338. Kunjungan Mendadak

Romance Series 390

BAB 338 — KUNJUNGAN MENDADAK

POV FIONA

Keesokan harinya—

Fiona akhirnya menyadari satu hal.

Ia tidak bisa terus seperti ini.

Sejak kejadian di Crystal Hall—

ia hampir selalu menghindari orang-orang.

Dan setiap kali mengingat bagaimana dirinya memeluk Darrien di depan semua orang…

wajahnya kembali memerah.

Fiona menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Kenapa aku masih malu…”

Ia menghela napas panjang.

“Aku sudah hidup lebih dari dua ribu lima ratus tahun…”

Ia menatap langit.

“Aku pernah menghadapi perang.”

Ia mengangkat satu jari.

“Pernah menggunakan Forbidden Magic.”

Jari kedua.

“Pernah menunggu seseorang selama ribuan tahun.”

Kemudian ia terdiam.

“Tapi dipeluk Darrien di depan orang lain…”

Wajahnya kembali merah.

“…malah membuatku ingin menghilang.”

Fiona menghela napas.

“Tidak.”

Ia menepuk kedua pipinya pelan.

“Aku tidak boleh terus begini.”

Ia membutuhkan sesuatu untuk mengalihkan pikirannya.

Sesuatu yang penting.

Sesuatu yang bisa membuatnya fokus pada hal lain.

Kemudian sebuah pikiran muncul.

Veyth.

Fiona perlahan menurunkan tangannya.

“Veyth…”

Ia teringat Edward dan Gloria.

Mereka telah melihat seluruh kenangan tentang Darrien.

Mereka juga telah mengetahui bagaimana dirinya membawa Darrien pergi saat masih kecil.

Tentu saja—

mereka membutuhkan penjelasan secara langsung.

Fiona menatap jauh.

“Mereka juga berhak mendengarnya dariku.”

Ia memejamkan mata.

Kemudian menggunakan kemampuan sensing-nya.

Energi sihir menyebar perlahan.

Menembus jarak.

Mencari dua aura yang sudah ia kenal.

Beberapa detik kemudian—

Fiona membuka mata.

“Aku menemukannya.”

Ia terdiam.

“Kalau mereka datang ke Lunaris…”

Fiona menggeleng.

“Tidak.”

Ia tersenyum kecil.

“Lebih baik aku yang datang.”

Dengan begitu—

ia tidak perlu kembali ke istana dulu.

Dan mungkin…

ia juga tidak perlu bertemu Darrien untuk sementara waktu.

Fiona mengangguk pada dirinya sendiri.

“Ya.”

“Ini keputusan yang sangat bagus.”

Namun entah kenapa—

jauh di dalam hatinya—

ia merasa dirinya hanya sedang mencari alasan lain untuk kabur.

Fiona menghela napas.

“Setidaknya kali ini aku punya alasan yang masuk akal.”

Cahaya Silver Leaf mulai muncul di sekeliling tubuhnya.

Dalam sekejap—

**WHOOSH!**

Fiona menghilang.

***

DI VEYTH

Edward dan Gloria masih berada di ruang pribadi kerajaan.

Sejak kejadian di Crystal Hall—

keduanya terus membicarakan perjalanan mereka ke Lunaris.

Mereka harus kembali.

Bukan hanya karena ingin berbicara dengan Darrien.

Namun juga karena masih ada terlalu banyak hal yang belum mereka pahami.

Gloria duduk sambil memegang secangkir teh.

“Kita harus berangkat secepatnya.”

Edward mengangguk.

“Aku setuju.”

“Namun…”

Gloria menunduk.

“…aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Fiona.”

Edward terdiam.

Mereka telah melihat semuanya.

Bagaimana Fiona kehilangan Darrien.

Bagaimana ia menunggu.

Bagaimana ia menjaga jiwanya.

Bagaimana ia mengambil Darrien ketika masih kecil.

Sebagai orang tua—

hal itu tetap sulit diterima.

Namun sebagai seseorang yang melihat seluruh penderitaan Fiona—

mereka juga tidak bisa begitu saja menyalahkannya.

Edward menghela napas.

“Aku juga tidak tahu.”

Gloria menatapnya.

“Yang paling membuatku sulit menerima…”

Ia berhenti.

“…adalah kenyataan bahwa Darrien hidup bersama kita selama tujuh tahun.”

Edward mengangguk.

“Dan kemudian dia menghilang.”

“Tanpa kami mengetahui alasannya.”

Keduanya terdiam.

Kemudian Gloria berkata,

“Setidaknya sekarang kita tahu.”

Edward menatapnya.

“Ya.”

“Mungkin…”

Gloria tersenyum tipis.

“…kita harus mendengarnya langsung dari Fiona.”

Edward mengangguk.

“Kita akan pergi ke Lunaris hari ini.”

Namun tepat saat ia selesai berbicara—

**TING!**

Sebuah cahaya muncul di tengah ruangan.

Edward langsung berdiri.

Gloria juga bangkit.

Lingkaran sihir Silver Leaf perlahan terbentuk.

Cahaya putih keperakan memenuhi ruangan.

Edward menyipitkan mata.

“Siapa—”

**WHOOSH!**

Seseorang muncul di tengah lingkaran.

Fiona.

Namun kali ini—

ekspresinya terlihat sangat…

canggung.

Edward dan Gloria membeku.

Fiona juga membeku.

Mereka saling menatap.

Beberapa detik berlalu.

Tidak ada yang berbicara.

Fiona akhirnya mengangkat tangannya sedikit.

“…Hai.”

Edward:

“…”

Gloria:

“…”

Fiona tersenyum kaku.

“Aku datang untuk berbicara.”

Gloria berkedip.

“Kau…”

Ia melihat lingkaran Silver Leaf yang masih samar.

“…datang sendiri?”

Fiona mengangguk.

“Ya.”

Edward mengerutkan kening.

“Tanpa pengawal?”

“Ya.”

“Tanpa pemberitahuan?”

Fiona terdiam.

“…Ya.”

Edward menghela napas.

Gloria justru tersenyum kecil.

“Sepertinya kau memang benar-benar ingin berbicara.”

Fiona mengangguk.

“Aku pikir kalian membutuhkan penjelasan.”

Edward dan Gloria saling memandang.

Kemudian Edward menunjuk kursi.

“Silakan duduk.”

Fiona berjalan perlahan.

Ia duduk.

Namun kedua tangannya terus menggenggam ujung pakaiannya.

Gloria memperhatikannya.

“Kau terlihat gugup.”

Fiona langsung menjawab,

“Aku tidak gugup.”

Edward mengangkat alis.

Fiona menunduk.

“…Sedikit.”

Gloria tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya—

suasana di antara mereka tidak terasa terlalu berat.

Fiona menarik napas.

“Aku ingin meminta maaf.”

Edward terdiam.

“Aku tahu apa yang kulakukan kepada kalian tidak mudah diterima.”

Ia menatap keduanya.

“Aku mengambil Darrien.”

Gloria tidak menjawab.

Fiona melanjutkan,

“Aku tidak akan mencari alasan untuk membenarkannya.”

Ia menunduk.

“Aku hanya…”

Suaranya melemah.

“…takut kehilangan dia untuk kedua kalinya.”

Gloria menatap Fiona.

“Dan kau menunggu selama ribuan tahun.”

Fiona mengangguk.

“Ya.”

Edward perlahan duduk kembali.

“Aku masih memiliki banyak pertanyaan.”

“Aku tahu.”

“Dan beberapa di antaranya mungkin tidak mudah untuk kau jawab.”

Fiona tersenyum kecil.

“Aku akan mencoba.”

Gloria menggenggam cangkirnya.

“Kalau begitu…”

Ia menatap Fiona.

“Ceritakan kepada kami.”

Fiona menarik napas panjang.

Untuk sesaat—

ia memejamkan mata.

Kemudian membukanya kembali.

“Aku akan menceritakan semuanya.”

Namun kali ini—

tidak ada cermin.

Tidak ada sihir.

Tidak ada cara untuk menghindari percakapan.

Hanya Fiona—

Edward—

dan Gloria.

Dan untuk pertama kalinya—

Fiona harus menghadapi orang tua Darrien secara langsung.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience