299. Aura Yang Sebenarnya

Romance Series 382

BAB 299 — AURA YANG SEBENARNYA

Hutan yang sebelumnya dipenuhi suara pertempuran—

perlahan menjadi sunyi.

Bukan karena pertempuran telah berakhir.

Tetapi karena sesuatu yang jauh lebih berat mulai memenuhi udara.

Darrien masih berlutut.

Fiona berada dalam pelukannya.

Tubuh gadis itu masih tidak bergerak.

Elyon dan Elarion berdiri di dekatnya, masih berusaha mencari cara untuk menghentikan luka yang terus mengeluarkan darah.

Namun perhatian semua orang perlahan beralih kepada satu sosok.

Darrien.

Aura gelap yang mengelilinginya semakin pekat.

Tidak meledak.

Tidak liar.

Justru—

terlalu tenang.

Kevin yang sedang menghadapi Mufasa menghentikan gerakannya sejenak.

Matanya menyipit.

Ia mengenali perubahan itu.

Bukan sekadar peningkatan kekuatan.

Presence Darrien telah berubah.

Namun berbeda dari sebelumnya—

kali ini Darrien masih sadar sepenuhnya.

Masih mengendalikan dirinya.

Kevin menarik napas perlahan.

*Dia masih memegang kendali.*

Namun justru itulah yang membuatnya lebih mengkhawatirkan.

***

Kaguya masih berdiri beberapa meter jauhnya.

Ia bahkan belum sepenuhnya pulih dari keterkejutannya.

Gerakan Darrien sebelumnya—

terlalu cepat.

Dalam satu kedipan, pria itu telah meninggalkan pertarungan dan muncul di sisi Fiona.

Kaguya belum pernah melihat perpindahan seperti itu.

Namun sekarang—

sesuatu yang jauh lebih dalam mulai muncul.

Kaguya menatap Darrien.

“Aura itu…”

Mufasa juga memperhatikan.

Untuk pertama kalinya—

keduanya tidak berkata apa-apa.

Mereka hanya mengamati.

***

Giselle justru tertawa kecil.

Ia berdiri tidak jauh dari Mufasa.

“Jadi?”

Tatapannya tertuju kepada Darrien.

“Begitu pentingnya gadis itu bagimu?”

Darrien tidak menjawab.

Ia masih menunduk.

Satu tangannya menopang tubuh Fiona.

Tangannya yang lain perlahan menggenggam kain di punggungnya.

Giselle tersenyum.

“Menarik.”

Mufasa meliriknya.

“Giselle.”

Namun Giselle tidak berhenti.

Ia merasa telah berhasil.

Gadis itu terluka.

Penguatan telah hilang.

Dan sekarang Darrien berdiri dalam keadaan emosional.

Menurutnya—

ini adalah saat yang tepat untuk menekan lebih jauh.

“Bukankah seharusnya kau berterima kasih?”

Darrien perlahan mengangkat kepala.

Tatapannya kosong.

Giselle berhenti tertawa sesaat.

Namun kemudian ia kembali tersenyum.

“Kalau aku tidak membawanya ke sini…”

Ia menunjuk Fiona.

“…kau tidak akan pernah datang.”

Darrien menatapnya.

Tidak ada jawaban.

Tidak ada kemarahan yang terlihat.

Hanya—

tatapan dingin.

Kemudian suaranya terdengar.

Rendah.

Tenang.

“Siapa yang melakukan ini?”

Hutan kembali sunyi.

Giselle terdiam.

Mufasa menoleh kepadanya.

Kaguya juga memperhatikan.

Pertanyaan itu sederhana.

Namun entah mengapa—

membuat udara terasa jauh lebih berat.

Giselle akhirnya tersenyum.

“Aku.”

Ia mengangkat dagunya.

“Aku yang menyerangnya.”

Beberapa detik berlalu.

Darrien menatapnya.

Kemudian—

ia mengangguk kecil.

“Begitu.”

Tidak ada teriakan.

Tidak ada ancaman.

Tidak ada mantra.

Giselle bahkan sempat mengerutkan kening.

“Kenapa?”

Darrien tidak menjawab.

Ia hanya mengangkat satu tangannya.

***

Tidak ada lingkaran sihir.

Tidak ada cahaya.

Tidak ada kata-kata kuno.

Tidak ada mantra.

Hanya—

kegelapan.

Dark Magic muncul dari telapak tangan Darrien.

Tipis.

Padat.

Begitu pekat hingga cahaya bulan di sekitarnya terasa seperti ditelan.

Giselle langsung merasakan bahaya.

Senyumnya menghilang.

“Apa—”

Satu gelombang dark magic melesat.

Tidak terdengar.

Tidak terlihat jelas.

Hanya sebuah bayangan yang melewati udara.

Kemudian—

Giselle berhenti bergerak.

Matanya melebar.

Tubuhnya kehilangan kekuatan dalam sekejap.

Tidak ada kesempatan untuk menghindar.

Tidak ada kesempatan untuk melawan.

Tidak ada kesempatan untuk berteriak.

Tubuhnya perlahan runtuh.

Dan dalam satu serangan—

keberadaan Giselle lenyap.

Hening.

***

Mufasa membeku.

Kaguya juga tidak bergerak.

Mereka menatap tempat Giselle sebelumnya berdiri.

Tidak ada apa-apa.

Mufasa perlahan mengepalkan tangannya.

“Apa…”

Kaguya tidak menjawab.

Ia masih menatap Darrien.

Sekarang ia mengerti.

Aura yang selama berbulan-bulan mereka cari—

bukan sekadar aura dark magic yang kuat.

Mereka bahkan belum menyentuh kedalamannya.

Yang mereka rasakan di medan perang sebelumnya—

hanya sebagian kecil.

Sangat kecil.

Kaguya menelan ludah.

*Jadi ini…*

*Aura yang sebenarnya.*

Mufasa juga mulai memahami hal yang sama.

Tatapannya berubah.

Untuk pertama kalinya sejak mereka membawa Fiona ke sini—

tidak ada keyakinan di wajahnya.

Hanya kewaspadaan.

Dan mungkin—

sedikit penyesalan.

Mereka telah mencari pemilik aura itu selama berbulan-bulan.

Mereka akhirnya menemukan orangnya.

Mereka membawa umpan untuk memancingnya keluar.

Mereka bahkan melukai gadis yang dicintainya—

demi memaksanya menunjukkan kekuatan.

Namun sekarang—

Kaguya menyadari kesalahan terbesar mereka.

Mereka mengira—

**mereka sedang memburu pemilik aura.**

Padahal mungkin—

sejak awal,

mereka hanya sedang membangunkan sesuatu

yang seharusnya tidak mereka ganggu.

***

Darrien tidak memperhatikan mereka.

Ia kembali menatap Fiona.

Aura gelap masih mengalir dari tubuhnya.

Namun tangannya tetap lembut ketika merapikan rambut Fiona yang berantakan.

“Fiona…”

Suaranya hampir seperti bisikan.

Tidak ada jawaban.

Darrien memejamkan mata sejenak.

Kemudian membukanya kembali.

Dan kali ini—

tatapannya berubah sepenuhnya.

Kaguya menatapnya dari kejauhan.

Untuk pertama kalinya malam itu—

ia tidak yakin apakah keinginannya untuk membalas kematian Koga masih merupakan keputusan yang benar.

Karena sekarang—

ia mulai bertanya-tanya.

**Siapa sebenarnya yang sedang memburu siapa?**

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience