Series
382
BAB 316 — CAHAYA DI CRYSTAL HALL
Di sisi lain Istana Lunaris—
Sylvester masih berada di dalam Crystal Hall.
Ia berdiri sendirian di tengah ruangan.
Selama beberapa hari terakhir, cahaya samar yang muncul di dalam kristal selalu membuatnya penasaran.
Namun kali ini—
berbeda.
Sylvester perlahan mengangkat kepalanya.
Cahaya yang sebelumnya hanya berupa kilatan kecil—
kini jauh lebih jelas.
Lebih luas.
Lebih dalam.
Ia mendekati salah satu kristal besar.
Matanya menyipit.
“…”
Cahaya itu kembali berdenyut.
**…tik.**
Sylvester terdiam.
Kemudian—
**…tik.**
Denyut kedua jauh lebih kuat.
Sylvester langsung mundur setengah langkah.
“Ini bukan reaksi biasa.”
Ia mengamati seluruh ruangan.
Kristal-kristal yang selama beberapa hari hanya memancarkan cahaya samar kini mulai memiliki sinar yang merambat di sepanjang permukaannya.
Bukan ledakan.
Bukan serangan.
Lebih seperti—
Crystal Hall sedang **terbangun**.
Sylvester langsung berbalik.
“Aku harus memberitahu Elyon.”
***
Sementara itu—
Elyon, Elarion, Ace, Rowan, dan Kevin baru saja meninggalkan Crystal Garden.
Mereka berjalan menyusuri koridor menuju aula utama dan kamar masing-masing.
Ace masih membicarakan sesuatu tentang makan siang.
“Menurutku dessert tadi masih kurang.”
Rowan menatapnya.
“Kau bahkan sudah makan dua.”
“Dua itu tidak banyak.”
Kevin menghela napas.
“Bagi orang normal, itu sudah cukup.”
Ace hendak menjawab—
namun sebuah suara terdengar dari ujung koridor.
“Elyon!”
Semua langsung menoleh.
Sylvester datang dengan langkah cepat.
Elyon langsung menyadari ekspresinya.
“Apa yang terjadi?”
Sylvester berhenti di depan mereka.
“Crystal Hall.”
Elyon mengerutkan kening.
“Apa?”
“Cahayanya.”
Sylvester menarik napas.
“Jauh lebih besar dari beberapa hari terakhir.”
Elyon langsung berubah serius.
“Seberapa besar?”
“Cukup besar sampai aku tidak yakin itu masih bisa disebut reaksi samar.”
Elyon terdiam.
Elarion langsung menutup buku yang dibawanya.
“Crystal Hall?”
Ace mengangkat alis.
“Crystal Hall itu apa?”
Rowan ikut menatap Sylvester.
Kevin juga memperhatikan.
Tampaknya—
mereka bertiga baru pertama kali mendengar nama itu.
Sylvester menyadari hal tersebut.
“Kalian belum pernah mendengar tentang Crystal Hall?”
Ace menggeleng.
“Belum.”
Rowan juga menggeleng.
Kevin hanya menjawab singkat,
“Tidak.”
Elyon tidak membuang waktu.
“Aku akan melihatnya.”
Ia langsung berbalik.
Sylvester mengikutinya.
Namun sebelum mereka sempat pergi—
Ace berkata,
“Tunggu.”
Elyon menoleh.
“Apa?”
Ace menunjuk dirinya sendiri.
“Kalau ini sesuatu yang cukup penting sampai Sylvester berlari mencari kalian…”
Ia melirik Rowan dan Kevin.
“…kami juga ingin melihat.”
Rowan mengangguk.
“Aku penasaran.”
Kevin hanya menyilangkan tangan.
“Aku ikut.”
Elarion tersenyum tipis.
“Kalau begitu, jangan tertinggal.”
Ace langsung berjalan.
“Memangnya kami lambat?”
Elarion meliriknya.
“Kadang.”
“Hey!”
Rowan tertawa.
***
Mereka akhirnya berjalan bersama.
Elyon berada di depan.
Sylvester berjalan di sampingnya.
Di belakang—
Ace, Rowan, Kevin, dan Elarion mengikuti.
Semakin jauh mereka berjalan—
semakin sunyi koridor tersebut.
Ace mulai memperhatikan keadaan sekitar.
“Kenapa tempat ini terasa seperti bagian istana yang jarang dilewati?”
Sylvester menjawab,
“Karena memang tidak banyak orang yang diperbolehkan masuk ke sana.”
Ace mengangkat alis.
“Sekarang aku semakin penasaran.”
Rowan menoleh kepada Kevin.
“Kau tahu tentang tempat ini?”
Kevin menggeleng.
“Tidak.”
Elarion juga menjawab,
“Aku pernah mendengar namanya.”
Ace langsung menoleh.
“Dan kau tidak pernah memberitahu kami?”
Elarion mengangkat bahu.
“Tidak ada alasan.”
Ace mendengus.
“Pelihara rahasia sendiri.”
Elarion tersenyum.
“Kau baru saja melakukannya juga.”
Ace terdiam.
“…Benar.”
***
Akhirnya—
mereka tiba di depan sebuah pintu besar.
Pintu itu terlihat jauh lebih tua dibandingkan bagian istana lainnya.
Ukiran kristal memenuhi permukaannya.
Sylvester berdiri di depan pintu.
Ia menatapnya sebentar.
Kemudian membuka pintu.
**KREEEKK…**
Pintu perlahan terbuka.
Cahaya lembut langsung terlihat dari dalam.
Ace berhenti.
Rowan juga terdiam.
Kevin memperhatikan ruangan itu dengan tatapan serius.
Elarion menyipitkan mata.
Namun Elyon—
langsung berjalan masuk.
Sylvester mengikutinya.
Dan beberapa langkah kemudian—
yang lainnya ikut masuk.
Begitu mereka melewati pintu—
semua suara menghilang.
Crystal Hall terbentang luas di hadapan mereka.
Kristal-kristal besar menjulang dari lantai hingga langit-langit.
Namun bukan itu yang membuat Elyon berhenti.
Di tengah ruangan—
cahaya sedang berkumpul.
Perlahan.
Dalam.
Seolah-olah seluruh Crystal Hall sedang merespons sesuatu.
Sylvester menunjuk ke arah cahaya tersebut.
“Itu.”
Elyon menatapnya.
“Sejak kapan?”
“Baru saja.”
Elarion berjalan mendekat.
“Menarik…”
Ace menelan ludah.
“Jadi…”
Ia melihat sekeliling.
“…ini Crystal Hall?”
Rowan mengangguk perlahan.
“Sepertinya.”
Kevin tetap diam.
Namun tatapannya tidak lepas dari kristal di tengah ruangan.
Kemudian—
Crystal Hall kembali berdenyut.
**…tik.**
Cahaya menyebar lebih jauh.
Dan untuk sesaat—
Elyon merasa seolah-olah ruangan itu bukan sedang bereaksi terhadap mereka.
Melainkan—
**sedang menunggu seseorang.**
Elyon mengerutkan kening.
“Siapa yang membuatmu bereaksi seperti ini…?”
Tidak ada jawaban.
Hanya cahaya yang terus berdenyut.
**…tik.**
Share this novel