489. Ilusi Yang Terlalu Nyata

Romance Completed 594

BAB 489 — ILUSI YANG TERLALU NYATA

Malam masih tenang di clearing.

Angin bergerak perlahan di antara pepohonan.

Enam anggota Veyth berdiri setelah cukup lama beristirahat.

Tubuh mereka masih lelah.

Namun dibandingkan keadaan mereka beberapa jam sebelumnya, setidaknya napas mereka sudah kembali normal.

Darrien berdiri paling depan.

Ia menatap jalan di antara pepohonan.

"Kita lanjut."

Tidak ada yang membantah.

Mereka mulai berjalan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tiga—

WHOOOM!

Sebuah gelombang magicure menyapu seluruh area.

Darrien langsung berhenti.

"Apa—"

Kabut tipis turun dari udara.

Bukan kabut biasa.

Ia tidak memiliki bau.

Tidak memiliki suhu.

Namun ketika menyentuh kulit mereka—

semuanya berubah.

Elyon menoleh ke Elarion.

"Elarion?"

Elarion mencoba mengangkat tangan.

Magicure-nya tidak merespons seperti biasanya.

"Jangan..."

Suaranya terdengar semakin jauh.

"Jangan biarkan..."

Kalimat itu terputus.

Dunia menjadi putih.

Kemudian—

hening.

***

Darrien membuka matanya.

Ia berdiri sendirian.

Tidak ada siapa-siapa.

Tidak ada suara.

Tidak ada pegunungan.

Ia mengerutkan kening.

Tangannya bergerak perlahan.

Magicure masih ada.

Tidak ada luka.

Tidak ada rasa sakit.

Darrien melihat sekeliling.

"...Di mana aku?"

Angin lembut menyentuh wajahnya.

Ia menoleh.

Matanya melebar.

Sebuah danau terbentang di depannya.

Airnya sangat tenang.

Permukaannya memantulkan bulan dan ribuan bintang.

Rumput di sekitar danau bergerak perlahan mengikuti angin.

Dan entah kenapa—

tempat itu terasa sangat familiar.

Darrien melangkah perlahan.

Satu langkah.

Kemudian satu lagi.

Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.

Ia tidak mengerti kenapa.

Namun tubuhnya seolah mengenal tempat itu lebih dulu daripada pikirannya.

Tangannya menyentuh dadanya.

"Aku..."

Ia menatap danau.

"...pernah ke sini."

Suara langkah terdengar dari belakang.

Darrien langsung berbalik.

Tidak ada siapa-siapa.

Namun kemudian—

sebuah suara lembut terdengar.

"Darrien."

Tubuhnya membeku.

Suara itu.

Suara yang sudah terlalu lama ia rindukan.

Darrien perlahan menoleh.

Seorang wanita berdiri di antara pepohonan.

Rambutnya bergerak perlahan tertiup angin.

Mata emas.

Wajah yang begitu familiar.

Wajah yang selama berbulan-bulan hanya bisa ia bayangkan.

Fiona.

Darrien tidak bergerak.

Napasnya tertahan.

"...Fiona."

Wanita itu tersenyum.

Senyum yang sama.

Senyum yang pernah ia lihat ribuan kali dalam ingatannya.

"Kau datang."

Darrien menatapnya.

Matanya perlahan memerah.

Ia mencoba mengatakan sesuatu.

Namun suaranya tidak keluar.

Fiona berjalan mendekat.

Tidak terburu-buru.

Langkahnya ringan.

Sampai akhirnya ia berdiri beberapa langkah di depannya.

"Kau terlihat lelah."

Darrien menelan ludah.

"Aku..."

Ia tertawa kecil.

Namun suara tawanya bergetar.

"Aku memang lelah."

Fiona tersenyum.

"Karena mencariku?"

Darrien terdiam.

Kemudian mengangguk.

"Ya."

Fiona mendekat.

Tangannya terangkat.

Ia menyentuh pipi Darrien.

Hangat.

Darrien langsung memejamkan mata.

Sentuhan itu...

terlalu familiar.

Terlalu nyata.

Ia tidak ingin membukanya.

Untuk beberapa detik—

ia hanya berdiri di sana.

Merasakan tangan Fiona di wajahnya.

Merasa seperti semua waktu yang hilang akhirnya kembali.

"Fiona..."

"Hm?"

"Aku benar-benar mencarimu."

"Aku tahu."

"Aku tidak berhenti."

"Aku tahu."

"Aku pikir..."

Darrien berhenti.

Suaranya pecah sedikit.

"...aku mungkin tidak akan pernah menemukanmu."

Fiona menatapnya dengan lembut.

"Tapi kau menemukanku."

Darrien membuka mata.

Air mata sudah berada di sudut matanya.

Ia tertawa kecil.

"Ya."

Ia menunduk.

"Aku akhirnya menemukanmu."

Fiona tersenyum.

Kemudian menggenggam tangan Darrien.

"Ayo."

Darrien melihat tangan mereka.

Jari-jari mereka saling bertaut.

Ia tidak melepaskannya.

"Ke mana?"

"Pulang."

Satu kata itu membuat dada Darrien terasa sesak.

Pulang.

Sudah begitu lama ia tidak mendengar kata itu dengan cara seperti ini.

Ia mengikuti Fiona.

Mereka berjalan di tepi danau.

Tidak ada perang.

Tidak ada gunung.

Tidak ada Veyth.

Tidak ada Raizen.

Tidak ada rasa takut.

Hanya mereka berdua.

Darrien beberapa kali menatap Fiona.

Seolah takut ketika ia mengalihkan pandangan—

wanita itu akan menghilang.

Fiona menyadarinya.

"Kau terus melihatku."

Darrien tersenyum.

"Aku takut kau menghilang."

Fiona tertawa kecil.

"Aku di sini."

Darrien menggenggam tangannya lebih erat.

"Ya."

Ia menarik napas.

"Untuk sekarang..."

Fiona menatapnya.

"Untuk sekarang?"

Darrien terdiam.

Entah kenapa kata itu terasa aneh.

Namun Fiona tersenyum lagi.

Mereka terus berjalan.

Kemudian mereka berhenti di bawah pohon besar.

Darrien menatap sekeliling.

Pemandangan itu terasa semakin familiar.

Ia duduk di rumput.

Fiona duduk di sampingnya.

Bahunya bersentuhan.

Darrien menatap danau.

"Aku pernah duduk di sini."

Fiona mengangguk.

"Sering."

"Berapa kali?"

Fiona tersenyum.

"Banyak."

Darrien tertawa pelan.

"Aku tidak ingat."

"Kau lupa?"

"Sebagian."

Fiona menatapnya.

"Kenapa?"

Darrien menunduk.

"Karena waktu terlalu panjang."

Fiona terdiam.

Darrien memandang wajahnya.

"Tapi aku ingat kau."

Senyum Fiona perlahan muncul.

"Aku juga ingat kau."

Darrien menghela napas.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama—

dadanya terasa tenang.

Ia bahkan tidak ingin memikirkan apakah tempat itu nyata.

Ia hanya ingin tinggal.

Ia ingin menikmati satu malam.

Satu malam tanpa perang.

Satu malam tanpa harus mencari.

Satu malam tanpa takut kehilangan Fiona lagi.

Fiona menyandarkan kepala di bahunya.

Darrien membeku sebentar.

Kemudian perlahan membiarkan kepalanya bersandar pada kepala Fiona.

"Nyaman?"

Fiona bertanya.

Darrien tersenyum.

"Ya."

Ia memejamkan mata.

"Sangat."

Beberapa saat berlalu.

Tidak ada percakapan.

Hanya suara air danau.

Angin.

Dan napas mereka.

Kemudian—

sebuah suara kecil muncul di kepala Darrien.

**Bangun.**

Matanya terbuka.

Ia menoleh.

"Apa?"

Fiona masih bersandar di bahunya.

"Ada apa?"

Darrien diam.

"Entahlah."

Ia melihat sekeliling.

Semuanya terlihat normal.

Terlalu normal.

Fiona mengangkat kepala.

"Kau ingin pergi?"

Darrien menatapnya.

"...Tidak."

"Kalau begitu tetap di sini."

Fiona kembali menyandarkan kepalanya.

Darrien tidak bergerak.

Namun pikirannya mulai bekerja.

Ia melihat danau.

Pohon.

Langit.

Kemudian Fiona.

Ada sesuatu yang tidak cocok.

Ia belum tahu apa.

Namun tubuhnya merasakan sesuatu yang berbeda.

Sesuatu yang salah.

Kemudian—

FLASH!

Sebuah gambar muncul di kepalanya.

Fiona tertawa.

Bukan di tempat ini.

Di tempat lain.

Cahaya emas.

Kemudian suara Fiona:

**"Darrien, jangan terlalu serius."**

FLASH!

Gambar lain.

Fiona sedang memegang tangannya.

Kemudian suara:

**"Kau selalu datang terlambat."**

FLASH!

Fiona tersenyum.

Kemudian suara Darrien sendiri:

**"Aku akan kembali."**

Darrien memegang kepalanya.

Napasnya memburu.

Fiona langsung menoleh.

"Darrien?"

Ia menatapnya.

"Aku..."

Darrien terdiam.

Kenangan itu.

Bukan mimpi.

Bukan sesuatu yang baru saja terjadi.

Itu adalah sesuatu dari kehidupannya.

Dari masa lalu.

Dari ribuan tahun yang telah hilang dari ingatannya.

Fiona menyentuh tangannya.

"Jangan pikirkan itu."

Darrien menatapnya.

"...Apa?"

"Jangan pikirkan masa lalu."

Darrien membeku.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun sesuatu dalam dirinya menolak.

Fiona tersenyum.

"Kau sudah di sini."

Darrien menatap wajahnya.

Kemudian perlahan—

ia melepaskan tangan Fiona.

Fiona terlihat terkejut.

"Kenapa?"

Darrien tidak langsung menjawab.

Ia berdiri.

Fiona ikut berdiri.

"Darrien?"

Darrien menatap danau.

Kemudian langit.

Kemudian dirinya sendiri.

Tidak ada luka.

Tidak ada debu.

Tidak ada sisa pertempuran.

Bahkan pakaian yang ia kenakan terlihat bersih.

Padahal beberapa saat sebelumnya—

ia baru saja bertarung seharian.

Darrien menutup matanya.

Ia mengingat.

Suara Ace.

Suara Kevin.

Elyon.

Elarion.

Rowan.

Gunung.

Shadowcresent.

Fiona.

Raizen.

Kemudian—

Fiona.

Yang asli.

Darrien membuka mata.

Tatapannya berubah.

"Ini bukan tempat yang sebenarnya."

Fiona terdiam.

Angin berhenti.

Permukaan danau berhenti bergerak.

Darrien memandangnya.

"Kau bukan Fiona."

Untuk beberapa detik—

tidak ada jawaban.

Kemudian Fiona tersenyum.

Senyum yang sama seperti sebelumnya.

Namun kali ini—

Darrien melihat sesuatu yang berbeda.

Senyum itu tidak mencapai matanya.

"Apa yang membuatmu berpikir begitu?"

Darrien mengepalkan tangannya.

"Karena Fiona yang kukenal..."

Ia berhenti.

Kenangan lain muncul.

Fiona tertawa.

Fiona marah.

Fiona menangis.

Fiona memeluknya.

Fiona memarahinya karena terlalu keras kepala.

Fiona menunggu.

Fiona selalu menunggunya.

Darrien menarik napas.

"...tidak akan pernah memintaku berhenti mencari."

Wajah wanita di depannya perlahan berubah.

Bukan bentuk fisiknya.

Melainkan suasananya.

"Kalau kau sudah menemukan apa yang kau cari..."

Ia mengulurkan tangan.

"...kenapa kau masih ingin pergi?"

Darrien menatap tangan itu.

Air mata perlahan jatuh dari sudut matanya.

Karena untuk sesaat—

ia benar-benar ingin meraihnya.

Benar-benar ingin tinggal.

Benar-benar ingin percaya.

Namun—

sesuatu yang jauh lebih tua di dalam dirinya mulai bangun.

Fragmen-fragmen kehidupannya terus bermunculan.

Danau yang sebenarnya.

Fiona yang sebenarnya.

Suara mereka.

Waktu mereka.

Cinta mereka.

2.500 tahun.

Semuanya mulai kembali sedikit demi sedikit.

Darrien menutup matanya.

"Aku tidak tahu siapa kau."

Ia membuka mata lagi.

"Tapi aku tahu satu hal."

Magicure mulai bergerak di sekitar tubuhnya.

Wanita itu masih tersenyum.

"Apa?"

Darrien menatapnya.

"Fiona masih ada."

Ia mengepalkan tangannya.

"Dan aku belum selesai mencarinya."

Retakan kecil muncul di permukaan danau.

KRAK.

Darrien menatapnya.

Retakan itu semakin besar.

KRAK.

KRAK.

Namun sebelum dunia itu benar-benar pecah—

suara Fiona terdengar sekali lagi.

Bukan suara ilusi.

Atau setidaknya—

Darrien tidak yakin.

**"Darrien..."**

Ia membeku.

Suara itu begitu lembut.

Begitu familiar.

Dan untuk pertama kalinya—

ia tidak tahu apakah suara itu datang dari ilusi...

atau dari tempat lain.

***

Di dunia nyata—

kelima anggota Veyth masih menunggu.

Darrien berdiri di tengah clearing.

Tidak bergerak.

Matanya tertutup.

Magicure-nya perlahan semakin padat.

Elyon menatapnya dengan cemas.

"Sudah terlalu lama."

Elarion mengangguk.

"Ilusinya sangat dalam."

Kevin berdiri beberapa langkah dari Darrien.

Ia bisa merasakan perubahan magicure pria itu.

"Dia sedang melawan."

Rowan menatap Darrien.

"Apakah dia akan keluar?"

Kevin tidak langsung menjawab.

"Aku tidak tahu."

Ace duduk di tanah.

Kali ini tidak ada lelucon.

Ia hanya menatap Darrien.

"Darrien..."

Suaranya pelan.

"Jangan terlalu lama di sana."

Tidak ada jawaban.

Elyon melangkah sedikit lebih dekat.

Namun Elarion menahan lengannya.

"Jangan."

Elyon menatapnya.

"Aku tahu."

Keduanya kembali menatap Darrien.

Mereka menunggu.

Tidak tahu apa yang sedang dilihatnya.

Tidak tahu apa yang sedang ia hadapi.

Mereka hanya tahu—

Darrien belum kembali.

Dan entah kenapa...

magicure di tubuhnya terus meningkat.

***

Di dalam ilusi—

Darrien masih berdiri di tepi danau.

Retakan semakin banyak.

Namun dunia belum runtuh.

Wanita yang menyerupai Fiona masih berada di depannya.

Dan Darrien...

masih belum bergerak.

Karena di balik wajah itu—

ada sesuatu yang terasa begitu familiar.

Sesuatu yang membuat hatinya sakit.

Sesuatu yang membuatnya bertanya-tanya—

apakah ini benar-benar hanya sebuah perangkap?

Atau...

apakah dimensi ini sedang membuka sesuatu yang selama ribuan tahun terkubur di dalam dirinya?

Darrien menatap wanita itu.

Kemudian berbisik—

"...Fiona?"

Wanita itu tersenyum.

Dan dunia kembali bergetar.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience