305. Jalan Yang Terpisah

Romance Series 382

BAB 305 — JALAN YANG TERPISAH

Suasana berubah.

Taman Kristal yang sebelumnya dipenuhi cahaya perlahan menghilang.

Danau.

Pohon.

Para peri kecil.

Semuanya lenyap seperti kabut yang tertiup angin.

Ketika pandangan sang Saintess kembali jelas—

ia sudah berada di tempat lain.

Gelap.

Dingin.

Dan jauh lebih sunyi.

Ia berjalan cepat.

Tidak.

Bukan berjalan.

Berlari.

Napasnya terdengar berat.

Tangannya menggenggam pakaian Darrien yang berada di sampingnya.

“Cepat…”

Suaranya bergetar.

Darrien menariknya lebih dekat.

“Kita aman untuk sekarang.”

“Tidak.”

Ia menggeleng.

Air mata mulai memenuhi matanya.

“Mereka sudah tahu.”

Darrien terdiam.

Sang Saintess mencoba menahan tangis.

“Kita harus pergi.”

“Ke mana?”

“Ke mana saja.”

Ia menatap Darrien.

“Tempat yang tidak diketahui siapa pun.”

Suaranya semakin pecah.

“Kita pergi bersama.”

Darrien memegang kedua bahunya.

Ia menatapnya.

“Kita akan menemukan waktunya.”

Sang Saintess menunduk.

“Aku takut.”

Darrien langsung menariknya ke dalam pelukan.

Ia membiarkannya menangis.

Tidak bertanya.

Tidak memaksanya berhenti.

Hanya memeluknya.

“Kita akan pergi.”

Sang Saintess menggenggam pakaiannya semakin erat.

“Kau janji?”

Darrien menjawab tanpa ragu.

“Aku janji.”

***

Adegan kembali berubah.

Jalan yang sebelumnya mereka rencanakan—

telah hancur.

Jalur keluar yang seharusnya aman kini dipenuhi pasukan.

Seseorang telah mengetahui rencana mereka.

Mereka telah dikhianati.

“Tidak…”

Sang Saintess mundur.

Darrien segera berdiri di depannya.

Namun jumlah mereka terlalu banyak.

Satu kelompok muncul dari sisi lain.

Kemudian kelompok berikutnya.

Sang Saintess melihat Darrien.

“Darrien…”

“Jangan takut.”

Namun bahkan sebelum ia selesai berbicara—

sebuah serangan memisahkan mereka.

“DARRIEN!”

Sang Saintess mencoba kembali.

Namun beberapa sosok langsung menghadangnya.

Para elf pengguna Light Magic.

Mereka mengepungnya.

Darrien bergerak menuju arahnya.

Namun—

beberapa Dark Elf Master muncul di hadapannya.

Dan di antara mereka—

seseorang yang Darrien kenal.

Seorang pengkhianat.

Darrien menatapnya.

“Jadi kau.”

Sosok itu tidak menjawab.

Ia hanya berdiri bersama para Dark Elf tingkat tinggi.

Sang Saintess mencoba menerobos barisan elf di depannya.

“Darrien!”

“Aku di sini!”

Untuk beberapa saat—

jarak mereka tidak terlalu jauh.

Mereka masih bisa melihat satu sama lain.

Sang Saintess mengulurkan tangannya.

Darrien juga mengulurkan tangan.

Namun semakin banyak pasukan datang.

Jarak itu perlahan melebar.

“Darrien!”

“Aku akan menemukanmu!”

Sang Saintess menangis.

“Jangan pergi!”

“Aku tidak akan meninggalkanmu!”

Namun—

sebuah penghalang Light Magic muncul di antara mereka.

Pandangan mereka terputus.

Sang Saintess memukul penghalang itu.

“DARRIEN!”

***

Sementara itu—

Darrien menghadapi para Dark Elf Master.

Auranya mulai meningkat.

Namun jumlah mereka terlalu banyak.

Ia kembali menatap ke arah tempat sang Saintess menghilang.

Tatapannya berubah.

“Jangan sentuh dia.”

Salah satu Dark Elf tersenyum.

“Sudah terlambat.”

Darrien mengepalkan tangannya.

Kemudian—

ia bergerak.

***

Sang Saintess masih mencoba melawan.

Namun tubuhnya semakin lemah.

Para Light Elf terus membawanya menjauh.

Ia masih menoleh ke belakang.

Masih mencari sosok yang dicintainya.

Namun—

Darrien sudah tidak terlihat.

Air matanya jatuh.

Dan mimpi itu kembali menjadi kabur.

***

Di dunia nyata—

Fiona masih terbaring tidak sadar.

Ruangan tetap tenang.

Darrien masih berada di samping tempat tidurnya.

Namun jauh dari sana—

di Crystal Hall—

sesuatu berubah.

Cahaya kristal yang sebelumnya hanya berdenyut samar mulai melebar.

**…tik.**

Kemudian—

**…tik.**

Cahaya menyebar lebih jauh.

Sylvester yang kebetulan berada tidak jauh dari aula langsung berhenti.

Ia menoleh.

Matanya melebar.

“Crystal Hall?”

Cahaya dari kristal semakin terang.

Bukan seperti sebelumnya.

Kali ini—

seolah seluruh ruangan merespons sesuatu.

Sylvester langsung berlari.

“Apa yang terjadi…?”

Ia tidak menunggu jawaban.

Ia segera menuju ruang perawatan.

***

Pintu ruang perawatan terbuka.

Elyon yang sedang berada di dalam langsung menoleh.

“Sylvester?”

Sylvester masuk dengan napas sedikit terengah.

“Elyon.”

“Ada apa?”

“Crystal Hall.”

Elyon mengerutkan kening.

“Apa?”

“Cahayanya berubah.”

Elyon langsung berdiri.

“Apa maksudmu?”

“Jauh lebih terang.”

Elyon menatap Fiona.

Kemudian Sylvester.

Tanpa membuang waktu—

keduanya langsung bergerak.

Mereka menuju sisi tempat tidur Fiona.

Dan ketika mereka sampai—

cahaya samar dari kalung dan gelang daun perak masih terlihat.

Namun kali ini—

denyutnya berbeda.

Elyon terdiam.

Sylvester menatapnya dengan wajah penuh kebingungan.

“Apa yang sedang terjadi padanya?”

Elyon tidak menjawab.

Karena pada saat yang sama—

dari kejauhan,

Crystal Hall kembali berdenyut.

**BOOM…**

Cahayanya melebar.

Dan untuk pertama kalinya—

Sylvester merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Seolah-olah—

Crystal Hall sedang **mengenali seseorang.**

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience