Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 460 — INGATAN YANG TIDAK HILANG
Beberapa minggu berlalu.
Perpustakaan Veyth masih dipenuhi buku.
Catatan lama.
Manuskrip kuno.
Diagram sihir.
Dan terlalu banyak cangkir kopi yang sudah dingin.
Ace menatap meja penelitian dengan wajah kosong.
"Berapa lama lagi?"
Elyon tidak mengangkat kepala.
"Sampai kita menemukan jawabannya."
"Itu bukan jawaban."
"Itu jawaban yang kita punya."
Ace menghela napas panjang.
"Sudah berminggu-minggu."
"Dan?"
"Kita belum membawa Fiona pulang."
Ruangan menjadi sedikit lebih tenang.
Elarion menutup salah satu bukunya.
"Karena kita belum menemukan cara yang aman untuk melakukannya."
Ace tidak menjawab.
Kali ini ia tahu mereka benar-benar serius.
Rowan masih membaca sebuah manuskrip tua.
Sylvester duduk di sampingnya, membandingkan beberapa catatan tentang sihir cahaya.
Sementara Elyon berdiri di depan papan besar yang sudah dipenuhi tulisan.
Ada satu kata yang dilingkari berkali-kali.
**MEMORY.**
Elyon menatapnya cukup lama.
"Selama ini kita mungkin salah memahami masalahnya."
Elarion mengangkat kepala.
"Maksudmu?"
Elyon mengambil satu buku tua dari meja.
"Kita menganggap Raizen menghapus ingatan Fiona."
Rowan langsung memperhatikan.
"Tapi?"
Elyon membuka halaman yang sudah sangat tua.
"Tidak ada bukti bahwa ingatan itu benar-benar dihancurkan."
Hening.
Sylvester mendekat.
"Jadi kau berpikir..."
"Raizen mungkin tidak menghapusnya."
Elyon menunjuk bagian tertentu dari manuskrip.
"Dia menimpanya."
Ace mengerutkan kening.
"Menimpa?"
Elarion mulai memahami.
"Seperti menaruh satu lapisan ingatan di atas lapisan lainnya."
Elyon mengangguk.
"Tepat."
Rowan membaca catatan tersebut.
"Kalau begitu..."
Ia berhenti.
"...mengapa Fiona tidak menyadarinya?"
"Karena lapisan baru itu tidak hanya berisi fakta."
Elyon menutup buku perlahan.
"Emosinya juga diubah."
Ruangan kembali sunyi.
Ace menatap mereka.
"Jadi saat Fiona melihat Raizen..."
"Dia benar-benar merasa mencintainya," jawab Elarion.
Tidak ada yang langsung menyela.
Itulah bagian yang paling sulit diterima.
Bukan karena Fiona berpura-pura.
Bukan karena ia sedang dikendalikan setiap detik.
Perasaannya terhadap Raizen terasa nyata baginya.
Elyon menghela napas.
"Kalau teori ini benar, maka Raizen tidak sekadar memberikan Fiona ingatan baru."
Ia menatap catatan tersebut.
"Dia membuat sebuah versi kehidupan baru di dalam pikirannya."
Rowan mengerutkan kening.
"Dan ingatan lamanya?"
"Itu yang belum kita ketahui."
---
Sylvester membuka sebuah buku lain.
"Tunggu."
Semua menoleh.
Ia membalik beberapa halaman.
"Ada bagian lain."
Sylvester membaca perlahan.
"Beberapa sihir memori tingkat tinggi tidak mampu menghancurkan ikatan emosional yang sudah terlalu dalam."
Elarion langsung berdiri.
"Ulangi."
Sylvester menunjuk kalimat tersebut.
"Ikatan emosional yang terlalu dalam."
Elyon mengambil buku itu.
Matanya bergerak cepat membaca halaman tersebut.
Kemudian ekspresinya berubah.
"Ini..."
"Apa?" tanya Rowan.
Elyon tidak langsung menjawab.
Ia membaca bagian berikutnya.
"Ingatan yang terikat pada jiwa dapat tertutup oleh lapisan sihir."
Ace mendekat.
"Jadi?"
Elyon mengangkat kepalanya.
"Jadi mungkin ingatan Fiona tidak hilang."
Darrien tidak berada di ruangan itu.
Namun nama Fiona terasa cukup untuk membuat suasana berubah.
Elarion menatap Elyon.
"Kalau begitu masih ada harapan."
"Harapan, ya."
Elyon mengangguk.
"Tapi belum ada cara untuk membukanya."
Ace mengangkat tangan.
"Pertanyaan penting."
Elyon menatapnya.
"Apa?"
"Kalau ingatan lama itu cuma tertutup..."
Ace menunjuk buku.
"...apakah kita bisa langsung membuka lapisannya?"
Elyon menggeleng.
"Kalau kita salah..."
Ia berhenti.
"Ingatan bisa rusak."
Senyum Ace langsung menghilang.
"Oh."
Elarion mengangguk.
"Itulah sebabnya kita tidak boleh mencoba sembarangan."
---
Darrien ternyata sudah berdiri di luar perpustakaan.
Ia mendengar bagian terakhir.
Tidak ada ekspresi di wajahnya.
Namun matanya langsung berubah ketika Elyon keluar membawa catatan tersebut.
"Jadi?"
Elyon menatapnya.
"Kami menemukan sebuah kemungkinan."
Darrien menunggu.
"Ingatan Fiona mungkin tidak hilang."
Untuk pertama kalinya pagi itu—
bahu Darrien sedikit mengendur.
"Tapi?"
"Belum tentu kita bisa mengembalikannya."
Darrien kembali diam.
Elyon menatapnya serius.
"Kalau teori ini benar, seseorang menaruh lapisan baru di atas ingatan lamanya."
"Dan lapisan itu..."
"Dibuat agar terasa nyata."
Darrien menunduk sebentar.
Kemudian ia bertanya,
"Apakah dia masih bisa mengingatku?"
Elyon tidak menjawab langsung.
"Kami tidak tahu."
Darrien mengepalkan tangannya.
Namun kali ini ia tidak marah.
Ia hanya menarik napas.
"Kalau begitu cari tahu."
Elyon mengangguk.
"Kami akan melakukannya."
Darrien berbalik.
Sebelum pergi, ia berhenti.
"Dan jangan paksa dia."
Elyon menatap punggungnya.
Darrien melanjutkan,
"Kalau ingatannya benar-benar masih ada di suatu tempat..."
Ia mengepalkan tangannya.
"...aku akan menunggu sampai dia sendiri siap menemukannya."
Kemudian ia pergi.
Elyon terdiam beberapa saat.
Elarion yang berdiri di belakangnya tersenyum tipis.
"Setidaknya dia sudah tahu apa yang harus dilakukan."
Elyon mengangguk.
"Ya."
Ia melihat kembali buku tua di tangannya.
"Dan sekarang..."
Tatapannya menjadi serius.
"...kita harus mencari tahu di mana ingatan itu bersembunyi."
Di dalam perpustakaan—
Ace mengangkat tangan.
"Jadi..."
Semua menoleh.
"Apakah ini berarti kita akhirnya boleh tidur?"
Elyon:
"Tidak."
Ace:
"AKU BENCI PENELITIAN."
