435. Starlight Fall

Romance Completed 594

BAB 435 — STARLIGHT FALL

Pagi itu...

Fiona sedang duduk di taman ketika Raizen tiba-tiba muncul di hadapannya.

Fiona mengangkat wajah.

"Raizen?"

"Hm?"

"Kau mau ke mana?"

Raizen mengulurkan tangannya.

"Ikut aku."

Fiona menatap tangannya.

"Kita mau ke mana?"

"Tempat yang pernah kukunjungi sebelum kembali ke Shadowcresent."

Fiona langsung berdiri.

"Jauh?"

"Cukup jauh."

"Berapa lama?"

Raizen tersenyum tipis.

"Kalau aku membawamu, tidak lama."

Fiona memandangnya curiga.

"Itu terdengar seperti sesuatu yang tidak boleh kutanyakan."

"Benar."

Fiona tertawa.

Kemudian ia meletakkan tangannya di telapak tangan Raizen.

"Baiklah."

Jari-jari mereka saling bertaut.

Dan dalam sekejap—

ruang di sekitar mereka berubah.

***

Ketika Fiona membuka mata...

suara air langsung terdengar.

Deras.

Namun lembut.

Seperti ribuan tetes hujan jatuh bersamaan.

Fiona perlahan melihat sekeliling.

Matanya membesar.

Di hadapan mereka berdiri sebuah air terjun yang sangat besar.

Airnya jatuh dari tebing tinggi menuju sebuah danau jernih.

Namun yang membuat tempat itu benar-benar luar biasa bukan hanya airnya.

Di sepanjang aliran air...

terdapat cahaya-cahaya kecil yang berkilauan.

Seperti bintang.

Cahaya itu mengikuti aliran air terjun dan memantul di permukaan danau.

Fiona terdiam.

"Wow..."

Raizen berdiri di sampingnya.

"Selamat datang di Starlight Fall."

Fiona menatapnya.

"Starlight Fall?"

Raizen mengangguk.

"Begitulah tempat ini disebut."

Fiona kembali melihat air terjun.

"Kenapa?"

"Karena saat malam tiba..."

Raizen menunjuk ke arah air.

"...cahayanya akan semakin terang."

Fiona mendekati danau.

Ia berjongkok dan menyentuh permukaannya.

Cahaya kecil berputar di sekitar jarinya.

"Indah sekali."

Raizen tidak melihat air terjun.

Ia melihat Fiona.

"Ya."

Fiona menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

Ia langsung menyadari bahwa Raizen tidak sedang melihat pemandangan.

"Kau tidak melihat air terjunnya."

"Aku sudah pernah melihatnya."

Fiona memutar mata.

"Jadi sekarang kau melihatku?"

"Ya."

Fiona tertawa kecil.

"Kau semakin berani."

"Aku hanya jujur."

***

Mereka menghabiskan pagi dengan berjalan di sekitar Starlight Fall.

Tidak ada istana.

Tidak ada penjaga.

Tidak ada rapat.

Tidak ada Veyth.

Hanya mereka.

Fiona beberapa kali berhenti untuk melihat bunga-bunga kecil yang tumbuh di sekitar batu.

Raizen membiarkannya berjalan sesuka hati.

Ketika Fiona menemukan sebuah batu datar di dekat danau, ia duduk di sana.

Raizen duduk di sebelahnya.

Fiona mengayunkan kakinya perlahan.

"Kenapa kau sering datang ke sini?"

Raizen memandang air terjun.

"Dahulu."

Ia terdiam sejenak.

"Tempat ini adalah salah satu dari sedikit tempat yang tidak menginginkan apa pun dariku."

Fiona menoleh.

Raizen melanjutkan.

"Di mana pun aku pergi, selalu ada sesuatu."

"Kerajaan."

"Musuh."

"Masalah."

Fiona tersenyum kecil.

"Dan sekarang?"

Raizen menatapnya.

"Sekarang ada kau."

Fiona terdiam.

Pipinya sedikit memerah.

Ia kemudian pura-pura melihat ke arah air terjun.

"Jawabanmu semakin berbahaya."

Raizen tertawa pelan.

***

Menjelang sore, mereka duduk di sebuah batu besar di dekat air terjun.

Fiona bersandar pada Raizen.

Kepalanya berada di bahunya.

Raizen memegang tangannya.

Jari-jari mereka bertaut.

Tidak ada yang berbicara.

Suara air terjun memenuhi udara.

Fiona memainkan jari Raizen dengan ibu jarinya.

"Kau dingin."

"Aku vampire."

"Aku tahu."

"Kenapa masih mengeluh?"

"Aku tidak mengeluh."

Raizen mengangkat alis.

"Benarkah?"

Fiona tersenyum.

"Aku hanya memberitahumu."

"Kalau begitu..."

Raizen menarik tangannya sedikit lebih dekat.

"...kau bisa mendekat."

Fiona menurut.

Tubuhnya kini lebih dekat ke dada Raizen.

Ia tersenyum puas.

"Lebih hangat."

Raizen menatapnya.

"Bagus."

Beberapa saat kemudian, Fiona mendongak.

Raizen juga menundukkan wajahnya.

Jarak mereka semakin dekat.

Tidak ada kata-kata.

Hanya tatapan.

Kemudian bibir mereka bertemu.

Sebuah ciuman lembut.

Tidak terburu-buru.

Tidak dipaksakan.

Ketika mereka berpisah, Fiona masih berada sangat dekat.

Ia tersenyum kecil.

"Raizen."

"Hm?"

"Aku suka tempat ini."

Raizen menyentuh rambutnya.

"Kalau begitu kita bisa datang lagi."

"Benarkah?"

"Ya."

Fiona tersenyum lebih lebar.

"Janji?"

Raizen mengangguk.

"Janji."

Fiona kembali menyandarkan kepalanya pada dadanya.

Raizen memeluknya.

Lebih erat dari sebelumnya.

Matahari perlahan turun.

Langit berubah menjadi jingga.

Kemudian ungu.

Dan ketika malam mulai datang...

cahaya-cahaya di air terjun mulai menyala.

Satu.

Kemudian dua.

Kemudian ratusan.

Ribuan cahaya kecil mengalir bersama air.

Seolah-olah langit malam telah jatuh ke bumi.

Fiona menatapnya dengan mata berbinar.

"Raizen..."

"Hm?"

"Ini benar-benar seperti bintang."

Raizen menatap air terjun.

Kemudian Fiona.

Tangannya masih menggenggam tangan Fiona.

"Karena itu namanya."

Fiona tersenyum.

Mereka tetap duduk di sana.

Bersama.

Tangan dalam tangan.

Kepala Fiona di dadanya.

Dan suara air terjun menjadi satu-satunya suara di antara mereka.

Untuk malam itu...

dunia terasa sangat jauh.

***

Veyth.

Jauh berbeda dengan Starlight Fall.

Ruang penelitian kerajaan masih dipenuhi buku.

Elarion membaca.

Kevin menguji rune.

Rowan membandingkan catatan.

Ace menatap tumpukan buku dengan ekspresi kosong.

"Sudah berapa lama kita melakukan ini?"

Kevin tidak mengangkat kepala.

"Beberapa minggu."

Ace menatapnya.

"Dan hasilnya?"

"Lebih banyak pertanyaan."

Ace menatap langit-langit.

"Aku mulai curiga bahwa buku-buku ini membenci kita."

Darrien tidak menjawab.

Ia masih membaca catatan tentang teleportasi.

Namun kali ini...

mereka tidak hanya mencari cara memperpanjang jarak.

Mereka mulai mencoba memahami asal-usul sistem tersebut.

Apa yang membuat sihir vampire berbeda?

Kenapa ruang merespons mereka dengan cara yang tidak biasa?

Dan yang paling penting—

apa yang membuat Raizen begitu kuat?

***

Lunaris.

Elyon masih berada di perpustakaan.

Sylvester duduk di sampingnya dengan tumpukan buku yang bahkan lebih tinggi daripada sebelumnya.

"Elyon."

"Hm?"

"Kita sudah membaca hampir seluruh bagian tentang sihir vampire."

"Belum."

Sylvester menunjuk tumpukan buku.

"Yang itu?"

"Belum."

"Yang itu?"

"Belum."

"Yang paling bawah?"

Elyon terdiam.

Kemudian menjawab dengan tenang.

"Terutama yang paling bawah."

Sylvester memejamkan mata.

"Kenapa aku ikut?"

Elyon tersenyum kecil.

"Karena kau berguna."

"Untuk apa?"

"Membawa buku."

Sylvester menatapnya.

"...Aku benar-benar menyesal mengikutimu."

Elyon tertawa.

Namun kemudian ia kembali serius.

Sebuah buku tua terbuka di hadapannya.

Halaman-halamannya membahas kekuatan vampire kuno.

Tentang tubuh.

Tentang mana.

Tentang tekanan spiritual.

Tentang hubungan antara vampire dan ruang.

Elyon membaca perlahan.

Kemudian berhenti.

Matanya tertuju pada satu kalimat tua yang hampir pudar.

Ia mendekat.

Membacanya sekali lagi.

"Ruang mengenali darah..."

Elyon mengerutkan kening.

Sylvester menoleh.

"Apa?"

Elyon tidak menjawab.

Ia membaca kalimat berikutnya.

"...dan tunduk pada penguasa yang memiliki hak kuno."

Elyon terdiam cukup lama.

Kemudian menutup buku perlahan.

"Menarik."

Sylvester menatapnya.

"Kau menemukan sesuatu?"

Elyon mengangkat wajah.

"Belum."

Ia tersenyum tipis.

"Tapi mungkin kita akhirnya mulai mendekati jawabannya."

Sementara itu...

di tempat yang jauh dari semua penelitian tersebut...

Fiona tertidur dalam pelukan Raizen di bawah cahaya Starlight Fall.

Dan untuk beberapa jam...

tidak ada seorang pun yang mengejar mereka.

Tidak ada perang.

Tidak ada penelitian.

Tidak ada ancaman.

Hanya malam.

Air.

Bintang-bintang yang jatuh dari langit.

Dan dua orang yang perlahan mulai lupa...

bahwa kedamaian seperti ini tidak akan berlangsung selamanya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience