88. Potret Yang Terlupakan

Romance Series 94

BAB 88
POTRET YANG TERLUPAKAN

Keesokan paginya, mereka meninggalkan kediaman Rowan.

Arsip kerajaan lama berada di bagian tua kota, tersembunyi di balik sebuah bangunan administrasi yang sudah lama tidak digunakan.

Begitu pintunya dibuka, bau debu dan kertas tua memenuhi udara.

Rak-rak tinggi memenuhi ruangan.

Gulungan dokumen dan buku-buku kuno tersusun di sepanjang dinding.

Darrien melihat sekeliling.

“Tempat ini benar-benar tua.”

“Karena sebagian besar catatan kerajaan disimpan di sini,” jawab Rowan.

Kevin dan Ace segera mulai mencari.

Elarion tetap berada di dekat Fiona.

Darrien mengikuti Rowan menuju bagian terdalam arsip.

“Apa yang kita cari?”

“Catatan tentang pewaris yang hilang.”

Darrien terdiam.

Ia masih belum tahu apa yang harus ia rasakan.

Sejak menemukan lambang itu kemarin, pikirannya terus dipenuhi pertanyaan.

Apakah benar dirinya pernah menjadi bagian dari keluarga kerajaan?

Atau semua ini hanya kebetulan?

***

Beberapa saat kemudian, Ace menemukan sebuah gulungan tua.

“Kevin.”

Kevin segera mendekat.

“Apa?”

Ace menunjukkan tanggal di bagian luar.

“Ini dibuat pada tahun ketika pewaris menghilang.”

Kevin membuka gulungan itu.

Mereka membacanya bersama.

Darrien ikut mendekat.

“Apa isinya?”

“Serangan terhadap istana,” jawab Kevin.

Darrien mengerutkan kening.

“Serangan?”

“Ya.”

Kevin menunjuk bagian tertentu.

“Pada malam itu, pewaris kerajaan menghilang.”

“Dan mereka tidak menemukannya?”

“Tidak.”

Darrien menatap catatan tersebut.

“Berapa lama mereka mencarinya?”

“Bertahun-tahun.”

Darrien terdiam.

***

Rowan tiba-tiba berhenti di depan sebuah lemari kayu tua.

“Ada sesuatu yang mungkin lebih berguna.”

Ia membuka pintunya.

Di dalamnya terdapat beberapa gulungan besar.

Rowan mengambil salah satunya.

Ia membawanya ke meja.

Kemudian membukanya.

Sebuah potret keluarga kerajaan terbentang di hadapan mereka.

Seorang raja.

Seorang ratu.

Dan seorang anak laki-laki kecil.

Darrien berhenti.

Namun ekspresinya tidak berubah.

Fiona menatap potret itu.

Kemudian menatap Darrien.

Ada sesuatu yang aneh.

Anak dalam potret itu…

tidak memiliki wajah manusia biasa.

Telinganya sedikit meruncing.

Garis wajahnya lebih halus.

Matanya memiliki bentuk yang berbeda.

Rambutnya panjang dan jatuh melewati bahunya.

Ia terlihat seperti seorang elf.

Fiona kembali melihat Darrien.

Kemudian potret itu.

“Darrien…”

Darrien mengerutkan kening.

“Apa?”

Fiona menunjuk potret.

“Dia…”

Darrien melihatnya.

Kemudian tertawa kecil.

“Jelas bukan aku.”

Ia menunjuk wajahnya sendiri.

“Aku manusia.”

Ace tidak tertawa.

Kevin juga tidak.

Mereka justru memperhatikan wajah Darrien lebih lama.

Darrien menyadarinya.

“Apa?”

Kevin melangkah mendekat.

“Jangan bergerak.”

Darrien mengerutkan kening.

“Apa lagi?”

Kevin mengangkat tangannya.

“Wajahmu.”

Darrien menyentuh pipinya.

“Ada apa?”

Ace mendekat.

“Lihat.”

Darrien menoleh ke arah cermin tua yang berada di sisi ruangan.

Ia terdiam.

Wajah yang selama ini ia kenal sebagai wajahnya sendiri…

terlihat sedikit berbeda.

Sangat sedikit.

Hampir tidak terlihat.

Namun di sepanjang garis rahangnya terdapat retakan tipis seperti permukaan kaca.

Darrien menyentuhnya.

Tidak ada luka.

Tidak ada darah.

Namun ketika jarinya melewati bagian itu—

bayangan wajah lain terlihat sesaat.

Lebih tajam.

Lebih halus.

Dan—

telinganya tampak sedikit lebih panjang.

Darrien langsung menarik tangannya.

“Apa itu?”

Elarion mendekat.

Ia memperhatikan wajah Darrien.

“Jangan gunakan sihirmu.”

“Aku tidak menggunakannya.”

“Justru itu masalahnya.”

Kevin menatap wajahnya dengan serius.

“Penghalang yang menyembunyikan wajah aslimu mulai retak.”

Darrien membeku.

“Wajah asli?”

Kevin mengangguk.

“Setelah ledakan kekuatanmu di lembah…”

Ia berhenti.

“Tubuhmu mengalami perubahan.”

Darrien kembali melihat cermin.

Retakan itu perlahan menghilang.

Wajah manusia itu kembali sempurna.

Namun kini ia tahu—

ada sesuatu di baliknya.

Sesuatu yang selama ini disembunyikan.

Fiona menatapnya.

“Jadi…”

Ia kembali melihat potret.

“…mungkin itu alasan wajahmu berbeda.”

Darrien tidak menjawab.

Ia menatap anak elf dalam potret.

Kemudian menatap bayangannya sendiri.

Untuk pertama kalinya…

ia tidak merasa bahwa wajah itu sepenuhnya asing.

Bukan karena ia mengingatnya.

Tetapi karena sesuatu di dalam dirinya…

seolah mengenalinya.

***

Ace kembali melihat potret.

Kemudian melihat Darrien.

“Kevin.”

Kevin mengangguk.

“Aku melihatnya.”

“Selama ini wajahnya memang bukan wajah asli.”

“Sepertinya begitu.”

Darrien menatap mereka.

“Kalian tahu?”

Kevin menggeleng.

“Tidak.”

“Lalu kenapa kalian tidak pernah mengatakan apa-apa?”

“Karena kami sendiri tidak tahu apa yang tersembunyi di baliknya.”

Ace menunjuk potret.

“Sekarang kita punya sesuatu untuk dibandingkan.”

Darrien mendekat.

Ia melihat lebih teliti.

Bentuk mata anak elf itu.

Garis wajah.

Rambut.

Bahkan tanda kecil di dekat telinga.

Semuanya terasa…

aneh.

Familiar.

Kemudian—

kepalanya tiba-tiba berdenyut.

Sebuah kilatan muncul.

Sebuah ruangan besar.

Suara seorang wanita.

Tangan kecilnya sendiri.

Kemudian suara lembut yang memanggil—

“Darrien…”

Darrien tersentak.

Fiona segera memegang lengannya.

“Darrien!”

Ia menarik napas.

“Aku melihat sesuatu.”

“Apa?”

“Seorang wanita.”

Darrien menatap potret.

“Dan aku rasa…”

Ia menyentuh dadanya.

“…aku pernah berada di tempat itu.”

Ruangan menjadi sunyi.

Kevin menatap potret.

Ace menatap Darrien.

Kali ini, mereka tidak lagi hanya memiliki sebuah lambang.

Mereka memiliki reaksi sihir.

Catatan sejarah.

Potret seorang pewaris elf.

Dan seorang anak laki-laki yang selama ini menyembunyikan wajah aslinya di balik sebuah penghalang.

Namun belum ada jawaban mutlak.

Belum.

Darrien menatap potret itu.

“Aku ingin tahu siapa anak itu.”

Rowan menjawab pelan,

“Mungkin…”

Ia menatap Darrien.

“…kau sudah tahu jawabannya.”

Darrien tidak membalas.

Ia hanya melihat pantulan wajahnya di cermin.

Wajah manusia itu masih ada.

Namun untuk sesaat—

sebuah telinga runcing terlihat di balik rambutnya.

Lalu menghilang lagi.

Dan Darrien akhirnya sadar.

**Wajah yang selama ini ia kenal sebagai dirinya sendiri… mungkin hanyalah sebuah penyamaran.**

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience