2. Dunia Yang Berbeda Sekitar Kita

Romance Series 94

Setahun telah berlalu sejak janji mereka di bawah pohon akasia.

Fiona kini berusia enam tahun, sementara Darrien telah menginjak delapan tahun. Mereka masih tinggal di panti asuhan sederhana di Akasia, menjalani hari-hari yang tenang dengan satu sama lain sebagai satu-satunya keluarga yang mereka miliki.

Namun semakin Darrien memperhatikan dunia di sekitar mereka, semakin ia menyadari bahwa Akasia tidak sesederhana yang terlihat.

Sore itu, setelah mengumpulkan kayu bakar di tepi hutan, mereka berjalan pulang melewati jalan kota. Fiona memperhatikan beberapa penduduk dengan rasa ingin tahu.

Ada seseorang dengan telinga sedikit lancip yang tersembunyi di balik rambut panjang. Sepasang mata yang memantulkan cahaya samar di dalam kedai yang gelap. Bahkan seorang pria bertubuh besar berjalan berdampingan dengan seekor binatang buas yang seharusnya membuat orang lain ketakutan.

Fiona menarik ujung baju Darrien.

“Darrien… kenapa orang-orang di sini berbeda-beda?”

Darrien ikut memperhatikan mereka.

“Orang-orang tua pernah bilang,” jawabnya, “Lunareth dihuni banyak bangsa. Manusia, peri, penyihir, bangsa binatang… bahkan kaum malam.”

“Kaum malam?”

Darrien mengangguk pelan.

“Mereka hidup bersama manusia. Tapi banyak yang menyembunyikan identitas mereka.”

Mata Fiona berbinar.

“Berarti kita mungkin pernah bertemu mereka tanpa mengetahuinya?”

“Mungkin.”

Darrien lalu menatap Fiona.

“Tapi siapa pun mereka, jangan takut. Selama aku ada, tidak akan ada yang menyakitimu.”

Fiona tersenyum kecil.

Namun hari itu, untuk pertama kalinya, Darrien menyadari bahwa bukan hanya dunia di sekitar mereka yang aneh.

Saat mereka sedang duduk di halaman panti, beberapa anak dari keluarga sekitar yang kebetulan melewati tempat itu berhenti di dekat pagar. Mereka mengenal Darrien dan Fiona sebagai anak-anak panti yang tidak memiliki keluarga maupun nama besar.

“Lihat, anak-anak panti itu lagi,” ejek salah satu dari mereka. “Kalian tidak punya rumah sendiri, ya?”

Beberapa anak lainnya tertawa.

Fiona menundukkan kepala. Darrien perlahan berdiri di hadapannya.

“Jangan ganggu dia.”

Suaranya tidak keras, tetapi tatapannya berubah tajam.

Entah mengapa, tawa anak-anak itu tiba-tiba terhenti.

Sesuatu yang dingin dan tak terlihat seolah memenuhi udara di sekitar Darrien. Anak-anak itu saling berpandangan, kemudian mundur dengan wajah pucat sebelum akhirnya berlari meninggalkan halaman panti.

Darrien sendiri hanya terdiam.

Ia tidak mengerti mengapa mereka begitu ketakutan.

Namun untuk sesaat, ia bisa merasakan sesuatu yang asing bergerak di dalam dirinya—dingin, kuat, dan anehnya terasa begitu alami.

Fiona menggenggam tangannya erat.

“Kau hebat sekali, Darrien.”

Darrien menoleh kepadanya.

“Suatu hari nanti, aku juga akan melindungimu,” lanjut Fiona dengan polos.

Darrien tersenyum tipis dan mengusap puncak kepala gadis kecil itu.

“Kau tidak perlu melindungiku.”

Ia menggenggam tangan Fiona.

“Cukup tetap di sisiku.”

Di kejauhan, matahari perlahan tenggelam di balik pepohonan Akasia.

Dan tanpa mereka sadari, sesuatu di dalam darah kedua anak itu mulai terbangun sedikit demi sedikit.

Sesuatu yang kelak akan mengubah hidup mereka selamanya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience