Series
94
BAB 85 — PERJALANAN TANPA NAMA
Mereka meninggalkan sungai sebelum matahari tenggelam.
Jalur yang dipilih Elarion semakin jauh dari kota.
Tidak ada rumah.
Tidak ada jalan besar.
Hanya hutan dan pegunungan di kejauhan.
Fiona berjalan perlahan.
Darrien tetap di sampingnya.
Namun kali ini Fiona tidak lagi terlihat seperti tawanan yang sedang melarikan diri.
Ia terlihat seperti seseorang yang akhirnya bisa memilih ke mana kakinya akan membawanya.
“Aku suka jalan ini,” katanya.
Darrien menoleh.
“Kenapa?”
“Tidak ada siapa-siapa.”
Darrien tersenyum.
“Bagus.”
Fiona memandangnya.
“Kau juga suka?”
“Kalau kau suka.”
Fiona tertawa kecil.
“Jawabanmu selalu begitu.”
“Karena memang begitu.”
---
Malam tiba.
Mereka membuat perkemahan kecil.
Kevin mengajari Darrien mengendalikan aliran sihirnya tanpa melepaskan aura terlalu jauh.
“Jangan biarkan emosimu mengendalikan kekuatanmu.”
Darrien mengangguk.
“Aku tahu.”
“Tidak.”
Kevin menatapnya.
“Kau belum tahu.”
Darrien terdiam.
Kevin menunjuk telapak tangannya.
“Bayangkan sihirmu seperti air.”
Darrien memusatkan energi.
“Kalau kau memaksanya…”
Bayangan hitam muncul.
“…ia akan menjadi badai.”
Darrien perlahan menenangkan napas.
Sihir itu mengecil.
“Dan kalau kau mengendalikannya…”
Bayangan tersebut berubah menjadi lapisan tipis di telapak tangannya.
Kevin mengangguk.
“Begitu.”
Darrien melihat tangannya.
“Aku akan belajar.”
“Bagus.”
Dari kejauhan, Fiona memperhatikan.
Kemudian ia tersenyum.
---
Beberapa saat kemudian—
Darrien kembali ke tempat Fiona duduk.
Fiona menatap tangannya.
“Kau semakin kuat.”
Darrien duduk.
“Aku harus.”
“Karena mereka?”
Darrien menggeleng.
“Karena aku.”
Fiona terdiam.
Darrien melanjutkan,
“Aku tidak ingin kekuatanku mengambil kendali lagi.”
Fiona menatapnya.
“Karena aku?”
“Karena aku hampir kehilangan diriku ketika mengira kau mati.”
Fiona perlahan menggenggam tangannya.
“Kalau begitu…”
Ia tersenyum.
“Jangan kehilangan dirimu lagi.”
Darrien menatapnya.
“Baik.”
---
Malam semakin dalam.
Semua orang tidur.
Namun Darrien masih terjaga.
Ia menggunakan sensing sekali lagi.
Tidak ada Ardika.
Tidak ada Varian.
Tidak ada aura asing.
Aman.
Untuk sementara.
Darrien akhirnya menutup mata.
Namun jauh di dalam hutan—
sebuah sosok berdiri di antara pepohonan.
Ia memandang perkemahan mereka.
Tidak mendekat.
Tidak menyerang.
Hanya menunggu.
Kemudian terdengar suara pelan.
“Belum waktunya.”
Sosok itu berbalik.
Dan menghilang.
---
Pagi berikutnya—
Fiona terbangun karena suara Darrien.
“Bangun.”
Ia membuka mata.
“Ada apa?”
Darrien menunjuk ke depan.
“Lihat.”
Fiona berdiri.
Di balik hutan—
sebuah kota besar terlihat.
Dinding kota menjulang tinggi.
Bendera-bendera berkibar.
Elarion membuka peta.
“Kita sudah sampai.”
Ace tersenyum.
“Wilayah aman.”
Kevin mengangguk.
Darrien melihat Fiona.
Fiona tersenyum.
Untuk pertama kalinya sejak diculik—
mereka benar-benar berhasil keluar dari wilayah Ardika.
Namun Darrien tidak tahu…
di kota itu, seseorang sudah menunggu mereka.
Dan kali ini—
bukan Ardika.
Bukan Varian.
Seseorang yang mengenal nama Darrien jauh sebelum Darrien sendiri mengetahui siapa dirinya.
Share this novel