294. Kebebasan Yang Terlambat

Romance Series 382

BAB 294 — KEBEBASAN YANG TERLAMBAT

Kandang sihir itu masih bergetar.

Fiona berdiri di dalamnya, sementara Elyon berada di luar kandang, terus mengamati pola energi yang mengalir di sepanjang jeruji.

“Sekarang.”

Fiona mengangkat tangannya.

Cahaya tipis mengalir mengikuti jalur yang telah mereka pelajari sebelumnya.

Elyon segera mengubah arah aliran sihir.

“Bagus. Pertahankan.”

Satu simbol padam.

Kemudian simbol kedua.

Cahaya pada inti kandang mulai melemah.

Fiona menahan napas.

“Sekarang?”

“Belum.”

Elyon mengamati pola terakhir.

“Sedikit lagi.”

Fiona menggertakkan gigi.

Ia tidak memaksakan kekuatannya.

Ia mengikuti setiap arahan Elyon dengan hati-hati.

Kandang itu bergetar semakin keras.

KRRRK…

Kemudian—

KRAAK!

Salah satu bagian jeruji kehilangan cahaya.

Elyon langsung berkata,

“Sekarang.”

Fiona mendorong bagian yang telah melemah.

Tidak ada perlawanan.

Ia melangkah keluar.

Untuk beberapa detik—

Fiona hanya berdiri diam.

Bebas.

Ia melihat kedua tangannya.

Kemudian menatap Elyon.

“Kita berhasil.”

Elyon mengangguk.

“Ya.”

Fiona tersenyum lega.

Namun—

BOOM!

Sebuah ledakan terdengar dari kejauhan.

Senyumnya langsung menghilang.

Elyon berdiri di depannya.

“Jangan jauh dariku.”

Fiona mengangguk.

Baru sekarang ia menyadari bahwa keluar dari kandang bukan berarti bahaya telah berakhir.

Justru sebaliknya.

***

Tidak jauh dari sana—

Kevin masih berhadapan dengan Giselle dan Mufasa.

Serangan datang dari dua arah.

Kevin menangkis satu serangan.

Menghindari serangan berikutnya.

CLANG!

Mufasa langsung menerjang.

Kevin memutar tubuh dan menahan serangan tersebut.

Tanah di bawah kakinya retak.

Kevin mundur beberapa langkah.

“Lumayan kuat.”

Giselle tersenyum.

“Baru menyadarinya?”

Kevin mengangkat senjatanya.

“Aku hanya sedang mengukur.”

Giselle kembali menyerang.

Kevin segera menyambutnya.

Ia tidak mengetahui bagaimana kekuatan mereka dibandingkan dengan vampire yang pernah dihadapi rombongan Darrien sebelumnya.

Baginya—

kedua lawan ini hanya memiliki satu kesimpulan.

**Mereka sangat kuat.**

Dan itu sudah cukup.

***

Di sisi lain—

Darrien dan Kaguya masih bertarung.

CLANG!

Serangan mereka kembali bertemu.

Darrien melompat mundur.

Kaguya mengikuti.

Darrien menghindari serangan berikutnya dan membalas dengan tendangan.

Kaguya menahannya.

Keduanya kembali terpisah.

Kaguya menatap Darrien dengan tatapan penuh perhitungan.

Namun Darrien merasakan sesuatu yang berbeda.

Aura Kaguya.

Berat.

Pekat.

Dan jauh lebih terkontrol.

Darrien langsung teringat pada pertempuran di Waterfall Valley.

Aura vampire yang ia rasakan sekarang—

berbeda.

Jauh berbeda.

*Ini bukan level yang sama.*

Darrien tidak mengatakan apa pun.

Namun kewaspadaannya meningkat.

***

Tidak jauh dari sana—

Elyon juga merasakan hal yang sama.

Saat salah satu vampire menyerangnya, ia langsung mengenali tekanan energi tersebut.

Matanya menyipit.

“Aura ini…”

Ia pernah merasakan aura vampire sebelumnya.

Di Waterfall Valley.

Namun yang sekarang—

berbeda.

Lebih kuat.

Lebih padat.

Dan jauh lebih berbahaya.

Elyon memperkuat pertahanannya.

“Fiona, tetap di belakangku.”

Fiona mengangguk.

“Aku tahu.”

Salah satu vampire kembali menerjang.

Elyon mengangkat tangannya.

BOOM!

Serangan sihir menghentikan lawannya.

Namun vampire itu hanya mundur beberapa langkah.

Elyon terdiam sesaat.

*Benar.*

*Jauh berbeda dari mereka yang ada di Waterfall Valley.*

***

Elarion juga menyadarinya.

Ia menangkis serangan lawannya.

Kemudian mengamati aura vampire tersebut.

Ekspresinya berubah.

“Ini…”

Ia mengenalinya.

Bukan dari wajah.

Bukan dari teknik.

Tetapi dari tekanan aura.

Ia pernah merasakan aura vampire di Waterfall Valley.

Dan yang sekarang—

berbeda.

Lebih kuat.

Elarion menghela napas.

“Jadi mereka memang bukan kelompok yang sama.”

Vampire di hadapannya kembali menyerang.

Elarion menghindar.

“Semakin merepotkan.”

Ia kemudian mengangkat tangannya.

Sihir meledak.

BOOM!

***

Sementara itu—

Ace dan Rowan masih bertarung di sisi lain.

Keduanya tidak memiliki pengalaman langsung dengan pertempuran di Waterfall Valley.

Namun mereka tidak membutuhkan perbandingan untuk mengetahui bahwa lawan mereka bukan musuh biasa.

Ace menahan satu serangan.

“Cepat juga.”

Rowan menghindari serangan lainnya.

“Dan kuat.”

Ace tersenyum.

“Berarti kita harus lebih serius.”

Rowan mengangguk.

Mereka kembali maju.

***

Kembali ke sisi Fiona—

Elyon masih berdiri di depannya.

Fiona memandang medan perang.

Darrien masih bertarung.

Kevin masih menahan dua vampire.

Ace dan Rowan menghadapi lawan mereka masing-masing.

Elarion juga masih bertarung.

Namun tidak satu pun dari mereka mundur.

Fiona menggenggam tangannya.

“Aku sudah bebas.”

Elyon menoleh.

“Ya.”

Fiona menarik napas.

“Kalau begitu…”

Tatapannya berubah.

“…aku juga harus membantu.”

Elyon langsung menatapnya.

“Jangan terburu-buru.”

Fiona terdiam.

Ia kemudian mengangguk.

“Baik.”

Untuk saat ini—

ia tetap berada di belakang Elyon.

Karena meskipun kandangnya telah berhasil dibuka—

Fiona tahu sesuatu yang penting.

Musuh yang mereka hadapi malam ini—

bukan vampire biasa.

Dan tiga orang yang pernah merasakan aura di Waterfall Valley sudah mengetahui hal itu.

Namun mereka belum mengetahui—

seberapa jauh kekuatan sebenarnya dari lawan mereka.

Pertarungan masih berlangsung.

Dan belum ada seorang pun—

yang menunjukkan kekuatan penuh mereka.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience