Series
94
BAB 70
JEJAK DI BALIK DINDING
Marcus berjalan menuju kandang dengan tenang.
Ia tidak membawa banyak penjaga.
Hanya dua orang.
Ia tidak ingin membuat keributan di tengah jamuan.
Namun semakin dekat ia berjalan…
semakin jelas perubahan sihir yang ia rasakan.
Seseorang telah melewati penghalang.
Marcus berhenti.
Ia menatap tanah.
Ada bekas langkah.
Tidak jelas.
Namun cukup.
“Dua orang?”
Salah seorang penjaga mengangguk.
“Sepertinya.”
Marcus berjongkok.
Ia menyentuh tanah.
Sisa energi sihir masih ada.
Tipis.
Namun aneh.
Bukan sihir manusia biasa.
Marcus mengerutkan kening.
***
Di sisi lain—
Darrien, Kevin, Ace, dan Elarion bergerak menjauh dari kandang.
Darrien tiba-tiba berhenti.
“Marcus.”
Ace menoleh.
“Kau mengenalnya?”
“Bukan.”
Darrien menggeleng.
“Dia berbeda.”
Kevin mengangguk.
“Pengguna sihir tingkat tinggi.”
Darrien memejamkan mata.
Ia merasakan aura Marcus.
Kemudian…
ia merasakan Fiona.
Masih dekat.
Namun bergerak.
“Fiona pergi.”
Elarion menatapnya.
“Ke mana?”
“Ke arah timur.”
Ace langsung membuka peta kecil.
“Lorong pelayan.”
Darrien mengangguk.
“Dia menuju sana.”
Kevin menatapnya.
“Jangan mengejarnya sekarang.”
Darrien menatap Kevin.
“Kenapa?”
“Karena Marcus sedang mencarimu.”
Darrien terdiam.
“Kalau dia menemukanmu…”
Kevin tidak menyelesaikan kalimatnya.
Darrien mengerti.
***
Fiona berlari kecil melewati lorong pelayan.
Ia tidak tahu apakah Darrien masih berada di belakangnya.
Namun ia tahu satu hal.
Ia harus keluar sebelum para penjaga menemukannya.
Ia melewati dapur.
Kemudian gudang.
Kemudian tangga kecil.
Namun ketika ia membuka pintu berikutnya—
Marcus sudah berdiri di sana.
Fiona membeku.
Marcus juga terdiam.
Keduanya saling menatap.
Beberapa detik.
Kemudian Marcus berkata,
“Kau.”
Fiona mundur satu langkah.
“Aku hanya…”
Marcus mengangkat tangan.
“Tenang.”
Fiona menatapnya curiga.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
“Aku ingin pergi.”
Marcus menghela napas.
“Aku tahu.”
Fiona terkejut.
“Kau tahu?”
“Aku sudah tahu sejak beberapa hari lalu.”
Fiona mengepalkan tangan.
“Kalau begitu kenapa kau tidak menghentikanku?”
Marcus menatapnya.
“Karena aku ingin tahu apakah kau benar-benar akan pergi.”
Fiona menatapnya tidak percaya.
“Aku memang akan pergi.”
Marcus mengangguk.
“Aku tahu.”
“Lalu?”
Marcus menatap ke arah lorong di belakang Fiona.
“Ada seseorang yang masuk ke kediaman.”
Fiona membeku.
“Siapa?”
Marcus tidak menjawab.
Namun ia memperhatikan perubahan kecil di wajah Fiona.
Kemudian ia mengerti.
“Kau tahu.”
Fiona tidak menjawab.
Marcus menghela napas.
“Siapa dia?”
Fiona tetap diam.
Marcus tidak memaksa.
Namun kemudian ia berkata,
“Kalau dia datang untukmu…”
Fiona menatapnya.
“…maka jangan membuatnya tertangkap.”
Fiona terdiam.
“Kenapa kau mengatakan itu?”
Marcus menatapnya.
“Karena aku tidak ingin melihat lebih banyak orang menjadi korban keputusan keluarga ini.”
Fiona tidak tahu harus berkata apa.
Marcus bergeser.
“Pergilah.”
Fiona terkejut.
“Benarkah?”
“Sekarang.”
Fiona berlari melewatinya.
Namun sebelum pergi, ia berhenti.
“Marcus.”
“Hm?”
“Terima kasih.”
Marcus tidak menjawab.
Ia hanya melihat Fiona menghilang di balik lorong.
Kemudian ia berbalik.
Di kejauhan…
sebuah aura gelap mulai mendekat.
Marcus menyipitkan mata.
“Jadi…”
Ia merasakan kekuatan yang sangat asing.
“…kau datang untuk gadis itu.”
***
Darrien berhenti.
Kevin menatapnya.
“Apa?”
Darrien menoleh ke arah belakang.
“Dia.”
“Siapa?”
Darrien menjawab pelan,
“Orang yang menjaga keluarga Ardika.”
Kevin langsung mengerti.
“Marcus.”
Darrien mengangguk.
“Dia menemukan kita.”
Ace menatapnya.
“Kalau begitu kita pergi.”
Namun Darrien menggeleng.
“Tidak.”
Kevin menatapnya.
“Darrien.”
Darrien menatap ke arah lorong.
“Aku bisa merasakan Fiona.”
Kemudian ia menatap Ace.
“Dan dia semakin dekat.”
Ace terdiam.
Kevin tersenyum tipis.
“Sepertinya malam ini tidak akan selesai dengan tenang.”
Darrien mengangkat tangannya.
Sihir gelap perlahan muncul.
“Tidak masalah.”
Ia menatap ke depan.
“Aku datang untuknya.”
Share this novel