai kabur.

Ia tidak mampu bergerak.

Tidak mampu mengangkat tangannya.

Bahkan untuk membuka mata pun terasa sulit.

Napasnya menjadi sangat lemah.

Untuk sesaat—

ia benar-benar berpikir bahwa semuanya akan berakhir di sana.

Namun kemudian—

suara itu terdengar.

“Darrien!”

Fiona.

Darrien masih bisa mengingatnya.

Suara panik itu.

Langkah kakinya.

Kemudian tubuh Fiona berlari menghampirinya.

Fiona langsung berlutut dan memeluk tubuhnya.

Air mata terus jatuh dari wajahnya.

“Darrien…”

Tangannya gemetar.

“Darrien, bangun…”

Darrien ingin menjawab.

Ingin mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.

Namun tubuhnya tidak mampu bergerak.

Ia hanya bisa merasakan air mata Fiona jatuh di wajahnya.

“Jangan…”

Suara Fiona terdengar semakin bergetar.

“Tolong…”

Darrien memejamkan matanya.

Bahkan sekarang—

ia masih bisa mengingat perasaan itu.

Tidak berdaya.

Bukan karena dirinya terluka.

Tetapi karena ia tidak mampu menghentikan air mata Fiona.

Tangannya perlahan mengepal di atas tempat tidur.

Darrien membuka mata.

Tatapannya menjadi serius.

“Tidak lagi.”

Suaranya rendah.

Ia tidak ingin melihat Fiona menangis seperti itu lagi.

Tidak pernah.

Ia kemudian teringat latihan hari ini.

Setiap serangan Kevin.

Setiap kesalahan yang diperbaikinya.

Setiap kali tubuhnya dipaksa untuk bergerak kembali.

Sekarang ia memahami alasannya.

Ia tidak membutuhkan kekuatan hanya karena dirinya adalah Pangeran Veyth.

Ia tidak membutuhkan kekuatan untuk membuktikan dirinya kepada siapa pun.

Ia membutuhkan kekuatan—

karena ada seseorang yang ingin ia lindungi.

Seseorang yang bahkan rela berdiri di hadapannya ketika dirinya sendiri sudah tidak mampu bergerak.

Fiona.

Darrien menutup matanya.

“Kalau ada kejadian seperti itu lagi…”

Tangannya mengepal.

“…aku akan berdiri.”

“Aku tidak akan membiarkanmu menyelamatkanku lagi dalam keadaan seperti itu.”

Ia menarik napas panjang.

Namun kemudian ekspresinya melunak.

“Maaf…”

Suaranya hampir tidak terdengar.

“Karena membuatmu menangis.”

Tubuhnya akhirnya menyerah pada rasa lelah.

Darrien memejamkan mata.

Bayangan terakhir yang muncul dalam pikirannya—

adalah Fiona.

Wajahnya yang penuh air mata.

Tangan kecilnya yang memeluk tubuhnya.

Dan suara paniknya yang terus memanggil namanya.

Malam semakin sunyi.

Dan akhirnya—

Darrien tertidur.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience