254. Hadiah Dari Masa Lalu

Romance Series 382

BAB 254

Darrien masih memegang benda itu.

Sebuah benda yang tampaknya sederhana—

namun cukup untuk membuat suasana di ruangan berubah.

Ia menatap ayahnya.

“Apa ini?”

Edward tidak langsung menjawab.

Ia justru berjalan mendekat.

Gloria berdiri di sampingnya.

Fiona ikut memperhatikan dari dekat.

Edward akhirnya berkata,

“Dulu…”

Ia menyentuh bagian permukaan benda tersebut.

“…aku dan ibumu menyiapkannya untukmu.”

Darrien menatapnya lagi.

“Untukku?”

“Ya.”

Edward mengangguk.

“Ketika kau masih kecil.”

Darrien terdiam.

Ia mencoba membayangkan dirinya sebagai seorang anak.

Namun—

tidak ada gambaran yang muncul.

Hanya kehampaan.

Ia menghela napas kecil.

“Aku tidak ingat.”

Gloria tersenyum lembut.

“Kami tahu.”

Ia menyentuh bahu Darrien.

“Itu sebabnya kami tidak memintamu untuk mengingatnya.”

Darrien menatap ibunya.

***

Fiona memperhatikan benda itu.

“Jadi ini…”

“Hadiah dari masa kecilmu.”

Edward mengangguk.

“Lebih tepatnya, sesuatu yang kami ingin berikan ketika kau cukup besar untuk menggunakannya.”

Darrien melihat benda tersebut.

“Dan sekarang?”

“Sekarang kau sudah cukup besar.”

Fiona tersenyum.

“Berarti akhirnya sampai juga.”

Edward tertawa kecil.

“Setelah bertahun-tahun.”

Darrien menggenggamnya lebih erat.

Ada sesuatu yang hangat muncul di dadanya.

Bukan ingatan.

Bukan gambaran masa lalu.

Hanya—

perasaan.

Perasaan bahwa benda ini memang pernah menjadi miliknya.

***

Darrien kemudian bertanya,

“Kenapa kalian menyimpannya selama ini?”

Gloria tersenyum.

“Karena kami tidak tahu kapan kau akan kembali.”

Darrien terdiam.

Edward menjawab,

“Setiap tahun kami tetap menyimpan barang-barang yang seharusnya menjadi milikmu.”

“Bahkan ketika kami mulai berpikir…”

Ia berhenti.

Gloria melanjutkan dengan lembut,

“…bahwa mungkin kau tidak akan pernah kembali.”

Ruangan menjadi sunyi.

Fiona menatap mereka.

Darrien menundukkan kepalanya.

“Ayah.”

Edward menatapnya.

“Terima kasih.”

Edward tersenyum.

“Tidak perlu.”

Ia menepuk bahu Darrien.

“Kau sudah kembali.”

***

Fiona kemudian bertanya,

“Kalau begitu…”

Ia menunjuk tumpukan kotak lain.

“Apakah semuanya punya cerita seperti ini?”

Edward melihat ke sekeliling.

“Sebagian.”

Fiona menghela napas.

“Sebagian?”

Gloria tertawa kecil.

“Jangan khawatir.”

Ia berjalan menuju salah satu kotak.

“Yang lain jauh lebih sederhana.”

Fiona mengangguk.

“Syukurlah.”

Darrien tersenyum.

“Aku juga lega.”

***

Gloria membuka sebuah kotak kecil.

Di dalamnya terdapat beberapa aksesori kerajaan.

Tidak terlalu besar.

Tidak terlalu mencolok.

Namun semuanya dibuat dengan sangat rapi.

Darrien memperhatikannya.

“Ini untukku?”

“Ya.”

Gloria mengambil salah satunya.

“Yang ini untuk digunakan pada acara resmi.”

Darrien melihatnya.

“Berarti aku harus memakai semua ini?”

Edward tertawa.

“Tidak sekaligus.”

Fiona tersenyum.

“Sayang sekali.”

Darrien menatapnya.

“Kau ingin melihatku seperti pohon Natal?”

Fiona menahan tawa.

“Mungkin sedikit.”

Gloria ikut tertawa.

***

Mereka kemudian membuka beberapa kotak lainnya.

Sebagian berisi pakaian.

Sebagian berupa perlengkapan resmi.

Ada pula beberapa barang pribadi yang telah disimpan keluarga kerajaan selama bertahun-tahun.

Tidak semuanya memiliki cerita luar biasa.

Sebagian hanya—

barang yang dibeli oleh seorang ibu untuk anaknya.

Barang yang dipilih seorang ayah karena merasa anaknya akan menyukainya.

Hal-hal kecil.

Hal-hal sederhana.

Namun justru itulah yang membuat Darrien semakin terdiam.

Karena semua benda itu membuktikan satu hal.

Meskipun ia tidak berada di Veyth—

kedua orang tuanya tetap mempersiapkan tempat untuknya.

***

Fiona memperhatikan Darrien.

“Kau baik-baik saja?”

Darrien mengangguk.

“Ya.”

Ia tersenyum kecil.

“Hanya…”

“Apa?”

“Rasanya aneh.”

Fiona menunggu.

“Memiliki begitu banyak barang yang bahkan tidak kuingat pernah kumiliki.”

Fiona tersenyum.

“Kalau begitu…”

Ia menunjuk kotak di depannya.

“Kau bisa mulai membuat kenangan baru dengan barang-barang itu.”

Darrien menatapnya.

Kemudian tersenyum.

“Benar.”

***

Edward memperhatikan keduanya.

Senyumnya semakin lebar.

“Kalau begitu…”

Ia menunjuk beberapa kotak terakhir.

“Masih ada yang belum dibuka.”

Darrien langsung menghela napas.

“Masih?”

Gloria tertawa.

“Banyak.”

Fiona menatap Darrien.

Darrien menatap Fiona.

Keduanya sama-sama terlihat lelah.

Namun akhirnya—

mereka tetap mendekati kotak berikutnya.

***

Satu demi satu hadiah dibuka.

Pagi perlahan berubah menjadi siang.

Cahaya matahari bergerak melewati jendela kristal.

Dan ruangan yang awalnya terasa seperti gudang hadiah—

perlahan berubah menjadi tempat Darrien mengenal sedikit demi sedikit kehidupan yang pernah menunggunya.

Bukan melalui ingatan.

Bukan melalui cerita panjang.

Tetapi melalui benda-benda kecil yang pernah dipilih oleh kedua orang tuanya.

Dan untuk pertama kalinya—

Darrien tidak merasa sedang mempelajari masa lalu.

Ia merasa—

sedang membangun masa depan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience