Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 473 — SUARA YANG SEMAKIN FAMILIAR
Malam terasa begitu tenang.
Di hadapan Fiona terbentang sebuah danau luas yang permukaannya memantulkan cahaya bulan.
Langit dipenuhi bintang.
Bulan purnama menggantung tinggi, menerangi air dengan cahaya keperakan.
Angin malam berembus perlahan melewati tubuhnya.
Lembut.
Dingin.
Namun anehnya...
terasa familiar.
Fiona berdiri diam di tepi danau.
Ia mengerutkan kening.
Pemandangan ini...
lagi.
Entah sudah berapa kali ia melihat tempat yang sama dalam mimpinya akhir-akhir ini.
Danau.
Bulan.
Bintang.
Angin malam.
Semuanya terasa terlalu nyata untuk sekadar mimpi biasa.
"Kenapa aku ada di sini... lagi?"
Bisiknya pelan kepada dirinya sendiri.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara angin yang melewati rerumputan.
Fiona memeluk kedua lengannya sendiri ketika hawa dingin semakin terasa.
Lalu tiba-tiba—
sesuatu yang hangat menyentuh bahunya.
Sebuah jaket berbulu lembut diletakkan dari belakang, menutupi tubuhnya.
Fiona sedikit terkejut.
Sebelum ia sempat menoleh, sesuatu yang lebih lembut menutupi kepalanya.
Sebuah hoodie tebal.
Bagian depannya jatuh sedikit ke wajahnya, membuat pandangannya tertutup.
Kemudian...
sepasang lengan melingkari tubuhnya dari belakang.
Hangat.
Nyaman.
Fiona terdiam.
Untuk sesaat, ia tidak merasa takut.
Justru sebaliknya.
Ada rasa tenang yang aneh.
Seolah tubuhnya mengenali pelukan itu meskipun pikirannya tidak.
Suara seorang pria terdengar dekat telinganya.
"Sudah malam dan dingin."
Nada suaranya lembut.
"Jangan sampai kau demam."
Pelukan itu sedikit mengerat.
"Jangan membuatku khawatir."
Fiona berkedip.
Raizen?
Ia hampir mengucapkan namanya.
Namun...
tidak.
Suaranya berbeda.
Jauh berbeda.
Dan suara itu...
sama seperti suara yang muncul dalam mimpinya sebelumnya.
Suara yang entah bagaimana selalu membuat dadanya terasa hangat.
Fiona membuka mulut.
"Terima—"
Namun kata itu berhenti.
Pria di belakangnya hanya mengusap kepalanya melalui hoodie.
"Selamat malam."
Ia melepaskan pelukannya perlahan.
"Jaga dirimu."
Langkah kaki terdengar menjauh.
Fiona membeku.
Entah kenapa...
jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat.
Ia segera menarik hoodie dari wajahnya dan berbalik.
"Tunggu!"
Namun sosok itu sudah berjalan semakin jauh.
Hanya siluetnya yang terlihat di bawah cahaya bulan.
Fiona berdiri di tempat.
Tangannya mengepal kecil.
Perasaan kehilangan yang aneh tiba-tiba memenuhi dadanya.
Seolah seseorang yang sangat penting sedang meninggalkannya.
"Siapa kau...?"
Suaranya bergetar.
Sosok itu tidak berhenti.
"Siapa kau...?"
Fiona menatap punggungnya semakin jauh.
Namun sebelum ia sempat mengejarnya—
semuanya berubah menjadi putih.
Shadowcresent.
Sudah dua hari.
Fiona belum membuka matanya selama dua hari penuh.
Raizen masih berada di sisinya.
Ia hampir tidak meninggalkan kamar.
Ia tahu para penyembuh sudah memastikan bahwa Fiona tidak berada dalam kondisi berbahaya.
Namun tetap saja...
dua hari tanpa mendengar suara Fiona terasa jauh lebih lama daripada yang seharusnya.
Raizen tidak terbiasa dengan itu.
Biasanya ada suara langkah kecil Fiona.
Keluhan tentang makanan.
Pertanyaan-pertanyaan aneh.
Tawa.
Atau sekadar suara Fiona memanggil namanya.
Sekarang...
tidak ada apa-apa.
Hanya keheningan.
Raizen duduk di sisi tempat tidur, matanya terus memperhatikan wajah Fiona.
Kemudian—
jari Fiona bergerak.
Raizen langsung mengangkat kepalanya.
Bulu mata Fiona bergetar perlahan.
Matanya akhirnya terbuka.
"...Rai...zen..."
Suara itu sangat lemah.
Namun bagi Raizen—
itu adalah suara paling melegakan yang ia dengar selama dua hari terakhir.
"Fiona."
Ia segera mendekat.
Fiona mengerjapkan mata beberapa kali.
Kepalanya masih terasa berat.
Tenggorokannya kering.
"...Air..."
Raizen langsung mengambil gelas yang sudah disiapkan di meja.
Ia membantu Fiona duduk perlahan dengan menyandarkan tubuhnya pada sandaran tempat tidur.
"Pelan-pelan."
Ia menyodorkan gelas kepadanya.
Fiona meminumnya sedikit demi sedikit.
Setelah itu Raizen memberikan satu porsi eliksir kepada Fiona.
"Minum ini juga."
Fiona menatap cairan itu sebentar.
Wajahnya masih lelah.
Namun akhirnya ia menerima botol kecil tersebut.
Sementara Fiona meminumnya, Raizen hanya diam memperhatikannya.
Dua hari.
Hanya dua hari.
Namun ternyata...
ia benar-benar tidak menyukai dunia ketika suara Fiona tidak terdengar di dalamnya.
Setelah Fiona selesai minum, ia bersandar kembali.
Raizen mengusap rambutnya perlahan.
"Bagaimana perasaanmu?"
Fiona memejamkan mata sebentar.
"Masih pusing..."
Kemudian ia membuka mata lagi.
"...tapi lebih baik."
Raizen menghela napas lega.
Tangannya tetap berada di rambut Fiona.
"Bagus."
Fiona menatapnya beberapa detik.
Lalu tiba-tiba...
keningnya berkerut.
Raizen menyadarinya.
"Ada apa?"
Fiona terdiam.
Pemandangan danau tadi masih samar di pikirannya.
Suara itu.
Pelukan itu.
Dan sosok yang berjalan menjauh.
Namun semuanya mulai menghilang dari ingatannya seperti kabut.
"Aku..."
Fiona menggeleng pelan.
"Sepertinya aku bermimpi lagi."
Raizen diam.
"Mimpi apa?"
Fiona menatapnya.
Untuk beberapa detik, ia hampir menceritakannya.
Namun entah kenapa...
ia tidak bisa mengingat wajah pria itu.
Hanya suaranya.
Dan perasaan hangat yang ditinggalkannya.
"Danau."
Ia tersenyum kecil.
"Mimpi tentang danau lagi."
Raizen mengusap kepalanya.
"Kalau begitu jangan dipikirkan dulu."
Fiona mengangguk pelan.
Ia kemudian kembali menyandarkan kepalanya.
Tanpa menyadari bahwa jauh di dalam dirinya...
ada sesuatu yang perlahan mulai mengetuk pintu yang selama ini tertutup.
Dan kali ini—
suara itu semakin jelas.
