461. Hari- Hari Sang Raja

Romance Completed 594

BAB 461 — HARI-HARI SANG RAJA

Beberapa minggu telah berlalu sejak kekacauan kecil yang disebabkan oleh Veyth.

Bagi Shadowcresent—

keadaan kembali normal.

Para penjaga kembali menjalankan tugas mereka.

Para penyihir vampir kembali menjaga wilayah.

Hutan kembali sunyi.

Dan istana kembali tenang.

Namun bagi Mufasa...

ada satu hal yang berubah cukup jelas.

Rajanya.

Mufasa berdiri di salah satu koridor istana sambil membawa beberapa laporan.

Dari kejauhan, ia melihat Raizen berjalan melewati aula.

Dan seperti biasa—

Fiona ada di sampingnya.

Tangan mereka saling bertaut.

Mufasa berhenti.

Ia sudah melihat pemandangan seperti itu berkali-kali dalam beberapa minggu terakhir.

Namun tetap saja...

kadang ia masih merasa aneh.

Dulu, Raizen bisa menghabiskan waktu berhari-hari tanpa berbicara dengan siapa pun.

Sekarang?

"Fiona, kau ingin pergi ke taman?"

"Sudah."

"Kalau begitu ke perpustakaan?"

"Sudah juga."

"Air terjun?"

"Kita baru kembali dari sana."

Raizen terdiam.

Fiona menatapnya.

"Kau kehabisan tempat?"

"Belum."

Mufasa yang kebetulan lewat menahan napas.

*Belum?*

Ia menatap punggung mereka.

*Seberapa banyak tempat yang sebenarnya dimiliki Raja?*

---

Mufasa melanjutkan pekerjaannya.

Setidaknya mencoba.

Karena beberapa jam kemudian—

ia kembali melihat mereka.

Kali ini di taman.

Fiona duduk di bawah pohon sambil membaca.

Raizen duduk di sampingnya.

Tidak melakukan apa pun.

Hanya duduk.

Mufasa mengernyit.

Itu saja?

Namun setelah beberapa saat, Fiona menutup bukunya dan bersandar pada bahu Raizen.

Raizen langsung menggeser posisinya sedikit agar Fiona lebih nyaman.

Tidak ada percakapan.

Tidak ada sihir.

Tidak ada sesuatu yang luar biasa.

Hanya gerakan kecil.

Mufasa terdiam.

Ia mengingat Raizen yang dulu.

Raja yang hidup selama ribuan tahun.

Raja yang hampir tidak pernah membutuhkan siapa pun.

Raja yang selalu terlihat seolah dunia tidak memiliki sesuatu yang cukup menarik untuk membuatnya berhenti.

Sekarang...

sebuah gerakan kecil dari Fiona saja sudah cukup membuat ekspresinya berubah.

Mufasa tersenyum tipis.

"Yang Mulia benar-benar berubah."

---

Hari berikutnya—

Mufasa sedang memeriksa penjagaan bagian timur ketika seorang penjaga datang.

"Lord Mufasa."

"Ada apa?"

"Yang Mulia meminta beberapa persiapan."

Mufasa mengangkat alis.

"Persiapan apa?"

Penjaga memberikan daftar.

Mufasa membacanya.

Kemudian membaca sekali lagi.

"Buah?"

"Ya."

"Teh?"

"Ya."

"Kain?"

"Ya."

Mufasa menatap penjaga itu.

"Untuk apa?"

Penjaga mengangkat bahu.

"Yang Mulia tidak menjelaskan."

Mufasa menghela napas.

"Baik."

---

Beberapa jam kemudian—

Mufasa akhirnya mengetahui jawabannya.

Raizen membawa Fiona keluar dari istana.

Kali ini menuju mata air panas di wilayah Shadowcresent.

Mufasa tidak ikut.

Ia hanya melihat dari kejauhan ketika keduanya menghilang di antara pepohonan.

Salah satu penjaga berdiri di sampingnya.

"Haruskah kita mengikuti?"

Mufasa langsung menggeleng.

"Tidak."

"Bagaimana jika—"

"Yang Mulia sendiri yang membawanya."

Mufasa menatap arah mereka pergi.

"Dan jika sesuatu terjadi..."

Ia tersenyum kecil.

"...aku yakin yang akan lebih dulu kehilangan kesabaran adalah Yang Mulia."

Penjaga itu terdiam.

"Benar juga."

---

Sore hari—

Raizen dan Fiona kembali.

Fiona terlihat sangat puas.

Mufasa yang sedang berdiri di aula memperhatikan mereka.

Fiona tersenyum.

"Tempatnya bagus sekali."

"Aku tahu."

"Kenapa kau tidak pernah membawaku ke sana sebelumnya?"

Raizen berpikir sebentar.

"Karena aku belum terpikir."

Fiona tertawa.

"Kau punya ribuan tahun untuk memikirkan tempat-tempat seperti itu."

"Dan sekarang aku punya alasan untuk mengingatnya."

Mufasa yang berdiri tidak jauh dari sana:

...

Ia pura-pura tidak mendengar.

---

Hari-hari terus berlalu.

Dan Mufasa mulai menyadari sebuah pola.

Raizen tidak lagi hanya membawa Fiona ke tempat-tempat indah.

Ia mulai mencari hal-hal yang mungkin disukai Fiona.

Makanan baru.

Teh baru.

Tempat baru.

Bunga baru.

Bahkan beberapa buku yang menurutnya mungkin menarik.

Kadang Fiona menyukainya.

Kadang tidak.

Kadang Fiona hanya tertawa.

Kadang ia mengeluh karena Raizen memilih makanan yang terlalu manis.

Dan anehnya—

Raizen tidak pernah terlihat terganggu.

Justru sebaliknya.

Ia tampak menikmati semua reaksi itu.

Mufasa mengamati dari kejauhan.

Ada sesuatu yang berbeda dalam diri rajanya.

Bukan hanya karena Fiona berada di sisinya.

Raizen sekarang benar-benar menikmati kehidupan sehari-hari.

Hal-hal kecil.

Hal-hal sederhana.

Hal-hal yang dahulu mungkin tidak pernah dianggap penting.

---

Suatu malam—

Mufasa sedang menyelesaikan laporan ketika ia mendengar suara langkah.

Raizen muncul dari ujung koridor.

Sendirian.

Mufasa berdiri.

"Yang Mulia."

Raizen mengangguk.

"Bagaimana keadaan wilayah?"

"Tenang."

"Veyth?"

"Belum ada tanda-tanda."

Raizen mengangguk.

Kemudian hendak pergi.

Namun Mufasa memperhatikan ekspresinya.

Tenang.

Tidak tegang.

Tidak seperti beberapa minggu lalu.

Mufasa akhirnya bertanya,

"Yang Mulia."

Raizen berhenti.

"Ya?"

"Apakah Anda tidak khawatir mereka akan kembali?"

Raizen diam beberapa saat.

"Tentu."

Mufasa sedikit terkejut.

Namun Raizen melanjutkan,

"Tapi hari ini mereka tidak ada di sini."

Ia menoleh ke arah kamar Fiona.

"Jadi aku akan menikmati hari ini."

Mufasa terdiam.

Raizen berjalan pergi.

Mufasa memperhatikannya sampai sosok itu menghilang di balik koridor.

Kemudian ia menghela napas.

"Setidaknya..."

Ia tersenyum kecil.

"...Yang Mulia akhirnya belajar menikmati hidup."

Mufasa kembali ke mejanya.

Namun sebelum duduk—

ia berhenti.

Mengingat sesuatu.

Hot spring.

Taman.

Air terjun.

Makan malam.

Perpustakaan.

Balkon.

Dan sekarang entah berapa banyak tempat lain yang akan mereka datangi.

Mufasa menatap tumpukan laporan di tangannya.

"Sepertinya aku harus menyiapkan lebih banyak persediaan."

Ia menghela napas panjang.

"Raja yang kesepian ternyata jauh lebih mudah dilayani."

Mufasa menatap pintu kamar Raizen.

"Raja yang sedang jatuh cinta..."

Ia menggeleng.

"...jauh lebih merepotkan."

Namun senyum kecil tetap muncul di wajahnya.

Karena untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama—

Shadowcresent tidak hanya memiliki seorang raja yang memerintah.

Mereka memiliki seorang raja yang benar-benar menikmati hari-harinya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience