Series
94
BAB 44
DUA KEKUATAN, SATU KENDALI
Hari ketiga latihan bersama Kevin dimulai lebih pagi.
Darrien berdiri di tengah halaman dengan wajah mengantuk.
Kevin sudah menunggu.
“Pagi.”
“Pagi…”
“Siap?”
Darrien menghela napas.
“Sepertinya aku tidak punya pilihan.”
Kevin mengangguk.
“Benar.”
Fiona yang baru keluar dari rumah langsung tertawa.
Darrien menatapnya.
“Jangan tertawa.”
“Aku tidak tertawa.”
“Kau tertawa.”
Fiona segera menutup mulut.
Kevin meletakkan dua kristal di tanah.
“Hari ini berbeda.”
Darrien memperhatikan.
“Apa yang harus kulakukan?”
“Bekerja bersama Fiona.”
Fiona menunjuk dirinya sendiri.
“Aku?”
“Ya.”
Darrien mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Kevin menatap mereka berdua.
“Karena kekuatan kalian berbeda.”
Ia menunjuk kristal pertama.
“Darrien, gunakan sihirmu untuk membekukan bagian luar.”
Kemudian ia menunjuk kristal kedua.
“Fiona, gunakan cahayamu untuk menjaga bagian dalam tetap stabil.”
Fiona mengangguk.
“Kedengarannya mudah.”
Kevin menatapnya.
“Tidak.”
Fiona langsung diam.
Darrien hampir tertawa.
“Sekarang kalian boleh mulai.”
Darrien mengangkat tangannya.
Hawa dingin muncul.
Es perlahan menyelimuti kristal.
Fiona mengulurkan tangan.
Cahaya keemasan mengalir ke dalam kristal.
Awalnya semuanya berjalan baik.
Namun beberapa detik kemudian—
**Krek.**
Kristal bergetar.
Fiona terkejut.
“Darrien!”
“Aku tidak melakukan apa-apa!”
“Cahayanya terlalu kuat,” kata Kevin.
Fiona segera mengurangi kekuatannya.
Kristal kembali stabil.
Kevin mengangguk.
“Sekali lagi.”
Mereka mengulanginya.
Kali kedua lebih baik.
Ketiga juga.
Keempat—
**Krek!**
Darrien menatap Fiona.
“Kau terlalu banyak.”
Fiona membalas.
“Kau yang terlalu dingin!”
“Memangnya aku bisa mengatur suhu?”
“Kau penyihir es!”
“Itu bukan berarti—”
“Diam.”
Kevin menghela napas.
“Berhenti bertengkar.”
Keduanya langsung diam.
Kevin menunjuk kristal.
“Masalah kalian bukan kekuatan.”
“Masalah kalian adalah kalian mencoba mengendalikan semuanya sendiri.”
Darrien dan Fiona saling memandang.
Kevin melanjutkan.
“Darrien.”
“Ya?”
“Percayakan bagian dalam kepada Fiona.”
Kemudian ia menatap Fiona.
“Dan kau percayakan bagian luar kepada Darrien.”
Fiona mengangguk.
Darrien menarik napas.
Mereka mencoba lagi.
Kali ini tidak ada yang berusaha mengambil alih.
Darrien mengendalikan es.
Fiona mengendalikan cahaya.
Dua kekuatan berbeda bergerak bersama.
Kristal tersebut perlahan berubah.
Lapisan es biru mengelilinginya.
Cahaya keemasan berputar di bagian dalam.
Tidak ada retakan.
Tidak ada ledakan.
Kevin mengangguk.
“Bagus.”
Fiona tersenyum.
“Kita berhasil!”
Darrien ikut tersenyum.
“Kali ini benar-benar berhasil.”
Kevin mengambil kristal tersebut.
“Cukup untuk hari ini.”
Darrien langsung duduk.
“Syukurlah.”
Fiona ikut duduk di sampingnya.
“Aku lapar.”
Darrien menoleh.
“Aku juga.”
Kevin menatap keduanya.
“Kalian boleh makan setelah membersihkan halaman.”
Darrien langsung menatapnya.
“Guru…”
“Bersihkan.”
Fiona menahan tawa.
Darrien menghela napas.
“Baik.”
Mereka mulai membersihkan halaman.
Dari balik pepohonan, Ace memperhatikan.
Ia tersenyum kecil.
Bukan hanya karena Darrien berkembang.
Tetapi karena sesuatu yang lain.
Darrien dan Fiona memiliki sinkronisasi sihir yang tidak biasa.
Seolah-olah mereka sudah terbiasa memahami gerakan satu sama lain bahkan tanpa berbicara.
Ace menyimpan pengamatan itu dalam pikirannya.
Malam nanti, ia akan melaporkannya kepada Edward.
Sementara itu, Darrien dan Fiona masih sibuk berdebat tentang siapa yang harus membawa ember.
Tidak ada yang menyadari…
bahwa kerja sama kecil yang mereka pelajari hari itu mungkin suatu saat akan menjadi salah satu kekuatan terbesar mereka.
Share this novel