486. Dimensi Yang Telah Berubah

Romance Completed 594

BAB 486 — DIMENSI YANG TERUS BERUBAH

DUARRRR!

Ledakan sihir mengguncang seluruh dimensi.

Gelombang energi menyapu ruang kelabu itu hingga batu-batu raksasa yang melayang di udara ikut bergetar.

Puluhan lingkaran sihir kuno berputar di atas kepala mereka.

Bayangan hitam terus bermunculan dari segala arah.

Dan di tengah kekacauan itu—

Darrien justru tertawa kecil.

"Kevin!"

"Hm?"

"Yang sebelah kanan."

Kevin menoleh.

Seekor makhluk bayangan berukuran hampir tiga kali tubuh manusia sedang menerjang ke arah mereka.

Kevin tersenyum.

"Yang besar?"

"Yang besar."

"Baik."

Kevin mengangkat kedua tangannya.

DUARR!

Dua lapisan sihir menghantam makhluk itu dari samping.

Tubuh bayangan tersebut terpental.

Darrien langsung melesat.

WHOOOSH!

Dalam sekejap, ia sudah berada di atas makhluk itu.

Tangannya mengepal.

Magicure hitam pekat berputar di sekitar lengannya.

"Jatuh."

BOOM!

Pukulannya menghantam.

Makhluk itu menghantam lantai dimensi.

Retakan energi menyebar ke segala arah.

Namun beberapa detik kemudian—

tubuhnya kembali bergerak.

Kevin tertawa.

"Masih hidup."

Darrien berdiri.

"Aku tahu."

"Jadi?"

Darrien memutar bahunya.

"Kita ulangi."

Kevin langsung tersenyum lebih lebar.

"Setuju."

Mereka berdua kembali menyerbu.

Di sisi lain—

"JANGAN HANCURKAN YANG ITU!"

Elyon berteriak.

Terlambat.

DUARR!

Sebuah pilar kuno yang baru saja diperiksa Elarion hancur setelah terkena serangan makhluk bayangan.

Elarion menoleh tajam.

"Elyon!"

"Aku tidak sengaja!"

"Kau menghancurkan benda yang sedang kuteliti!"

"Aku sedang menyelamatkan nyawaku!"

"Itu bukan alasan!"

"Menurutku itu alasan yang sangat bagus!"

Elarion menghela napas.

Namun kemudian wajahnya berubah serius.

Ia melihat pecahan pilar di tanah.

"Tunggu."

Elyon berhenti.

"Apa?"

Elarion berlutut.

Ia menyentuh salah satu pecahan batu.

Energi kuno masih mengalir di dalamnya.

"Bukan pilarnya."

Elyon mendekat.

"Jadi?"

"Ini hanya terminal."

Elyon mengangkat alis.

"Terminal?"

"Ya."

Elarion menunjuk retakan energi yang menyebar dari pilar.

"Perhatikan alirannya."

Elyon memperhatikan.

Energi dari pilar tidak mengalir keluar.

Energi justru mengalir ke dalam ruang.

Seolah-olah seluruh pilar hanya menerima perintah dari sesuatu yang jauh lebih besar.

Elyon menyipitkan mata.

"Jadi pilar-pilar ini bukan pengendali?"

"Kurasa tidak."

Elarion berdiri.

"Mereka bagian dari jaringan."

Elyon tersenyum tipis.

"Kalau begitu kita tidak perlu menghancurkan semua pilar."

"Kita hanya perlu menemukan pintunya."

Elarion menatapnya.

"Pintu?"

"Setiap dimensi pasti punya jalan keluar."

"Belum tentu."

Elyon menunjuk ke sekeliling.

"Kalau tidak ada pintu, kita akan membuatnya."

Elarion terdiam.

Kemudian ia tersenyum kecil.

"Baik."

Keduanya mulai bergerak.

Mereka tidak lagi fokus menyerang makhluk bayangan.

Mereka mengamati.

Setiap perubahan lantai.

Setiap gerakan batu.

Setiap lingkaran sihir.

Setiap perubahan tekanan magicure.

"Di sini!"

Elyon tiba-tiba mengangkat tangan.

Elarion datang.

Sebuah garis tipis berwarna perak muncul di udara.

Hampir tidak terlihat.

Elyon menyentuhnya.

Garis itu langsung menghilang.

"...Bukan."

Elarion menghela napas.

"Dimensinya menyembunyikan jalurnya."

Elyon melihat sekeliling.

"Kalau begitu kita paksa dia menunjukkannya."

Sebuah ledakan terjadi di belakang mereka.

DUARR!

Keduanya menoleh.

Darrien dan Kevin sedang dikejar oleh belasan makhluk bayangan.

Ace berlari di belakang mereka.

"KENAPA MEREKA MENGEJAR AKU JUGA?!"

Rowan menjawab tenang.

"Karena kau berlari."

"AKU BERLARI KARENA MEREKA MENGEJAR!"

"Benar."

"JANGAN SETUJU DENGAN AKU!"

Elyon memijat pelipisnya.

"Tim kita benar-benar luar biasa."

Elarion mengangguk.

"Dalam cara yang sangat aneh."

Tiba-tiba—

WHOOOOM!

Seluruh dimensi bergetar.

Semua orang berhenti.

Darrien menoleh ke atas.

Lingkaran sihir yang sebelumnya berwarna merah kini berubah menjadi biru gelap.

Kevin langsung menyadarinya.

"Berubah lagi."

Darrien melihat sekeliling.

"Jangan menyerang dulu."

Kevin mengangguk.

Namun sebelum mereka sempat melakukan apa pun—

lantai menghilang.

"Apa—?!"

Semua tubuh mereka jatuh.

DUARR!

Mereka mendarat di permukaan batu yang sama sekali berbeda.

Kali ini—

mereka berada di sebuah kota kosong.

Bangunan-bangunan batu berdiri di segala arah.

Lorong sempit terbentang di antara gedung.

Lampu-lampu sihir tua menyala redup.

Dan di ujung jalan—

terdapat sebuah pintu besar.

Semua orang terdiam.

Ace menunjuk.

"...Pintu."

Elyon tersenyum.

"Bagus."

Elarion langsung berjalan.

"Jangan terburu-buru."

Darrien mengamati pintu itu.

"Perangkap?"

Kevin mengangguk.

"Seratus persen."

Ace menghela napas.

"Kenapa aku merasa kita akan masuk juga?"

Rowan menjawab datar.

"Karena kita memang akan masuk."

Ace menatapnya.

"...Aku benci kalian."

Darrien berjalan mendekati pintu.

Namun—

DUK.

Sebuah suara terdengar dari baliknya.

Semua langsung berhenti.

DUK.

Sekali lagi.

Seolah-olah seseorang sedang mengetuk dari dalam.

Elyon menatap Elarion.

"Ada sesuatu di balik pintu."

Elarion mengangguk.

"Atau sesuatu ingin kita percaya begitu."

Darrien mengepalkan tangan.

Magicure mulai berkumpul.

"Kalau begitu..."

Ia menatap pintu itu.

"...kita buka."

Namun sebelum Darrien bergerak—

pintu tersebut menghilang.

Ace:

"..."

Kevin:

"..."

Elyon:

"..."

Elarion memejamkan mata.

"Dimensinya mempermainkan kita."

Darrien tertawa kecil.

"Bagus."

Tatapannya menjadi tajam.

"Berarti kita semakin dekat."

***

Di ruang pengawasan Shadowcresent—

Mufasa melihat perubahan dimensi melalui kristal besar.

Beberapa penyihir vampir berdiri di sekelilingnya.

"Mereka menemukan pintu?"

Seorang penyihir mengangguk.

"Ya."

Mufasa tersenyum tipis.

"Bagus."

Ia mengangkat tangan.

"Ubah sektor tujuh."

Para penyihir langsung bergerak.

Lingkaran sihir menyala.

"Putar jalur utara."

"Baik."

"Alihkan tekanan ruang ke sektor sembilan."

"Baik."

"Dan aktifkan kabut bayangan."

Seorang magic-vampire menoleh.

"Apakah tidak terlalu banyak?"

Mufasa menatap kristal.

Di dalamnya, Darrien dan Kevin kembali bertarung.

Elarion dan Elyon terus mencari jalan.

Ace sedang berteriak.

Rowan tetap tenang.

Mufasa menghela napas.

"Belum."

Ia menyilangkan tangannya.

"Mereka masih terlalu nyaman."

Salah satu penyihir tersenyum.

"Karena mereka belum tahu seluruh dimensi sedang bergerak melawan mereka."

Mufasa menatap kristal lebih lama.

"Jangan beri mereka jalan lurus."

"Jika mereka menemukan pola..."

"ubah."

"Jika mereka menemukan pintu..."

"pindahkan."

"Jika mereka menghancurkan perangkap..."

"buat perangkap baru."

Mufasa berhenti.

Kemudian berkata dengan suara rendah—

"Tarik mereka semakin dalam."

"Namun jangan biarkan mereka mencapai jalur menuju istana."

Para penyihir mengangguk.

"Ya, Tuan."

Mufasa kembali menatap Darrien.

Magicure pria itu terus meningkat.

Namun Mufasa tidak terlihat takut.

Ia hanya menghela napas.

"Sepertinya mereka benar-benar berniat datang sampai akhir."

***

Jauh di dalam Shadowcresent—

di bawah pohon besar dekat danau—

Raizen duduk dengan tenang.

Fiona tertidur di dalam pelukannya.

Kepalanya bersandar di dada Raizen.

Satu tangan Raizen melingkari tubuhnya.

Tangan lainnya mengusap rambut Fiona perlahan.

Dari kejauhan, suara angin malam bergerak melewati pepohonan.

Raizen menatap langit.

Ia bisa merasakan getaran samar dari pertahanan Shadowcresent.

Veyth masih berada di gunung.

Masih bertarung.

Masih mencari jalan.

Masih tidak menyerah.

Raizen menunduk melihat Fiona.

Wajahnya langsung menjadi lebih lembut.

Ia menarik Fiona sedikit lebih dekat.

"Kenapa mereka tidak menyerah saja..."

Bisikannya terdengar seperti keluhan kecil.

Fiona tidak menjawab.

Ia hanya bergerak sedikit dalam tidurnya.

Raizen segera menyesuaikan pelukannya agar Fiona tetap nyaman.

"Sudah cukup lama."

Ia menatap wajah Fiona.

"Seharusnya mereka sudah lelah."

Raizen menghela napas.

Ia tidak ingin perang.

Tidak malam ini.

Tidak ketika Fiona berada dalam pelukannya.

Ia hanya ingin hari-hari tenang mereka terus berlangsung.

"...Jangan datang lagi."

Suaranya rendah.

"Berhentilah mencari jalan."

Raizen menutup matanya sesaat.

Kemudian mencium lembut rambut Fiona.

"Aku hanya ingin kau tetap di sini."

Fiona bergerak kecil.

Raizen langsung membuka mata.

Namun Fiona tidak bangun.

Ia hanya semakin mendekat ke dadanya.

Raizen tersenyum kecil.

Tangannya kembali mengusap rambutnya.

"Setidaknya..."

Ia menatap ke arah pegunungan Shadowcresent.

"...biarkan mereka menyerah sebelum mencapai istana."

Di kejauhan—

BOOM!

Ledakan besar terdengar dari dalam dimensi.

Raizen terdiam.

Kemudian menghela napas panjang.

"...Mereka benar-benar tidak mau menyerah."

Pelukannya pada Fiona semakin erat.

Sementara di dalam gunung—

perang terus berlangsung.

Dan dimensi Shadowcresent...

terus berubah.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience