Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 469 — JALAN YANG SELALU BERUBAH
Malam telah menyelimuti kerajaan Veyth.
Di salah satu ruangan penelitian yang luas, cahaya dari beberapa kristal sihir menerangi meja-meja yang dipenuhi buku kuno, peta, catatan, dan berbagai simbol yang dibuat selama penelitian mereka terhadap Shadowcresent.
Sudah beberapa kali mereka mencoba memasuki wilayah pegunungan Shadowcresent.
Namun hasilnya selalu sama.
Gagal.
Mereka bisa menggunakan jalur yang sama.
Mereka bisa mengingat setiap belokan.
Bahkan mereka bisa menandai beberapa titik dengan sihir agar dapat memastikan bahwa mereka tidak tersesat.
Tetapi...
ketika kembali ke dalam gunung—
semuanya berubah.
Rowan meletakkan beberapa lembar catatan di atas meja.
"Ini yang paling aneh."
Kevin menatapnya.
"Apa?"
Rowan menunjuk peta.
"Jalur yang kita gunakan pada percobaan pertama."
Ia menunjuk garis merah.
"Kemudian jalur yang sama pada percobaan kedua."
Ia menunjuk garis biru.
"Keduanya seharusnya identik."
Ace mendekat.
"Seharusnya?"
Rowan mengangguk.
"Ya."
Ia membalik halaman lain.
"Tapi bagian dalam gunung tidak lagi sama."
Elarion menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Jalannya berubah?"
"Bukan hanya jalan."
Rowan menggeleng.
"Labirinnya."
Ia menunjuk beberapa simbol.
"Jarak antar tempat berubah. Beberapa lorong yang sebelumnya pendek menjadi jauh lebih panjang. Beberapa jalan yang seharusnya menuju utara malah membawa kita semakin jauh dari pusat wilayah Shadowcresent."
Kevin mengerutkan kening.
"Ilusi?"
"Mungkin."
Elyon yang sejak tadi membaca catatan kuno akhirnya mengangkat wajahnya.
"Namun bukan ilusi biasa."
Semua mata beralih kepadanya.
Elyon menutup buku perlahan.
"Kalau hanya ilusi, kita seharusnya masih bisa mendeteksi perubahan energi antara ruang nyata dan ruang palsu."
Elarion mengangguk.
"Tapi kita tidak bisa."
"Benar."
Elyon berdiri dan berjalan menuju meja.
"Karena kemungkinan besar bukan hanya pandangan kita yang dimanipulasi."
Ia mengambil sebuah pena dan menarik beberapa garis pada peta.
"Ruangnya sendiri yang berubah."
Ace menghela napas.
"Jadi gunung itu bisa pindah-pindah?"
Elyon meliriknya.
"Tidak sesederhana itu."
Ace mengangkat kedua tangan.
"Aku cuma mencoba memahami."
Kevin menahan senyum.
"Untuk sekali ini, pertanyaanmu masuk akal."
"Untuk sekali?"
"Jangan mulai."
Ace mendengus.
Darrien tetap diam.
Ia berdiri di dekat jendela besar ruangan penelitian.
Dari sana, bulan terlihat jelas di langit malam.
Cahayanya jatuh melewati kaca dan menyentuh lantai di dekat kakinya.
Suara percakapan teman-temannya masih terdengar di belakang.
Namun pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana.
Elarion kembali berbicara.
"Kalau begitu, kita harus mencoba jalur lain."
Rowan menatapnya.
"Maksudmu?"
"Jangan ulangi jalur yang sudah pernah kita gunakan."
Kevin mengangguk perlahan.
"Kita sudah tahu jalur lama selalu diarahkan menjauh dari istana."
"Justru itu."
Elyon menunjuk peta.
"Kalau Shadowcresent sengaja mengubah bagian dalam wilayahnya setiap kali kita masuk, mungkin jalur yang sama memang tidak akan pernah membawa kita lebih dekat."
Ace mengangkat alis.
"Jadi kita harus mencari jalan yang belum pernah kita gunakan?"
"Ya."
"Dan kalau jalan baru itu juga berubah?"
Elyon diam.
Ace menatapnya.
"...Jangan diam begitu."
Elyon menghela napas.
"Kita cari lagi."
Ace menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Ini akan panjang."
Elarion terkekeh kecil.
"Sepertinya begitu."
Rowan kembali memeriksa catatan.
"Ada satu hal lagi."
Semua kembali memperhatikannya.
"Terakhir kali kita berhasil mencapai bagian yang lebih dalam."
Kevin mengangguk.
"Karena kita mendapat akses."
"Lebih tepatnya..."
Rowan menatap seluruh ruangan.
"...karena kita diizinkan."
Ruangan mendadak sunyi.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Mereka semua mengingatnya.
Terakhir kali.
Mereka tidak menemukan jalan menuju Shadowcresent dengan kekuatan mereka sendiri.
Mereka dipindahkan.
Dibawa masuk.
Karena ada seseorang yang memiliki hak atas ruang tersebut.
**Raizen.**
Elarion perlahan berkata,
"Kalau begitu..."
Ia berhenti.
"Apakah satu-satunya cara untuk mencapai bagian dalam Shadowcresent adalah mendapatkan izin dari Raizen?"
Tidak ada jawaban.
Kevin menatap peta.
Elyon menatap catatan kuno.
Rowan terdiam.
Ace bahkan tidak membuat lelucon.
Karena untuk beberapa saat...
kesimpulannya terlalu jelas.
**Mereka bisa terus mencoba.**
Mereka bisa mempelajari sihir teleportasi.
Mereka bisa memahami resonansi.
Mereka bisa membaca jaringan ruang.
Mereka bisa mencari jalan lain.
Tetapi tanpa izin dari penguasa Shadowcresent—
ruang itu sendiri tampaknya tidak menginginkan mereka berada di sana.
Darrien masih berdiri di dekat jendela.
Ia mendengar semuanya.
Namun tidak ikut berbicara.
Tatapannya tetap tertuju pada bulan.
Sudah cukup lama sejak terakhir kali ia melihat Fiona.
Dan selama beberapa waktu terakhir, ia berusaha mengendalikan dirinya.
Tidak membiarkan kerinduan membuatnya kehilangan fokus.
Tidak membiarkan rasa sakit membuat kekuatannya liar.
Ia terus berlatih.
Terus mencari cara.
Terus berdiri.
Namun malam ini...
ada sesuatu yang berbeda.
Darrien mengerutkan kening.
Tangannya yang berada di sisi tubuh perlahan mengepal.
Entah kenapa...
dadanya terasa sedikit aneh.
Bukan rasa sakit.
Bukan juga kemarahan.
Lebih seperti—
sebuah perasaan samar yang datang tanpa alasan.
Seolah-olah...
seseorang sedang memanggilnya dari tempat yang sangat jauh.
Darrien menoleh sedikit.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya teman-temannya yang masih sibuk dengan penelitian.
Ia kembali menatap bulan.
Perasaan itu perlahan menghilang.
Darrien tidak mengatakan apa pun kepada mereka.
Ia bahkan tidak yakin apa yang sebenarnya ia rasakan.
Mungkin hanya kerinduan.
Mungkin pikirannya sendiri.
Atau mungkin karena terlalu lama memikirkan Fiona.
Ia mengembuskan napas pelan.
Kemudian bibirnya bergerak.
Suaranya begitu kecil hingga hampir tidak terdengar.
"Fiona..."
Tatapannya melembut.
"Aku harap kau baik-baik saja."
Di belakangnya, suara halaman buku kembali terdengar.
Penelitian terus berlanjut.
Mereka belum menemukan jalan.
Belum menemukan jawaban.
Malam terus berjalan.
Dua tempat.
Dua hati.
Dipisahkan oleh jarak yang belum mampu mereka lewati.
Namun untuk malam itu—
Darrien hanya berdiri di bawah cahaya bulan.
Berharap Fiona baik-baik saja.
