Series
382
BAB 276 — TAMAN YANG HIDUP
Setelah sarapan selesai—
Fiona akhirnya mendapatkan apa yang sejak kemarin ia tunggu.
Taman timur Istana Lunaris.
Seraphine berjalan di sampingnya dengan langkah santai.
Darrien mengikuti beberapa langkah di belakang bersama Ace, Rowan, Elarion, Kevin, Elyon, dan Sylvester.
Pintu besar menuju taman perlahan dibuka.
Dan begitu Fiona melangkah melewatinya—
ia berhenti.
Matanya langsung melebar.
“Wow…”
Taman itu jauh lebih luas daripada yang terlihat dari balkon kamar Fiona.
Jalan setapak dari batu putih membentang di antara hamparan bunga.
Rerumputan hijau terlihat sangat terawat.
Namun taman itu tidak terasa kaku seperti taman kerajaan pada umumnya.
Semuanya terlihat hidup.
Bunga-bunga tumbuh dalam berbagai bentuk dan ukuran.
Sebagian berwarna putih.
Sebagian biru lembut.
Ada pula bunga berwarna ungu pucat yang kelopaknya memantulkan sedikit cahaya ketika terkena matahari.
Di beberapa bagian—
kristal-kristal kecil tumbuh di antara bunga.
Tidak terlalu besar.
Hanya sebesar telapak tangan.
Namun permukaannya berkilau ketika terkena cahaya.
Fiona berjalan perlahan.
“Indah…”
Seraphine tersenyum.
“Aku tahu kau akan menyukainya.”
Fiona menoleh.
“Apakah taman ini selalu seperti ini?”
“Kurang lebih.”
Seraphine menunjuk ke arah beberapa pohon tinggi.
“Taman ini dirawat oleh para penjaga taman dan makhluk-makhluk kecil yang hidup di dalamnya.”
Fiona mengerutkan kening.
“Makhluk-makhluk kecil?”
Seraphine belum sempat menjawab.
Ketika—
sesuatu melintas di atas kepala Fiona.
Fiona refleks mendongak.
“Hm?”
Sebuah titik kecil terbang melewati wajahnya.
Kemudian—
satu lagi.
Dan satu lagi.
Fiona berkedip.
“…Apa itu?”
Darrien ikut mendongak.
Ace menghentikan langkah.
Rowan menatap ke atas.
Bahkan Kevin ikut memperhatikan.
Beberapa sosok kecil sedang terbang di atas hamparan bunga.
Tubuh mereka sangat kecil.
Tidak lebih besar daripada telapak tangan orang dewasa.
Mereka memiliki sayap tipis seperti sayap kupu-kupu.
Beberapa mengenakan pakaian kecil yang terbuat dari kelopak bunga.
Yang lain membawa keranjang mungil.
Mereka terbang dari satu bunga ke bunga lainnya.
Salah satu dari mereka membawa serbuk bercahaya.
Yang lain menyiram sebuah bunga menggunakan sesuatu yang tampak seperti botol kecil.
Fiona menatap tanpa berkedip.
“Elf?”
Seraphine tersenyum.
“Ya.”
Fiona langsung mendekat.
“Benar-benar ada elf kecil?”
Salah satu elf yang sedang terbang tiba-tiba berhenti.
Ia melihat Fiona.
Fiona juga melihatnya.
Keduanya saling menatap.
Elf kecil itu memiringkan kepala.
Fiona juga memiringkan kepala.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian elf itu terbang mendekat.
Ia berhenti tepat di depan wajah Fiona.
Fiona tersenyum.
“Halo…”
Elf itu tidak menjawab.
Ia hanya memperhatikan Fiona dari atas ke bawah.
Kemudian—
ia terbang mengelilinginya sekali.
Fiona tertawa kecil.
“Apa yang dia lakukan?”
Seraphine tersenyum.
“Mungkin penasaran.”
Elf itu kembali terbang ke arah beberapa elf lainnya.
Kemudian—
mereka mulai berbisik satu sama lain.
Fiona menatap mereka.
“Mereka membicarakanku?”
Darrien tersenyum.
“Mungkin.”
Fiona langsung menoleh kepadanya.
“Kenapa kau terdengar senang?”
“Tidak.”
“Kau tertawa.”
“Sedikit.”
Fiona mendengus.
***
Semakin mereka berjalan ke dalam taman—
semakin banyak makhluk kecil yang terlihat.
Beberapa elf duduk di atas kelopak bunga.
Beberapa terbang membawa daun kecil.
Ada yang sedang membersihkan debu dari kristal.
Ada pula yang tampaknya hanya bermain di antara bunga-bunga.
Suasana taman dipenuhi suara sayap kecil.
Suara angin.
Dan sesekali—
suara tawa kecil dari para elf.
Fiona terlihat semakin bahagia.
“Apakah mereka tinggal di sini?”
Seraphine mengangguk.
“Sebagian besar.”
“Mereka menjaga taman?”
“Bisa dibilang begitu.”
Seraphine tersenyum.
“Mereka membantu merawat bunga dan menjaga keseimbangan energi alami taman.”
Fiona memperhatikan salah satu elf yang sedang merawat bunga kecil.
“Jadi mereka memang bagian dari Lunaris.”
“Ya.”
Fiona tersenyum.
“Lucu sekali.”
Darrien mengangguk.
“Benar.”
Ace tiba-tiba menunjuk salah satu elf.
“Yang itu sedang mencuri sesuatu.”
Semua menoleh.
Seekor elf kecil sedang membawa sepotong buah yang ukurannya hampir sama besar dengan tubuhnya.
Ia terbang dengan susah payah.
Rowan tertawa.
“Dia bukan mencuri.”
Ace mengangkat alis.
“Lalu?”
“Dia mungkin sedang membawa makanan.”
Elf kecil itu tiba-tiba kehilangan keseimbangan.
Buahnya jatuh.
**Plop.**
Ia turun mengejar buah tersebut.
Fiona menahan tawa.
Elf itu akhirnya berhasil mengambilnya kembali.
Kemudian menatap rombongan.
Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Fiona tertawa.
“Dia malu.”
Darrien tersenyum.
“Sepertinya begitu.”
***
Mereka melanjutkan perjalanan.
Taman semakin luas.
Di tengahnya terdapat sebuah kolam kecil.
Airnya jernih.
Beberapa ikan kecil berenang di dalamnya.
Kristal-kristal kecil tumbuh di dasar kolam.
Ketika cahaya matahari menyentuh permukaannya—
seluruh kolam terlihat berkilauan.
Fiona berdiri di tepi kolam.
“Indah…”
Seraphine berdiri di sampingnya.
“Taman ini sudah ada jauh sebelum aku menjadi ratu.”
“Sudah selama itu?”
“Ya.”
Seraphine mengangguk.
“Banyak generasi kerajaan Lunaris yang tumbuh melihat taman ini.”
Fiona tersenyum.
“Berarti tempat ini memiliki banyak kenangan.”
“Benar.”
Seraphine menatap taman.
“Karena itu aku selalu menyukainya.”
Fiona mengangguk pelan.
Ia bisa memahami perasaan itu.
Beberapa tempat memang terasa lebih dari sekadar tempat.
Mereka menyimpan kehidupan.
Kenangan.
Dan cerita.
***
Tidak jauh dari mereka—
Elyon berdiri di bawah sebuah pohon.
Tatapannya sesekali mengarah kepada Fiona.
Kemudian kepada kristal-kristal kecil di taman.
Tidak ada reaksi aneh.
Tidak ada cahaya misterius.
Tidak ada apa pun.
Ia menghela napas.
“Bagus.”
Sylvester yang berdiri di sampingnya menoleh.
“Bagus?”
“Tidak ada yang terjadi.”
Sylvester tersenyum.
“Kau terdengar kecewa.”
“Tidak.”
“Sedikit?”
Elyon menatapnya.
“Tidak.”
Sylvester tertawa kecil.
***
Fiona kemudian kembali berjalan.
Salah satu elf kecil tiba-tiba terbang di dekatnya.
Kali ini—
ia membawa sebuah bunga kecil.
Elf itu menjatuhkannya perlahan ke tangan Fiona.
Fiona terkejut.
“Untukku?”
Elf tersebut mengangguk kecil.
Fiona tersenyum.
“Terima kasih.”
Elf itu kemudian terbang pergi.
Fiona melihat bunga kecil di tangannya.
Senyumnya semakin lebar.
Darrien memperhatikan dari belakang.
“Sepertinya mereka menyukaimu.”
Fiona memandangnya.
“Mungkin.”
Darrien tersenyum.
“Sepertinya Lunaris juga.”
Fiona menatap taman sekali lagi.
Bunga-bunga.
Kristal.
Elf kecil.
Angin lembut.
Dan cahaya matahari.
Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba—
Fiona benar-benar merasa santai.
Tidak memikirkan mimpi.
Tidak memikirkan ancaman.
Tidak memikirkan apa pun.
Ia hanya menikmati hari itu.
Sementara di atas mereka—
para elf kecil terus terbang di antara bunga-bunga.
Tertawa.
Bermain.
Dan menjaga taman Lunaris seperti yang telah mereka lakukan selama bertahun-tahun.
Hari itu terasa begitu damai.
Dan tidak seorang pun ingin terburu-buru meninggalkannya.
Share this novel