Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 430 — DI BALIK HARI YANG TENANG
Pagi datang perlahan di Shadowcresent.
Cahaya matahari menyusup melalui tirai tinggi kamar Raizen, jatuh sebagai garis-garis keemasan di lantai marmer.
Fiona masih tertidur.
Raizen sudah terbangun sejak beberapa waktu lalu.
Ia duduk di sisi tempat tidur sambil membaca sebuah buku tua.
Sesekali, matanya turun dari halaman.
Bukan karena ia kehilangan fokus.
Melainkan karena seseorang di sampingnya bergerak.
Fiona menggeliat kecil di bawah selimut.
Rambut peraknya berantakan menutupi sebagian wajah.
Raizen menutup bukunya.
Ia mengulurkan tangan dan dengan lembut menyingkirkan beberapa helai rambut dari wajah Fiona.
Fiona mengerutkan hidung.
Kemudian membuka mata perlahan.
"...Pagi."
Suara seraknya masih dipenuhi sisa kantuk.
"Selamat pagi."
Fiona menatapnya beberapa detik.
Kemudian matanya jatuh pada buku di tangan Raizen.
"Kau sudah bangun lama?"
"Ya."
"Dan kau tidak membangunkanku?"
"Tidak."
Fiona menguap.
"Bagus."
Raizen mengangkat alis.
"Bagus?"
"Aku masih mengantuk."
Raizen hampir tersenyum.
"Kalau begitu tidur lagi."
Fiona menarik selimut sampai menutupi sebagian wajahnya.
"Tidak."
"Kau baru saja mengatakan masih mengantuk."
"Aku berubah pikiran."
Raizen menatap selimut yang kini hanya memperlihatkan bagian atas kepala Fiona.
"Begitu rupanya."
"Mm."
Beberapa detik berlalu.
Kemudian tangan Fiona muncul dari balik selimut.
Ia meraba-raba udara.
Raizen melihatnya.
"Apa yang kau cari?"
"Tanganmu."
Raizen terdiam sesaat.
Kemudian ia menyerahkan tangannya.
Jari Fiona langsung menggenggamnya.
Barulah ia kembali berbaring dengan tenang.
Raizen menatap tangan mereka yang bertaut.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
"Sudah?"
"Sudah."
"Kalau begitu bangun."
Fiona membuka satu mata.
"...Kejam."
Raizen tertawa pelan.
***
Sarapan berlangsung jauh lebih santai daripada biasanya.
Fiona duduk di seberang Raizen.
Di atas meja terdapat berbagai makanan yang telah disiapkan.
Fiona mengambil salah satu kue kecil.
Menggigitnya.
Matanya langsung berbinar.
Raizen memperhatikan reaksinya.
"Enak?"
Fiona mengangguk cepat.
"Mm-hm."
"Berarti kau menyukainya."
Fiona mengambil kue kedua.
"Yang ini juga."
"Kau belum mencobanya."
Fiona berhenti.
Menatap kue di tangannya.
"...Aku akan mencobanya."
Raizen mengangguk seolah sedang menerima laporan kerajaan yang sangat penting.
Fiona menggigitnya.
Kemudian tersenyum puas.
"Yang ini lebih enak."
Raizen memandang kedua kue tersebut.
"Perbedaannya?"
Fiona menunjuk kue pertama.
"Ini lembut."
Kemudian menunjuk kue kedua.
"Ini lebih manis."
Raizen mengangguk.
"Baik."
Fiona menyipitkan mata.
"Kenapa kau serius sekali?"
"Aku sedang mengingatnya."
"Untuk apa?"
"Supaya lain kali aku tahu mana yang harus disediakan lebih banyak."
Fiona terdiam.
Kemudian sudut bibirnya terangkat.
"Kalau begitu..."
Ia mengambil kue ketiga.
"Yang ini juga harus kau catat."
Raizen menatap kue itu.
"Kau bahkan belum mencobanya."
"Justru karena itu."
Fiona tertawa.
Raizen hanya menggeleng.
Namun tatapannya lembut.
***
Setelah sarapan, Fiona kembali berjalan-jalan bersama Raizen.
Kali ini mereka tidak memiliki tujuan tertentu.
Tidak ada agenda.
Tidak ada penjagaan khusus.
Mereka hanya berjalan.
Fiona sesekali berhenti ketika melihat sesuatu yang menarik.
Sebuah jendela kaca tua.
Patung kuno.
Lorong dengan ukiran yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya.
Raizen tidak terburu-buru.
Ia mengikuti langkah Fiona.
Ketika Fiona berhenti, ia berhenti.
Ketika Fiona berjalan lagi, ia ikut berjalan.
Sampai akhirnya mereka kembali ke taman.
Fiona langsung mengenali tempat itu.
"Di sini lagi."
"Kau menyukainya."
Fiona mengangkat bahu.
"Aku hanya kebetulan sering berada di sini."
Raizen menatapnya.
"Begitu?"
"Ya."
"Baik."
Fiona meliriknya.
"Apa?"
"Tidak ada."
Mereka berjalan melewati deretan bunga.
Angin lembut menyentuh rambut mereka.
Untuk beberapa saat, tidak ada percakapan.
Dan anehnya...
keheningan itu tidak terasa canggung.
Fiona akhirnya duduk di bangku batu.
Raizen duduk di sebelahnya.
Fiona menatap langit.
"Tenang sekali."
"Shadowcresent memang seperti ini."
"Selalu?"
"Tidak."
Fiona menoleh.
Raizen memandang taman di depan mereka.
"Kerajaan ini telah melihat banyak hal."
"Perang?"
"Perang. Pengkhianatan. Kematian."
Fiona terdiam.
Namun Raizen kemudian melanjutkan dengan nada lebih ringan.
"Tetapi hari ini tidak ada."
Fiona menatapnya.
Kemudian tersenyum.
"Bagus."
Ia menyandarkan tubuhnya sedikit ke belakang.
"Kalau begitu jangan rusak hari ini."
Raizen menoleh kepadanya.
"Aku tidak akan."
Fiona kembali menatap taman.
Beberapa saat kemudian, kepalanya perlahan bersandar pada bahu Raizen.
Raizen tidak bergerak.
Ia hanya membiarkannya.
Hari terus berjalan.
Tanpa pertempuran.
Tanpa ancaman.
Tanpa siapa pun yang datang mengganggu.
Untuk satu hari...
Shadowcresent benar-benar terasa damai.
Namun jauh dari taman itu—
di perbatasan kerajaan—
seseorang sedang memastikan kedamaian tersebut tidak mudah dirusak.
