354. Setelah Latihan

Romance Completed 594

BAB 354 — SETELAH LATIHAN

Matahari mulai bergerak lebih rendah.

Latihan akhirnya selesai.

Darrien berdiri di tengah area latihan, mengatur napas setelah putaran terakhir.

Kevin berdiri beberapa langkah di depannya.

“Cukup untuk hari ini.”

Darrien mengangguk.

“Baik.”

Ia mengusap keringat di dahinya.

Tubuhnya memang terasa lelah.

Namun dibandingkan hari-hari sebelumnya—

gerakannya jauh lebih terkendali.

Ia mulai memahami bagaimana menggunakan kecepatannya tanpa membuang terlalu banyak magicure.

Dan yang lebih aneh—

beberapa gerakan tadi terasa begitu alami.

Seolah tubuhnya sudah mengenalnya sejak lama.

Darrien tidak memikirkannya terlalu jauh.

Ia hanya mengingat perkataan Kevin.

*Biarkan tubuhmu mengingatnya sendiri.*

***

Fiona masih berdiri di luar area latihan.

Ketika Darrien keluar—

tatapan mereka langsung bertemu.

Fiona tersenyum kecil.

“Sudah selesai?”

Darrien mengangguk.

“Untuk hari ini.”

Fiona melirik ke arah Kevin.

“Dia tidak menyiksamu terlalu parah?”

Darrien tertawa kecil.

“Tidak.”

Dari tengah lapangan—

Kevin langsung berkata,

“Aku masih mendengar itu.”

Fiona menahan tawa.

Darrien hanya tersenyum.

Kemudian ia berjalan mendekati Fiona.

“Ayo.”

Fiona berkedip.

“Ke mana?”

“Kembali.”

Fiona terdiam sebentar.

Kemudian mengangguk.

“Baik.”

Mereka berjalan meninggalkan area latihan bersama.

Tidak terburu-buru.

Tidak ada teleportasi.

Tidak ada Fiona yang tiba-tiba menghilang.

Hanya berjalan berdampingan.

Darrien sesekali melirik Fiona.

Fiona pura-pura tidak menyadarinya.

Namun sudut bibirnya sedikit terangkat.

***

Di belakang mereka—

Ace, Rowan, dan Elarion tetap berada di area latihan.

Elyon juga belum pergi.

Kevin berdiri di tengah lapangan.

Ia memperhatikan Darrien dan Fiona yang semakin menjauh.

Ace menyilangkan tangan.

“Jadi?”

Kevin menoleh.

“Jadi apa?”

“Bagaimana menurutmu?”

Rowan ikut bertanya,

“Perkembangan Darrien.”

Elarion mengangguk.

“Gerakannya jelas berbeda dibandingkan beberapa hari lalu.”

Kevin diam sejenak.

Kemudian berkata,

“Dia berkembang cepat.”

Ace tersenyum.

“Karena bakat?”

“Bukan hanya itu.”

Kevin melihat kembali ke arah tempat Darrien tadi berdiri.

“Tubuhnya memiliki ingatan gerakan.”

Rowan mengerutkan kening.

“Maksudmu?”

“Insting.”

Kevin menjelaskan.

“Dia belum memahami kenapa dia bisa melakukan beberapa gerakan.”

“Tapi tubuhnya tahu.”

Elyon menjadi serius.

“Apakah itu berbahaya?”

Kevin menggeleng.

“Tidak.”

“Setidaknya tidak sekarang.”

Ace mengangkat alis.

“Lalu?”

Kevin tersenyum tipis.

“Kalau dia terus berlatih…”

Ia berhenti sebentar.

“…dia mungkin akan menemukan kembali kemampuan yang bahkan tidak dia sadari pernah dimilikinya.”

Elarion terdiam.

“Tanpa memulihkan memorinya?”

“Ya.”

Kevin mengangguk.

“Memori dan insting bukan hal yang sama.”

Rowan mengangguk perlahan.

“Jadi kita tidak perlu memaksanya mengingat.”

“Justru jangan.”

Kevin menjawab tegas.

“Kalau sesuatu memang tertanam dalam dirinya…”

Ia melihat ke arah Darrien yang sudah semakin jauh.

“…biarkan muncul secara alami.”

Elyon tersenyum kecil.

“Itu juga yang Fiona inginkan.”

Kevin menoleh kepadanya.

“Kau yakin?”

Elyon mengangguk.

“Dia tidak pernah mencoba memaksanya.”

Ace tersenyum.

“Bagus.”

Kemudian ia melirik Kevin.

“Berarti latihan besok—”

Kevin langsung memotong.

“Lebih berat.”

Ace:

“….”

Rowan tertawa.

Elarion menggeleng.

“Kasihan Darrien.”

Kevin tersenyum.

“Dia sendiri yang meminta.”

Ace menghela napas.

“Dan Kevin sendiri yang menikmati.”

Kevin tidak menyangkal.

***

Elyon kemudian melihat ke arah istana.

“Untuk sekarang, kita biarkan dia beristirahat.”

Rowan mengangguk.

“Setuju.”

Elarion tersenyum.

“Besok kita lihat sejauh mana perkembangannya.”

Ace mengangkat tangan.

“Dan semoga kali ini dia tidak meminta Kevin mengajarinya bergerak lebih cepat lagi.”

Kevin menjawab tenang,

“Kalau dia meminta…”

Ia tersenyum.

“…aku akan mengajarinya.”

Ace langsung menatap Rowan.

“Kita sudah kehilangan Darrien.”

Rowan tertawa.

“Belum.”

Elarion menambahkan,

“Belum. Tapi sebentar lagi.”

Kevin mendengar semuanya.

“Besok kalian boleh ikut.”

Ketiganya langsung diam.

“…”

Kemudian—

Ace perlahan mundur.

“Tidak.”

Rowan ikut mundur.

“Terima kasih, tapi aku masih menyukai hidupku.”

Elarion tertawa.

Kevin hanya tersenyum.

***

Sementara itu—

Darrien dan Fiona sudah jauh meninggalkan area latihan.

Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari penuh kekacauan—

mereka berjalan berdua dengan tenang.

Fiona menatap jalan di depan.

Darrien berjalan di sampingnya.

Tidak ada pembicaraan berat.

Tidak ada sejarah kuno.

Tidak ada Crystal.

Tidak ada Saintess.

Hanya dua orang yang pulang bersama.

Dan entah kenapa—

Fiona merasa itu sudah cukup untuk hari ini.

Setidaknya…

untuk sementara.

Karena ia tahu—

masih ada banyak hal yang belum mereka bicarakan.

Dan mungkin…

masih ada satu momen yang belum terjadi.

Namun bukan sekarang.

Belum.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience