Series
382
BAB 321 — AKU AKAN MENCERITAKANNYA
Crystal Hall kembali sunyi.
Tidak ada lagi suara detak.
Tidak ada lagi cahaya besar.
Hanya Fiona, Darrien, Elyon, Elarion, Sylvester, Ace, Rowan, dan Kevin yang masih berada di dalam ruangan.
Semua mata tertuju kepada Fiona.
Terutama kepada sepasang anting Silver Leaf yang kini menghiasi telinganya.
Namun—
tidak seorang pun berbicara.
Elyon membuka mulut.
Kemudian menutupnya kembali.
Elarion ingin bertanya.
Namun ia juga mengurungkan niatnya.
Sylvester hanya berdiri diam.
Ace melirik Rowan.
Rowan melirik Kevin.
Kevin tetap diam.
Tidak ada seorang pun yang ingin menjadi orang pertama yang bertanya.
Fiona memperhatikan mereka semua.
Ia tahu.
Mereka penasaran.
Sangat penasaran.
Dan ia tidak bisa menyalahkan mereka.
Setelah apa yang baru saja terjadi—
tidak mungkin mereka akan membiarkannya pergi tanpa penjelasan.
Fiona menghela napas pelan.
*Cepat sekali…*
Ia baru saja mengingat kehidupan lamanya.
Baru saja bertemu kembali dengan masa lalu yang telah terkubur selama ribuan tahun.
Dan sekarang—
semuanya sudah hampir terbuka.
Ia memang tahu bahwa rahasianya suatu hari akan terbongkar.
Namun—
ia tidak pernah membayangkan akan secepat ini.
Fiona akhirnya menatap mereka satu per satu.
“Aku akan memberitahu kalian.”
Semua langsung memperhatikannya.
Elyon sedikit mengangkat alis.
Fiona melanjutkan,
“Apa pun yang ingin kalian ketahui…”
Ia berhenti sebentar.
“…akan aku ceritakan.”
Ace hampir langsung bertanya.
Namun Fiona mengangkat tangannya.
“Tapi…”
Ia menghela napas.
“Biarkan aku beristirahat terlebih dahulu.”
Semua terdiam.
Fiona menyentuh pelipisnya.
“Aku perlu waktu untuk berpikir.”
“Untuk memikirkan…”
Ia menatap mereka.
“…bagaimana aku harus menceritakan semuanya.”
Tidak ada yang menyela.
Karena mereka semua bisa melihat—
Fiona benar-benar membutuhkan waktu.
Elarion mengangguk perlahan.
“Baik.”
Elyon juga mengangguk.
“Kami akan menunggu.”
Fiona tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Ia kemudian berbalik.
Mulai berjalan menuju pintu Crystal Hall.
Darrien segera mengikutinya.
“Fiona.”
Fiona berhenti.
Ia menoleh sedikit.
“Jangan ikut.”
Darrien terdiam.
“Aku hanya ingin memastikan kau—”
“Aku baik-baik saja.”
“Tapi…”
Fiona tersenyum kecil.
“Darrien.”
Ia menatapnya.
“Percayalah padaku.”
Darrien terdiam.
Kemudian mengangguk.
“Baik.”
Fiona kembali berjalan.
Namun baru beberapa langkah—
Darrien bergerak lagi.
Seolah-olah nalurinya masih ingin memastikan Fiona benar-benar aman.
Dan saat itulah—
**WHOOM!**
Sebuah gelombang sihir muncul.
Tidak ada mantra.
Tidak ada lingkaran sihir.
Tidak ada gerakan tangan.
Bahkan Fiona tidak perlu menoleh.
Sebuah penghalang transparan langsung muncul di antara mereka.
Darrien berhenti.
Matanya membesar.
“…”
Ace juga terdiam.
Rowan menatap penghalang itu.
Kevin menyipitkan mata.
Elarion mengamati struktur sihirnya.
Elyon—
bahkan terlihat sedikit terkejut.
Fiona tetap berjalan.
Tidak menoleh.
Tidak mengatakan apa pun.
Penghalang itu tetap berada di tempatnya.
Darrien menyentuh permukaannya.
Tidak bergerak.
Ia menghela napas.
“Fiona…”
Dari kejauhan, suara Fiona terdengar.
“Aku bilang aku baik-baik saja.”
Kemudian—
ia terus berjalan.
Penghalang itu menghilang setelah Fiona cukup jauh.
Pintu Crystal Hall perlahan tertutup di belakangnya.
**KLIK.**
Sunyi.
***
Ace akhirnya membuka mulut.
“…”
Ia melihat Elyon.
“Kalian semua melihat itu, kan?”
Rowan mengangguk.
“Ya.”
Ace menunjuk pintu.
“Dia bahkan tidak menoleh.”
Kevin berkata datar,
“Tidak perlu.”
Elarion masih memikirkan sihir tadi.
“Kontrolnya sangat presisi.”
Elyon mengangguk.
“Dan tidak ada chanting.”
Sylvester menatap pintu yang baru saja dilalui Fiona.
“Bahkan tanpa gerakan.”
Elyon menghela napas.
“Ya.”
Ace menggaruk kepalanya.
“Jadi…”
Ia melihat yang lain.
“…kita sekarang punya lebih banyak pertanyaan daripada sebelumnya.”
Rowan tertawa kecil.
“Jauh lebih banyak.”
Kevin mengangguk.
“Dan kita belum mendapatkan satu jawaban pun.”
Elarion menutup bukunya.
“Setidaknya dia berjanji akan menjelaskan.”
Elyon menatap pintu.
“Benar.”
Ia kemudian berbalik kepada Sylvester.
“Kita harus melaporkan ini.”
Sylvester mengangguk.
“Secepatnya.”
Mereka berdua tahu—
apa yang baru saja terjadi di Crystal Hall bukan sesuatu yang bisa disimpan begitu saja.
Mereka harus memberitahu King Zeith dan Queen Seraphine.
Tentang Crystal Hall.
Tentang kristal yang menghilang.
Tentang Silver Leaf.
Dan terutama—
tentang perubahan kekuatan Fiona.
***
Elyon menghela napas panjang.
“Sepertinya hari ini belum selesai.”
Ace langsung mengeluh.
“Padahal aku pikir setelah makan siang semuanya akan tenang.”
Rowan tertawa.
“Harapanmu terlalu tinggi.”
Kevin menggeleng.
Elarion hanya tersenyum tipis.
Sylvester melihat sekali lagi ke arah Crystal Hall.
“Dan aku merasa…”
Ia berhenti.
“Ini baru permulaan.”
Tidak ada yang membantahnya.
Karena jauh di dalam hati—
mereka semua merasakan hal yang sama.
Rahasia Fiona akan segera terbuka.
Hanya saja—
mereka belum tahu seberapa besar rahasia itu.
Share this novel