241. Hari Terakhir Latihan

Romance Series 382

BAB 241

Pagi keenam akhirnya tiba.

Matahari perlahan muncul di balik pegunungan Veyth.

Udara pagi terasa jauh lebih sejuk daripada hari-hari sebelumnya.

Namun di battlefield—

Kevin sudah menunggu.

Ia berdiri sendirian di tengah arena.

Tidak ada senyum.

Tidak ada ekspresi jahil.

Hanya kedua tangannya yang terlipat di depan dada sambil menatap langit.

Beberapa saat kemudian—

suara langkah kaki terdengar.

Kevin menoleh.

Darrien muncul dari arah istana.

Di sampingnya berjalan Fiona.

Ace dan Rowan mengikuti beberapa langkah di belakang.

Dan Elarion berjalan paling belakang sambil membawa beberapa catatan.

Fiona melihat Kevin dari kejauhan.

Kemudian melihat matahari.

Ia tersenyum.

“Selamat pagi.”

Kevin menatapnya.

Kemudian—

ia melihat langit.

Melihat matahari.

Lalu kembali melihat Fiona.

“…”

Fiona perlahan menyadari sesuatu.

“Kenapa?”

Kevin menunjuk ke langit.

“Sudah pagi?”

Fiona berkedip.

“Ya.”

Kevin menatap matahari lagi.

“Benar-benar pagi.”

Ace langsung menundukkan kepala.

Rowan menggigit bibirnya.

Elarion menutup mata.

Darrien hanya menghela napas.

Fiona wajahnya langsung memerah.

“Jangan mulai.”

Kevin menghela napas.

“Setidaknya hari ini benar.”

Ace akhirnya tidak mampu menahan tawanya.

“HAHA—”

Fiona langsung menoleh.

“Jangan!”

Ace segera menutup mulut.

“Maaf.”

Rowan memalingkan wajah.

Bahu keduanya masih bergerak karena menahan tawa.

Elarion hanya menghela napas panjang.

“Pagi yang damai.”

Fiona memelototinya.

“Tidak ada yang damai.”

Darrien tersenyum kecil.

“Sudahlah.”

Fiona menoleh kepadanya.

“Kau juga jangan tertawa.”

“Aku tidak tertawa.”

“Tapi kau tersenyum.”

“Sedikit.”

Fiona mendengus.

“Pengkhianat.”

Darrien tertawa kecil.

***

Setelah suasana sedikit tenang—

Kevin berjalan mendekati mereka.

Tatapannya kemudian berhenti pada Darrien.

“Hari ini hari keenam.”

Darrien mengangguk.

“Ya.”

“Dan besok?”

“Upacara.”

Kevin mengangguk.

“Benar.”

Ia melihat Darrien dari atas sampai bawah.

Tidak ada luka baru.

Setidaknya tidak ada luka serius dari hari sebelumnya.

Kevin kemudian menghela napas.

“Kalau begitu…”

Ia menatap arena.

“Hari ini latihan terakhir.”

Fiona langsung terlihat lega.

“Syukurlah.”

Kevin menoleh.

“Kenapa kau terlihat senang?”

Fiona tersenyum.

“Karena besok tidak ada latihan.”

Kevin mengangkat alis.

“Untuk Darrien.”

Fiona terdiam.

“…Ya.”

Ace tertawa kecil.

“Dia hampir saja lupa siapa korban sebenarnya.”

Darrien menatap Ace.

“Aku masih di sini.”

Ace mengangkat kedua tangan.

“Aku tahu.”

Kevin kembali menatap Darrien.

“Besok kau akan berdiri di depan banyak orang.”

“Kerajaan dan wilayah lain akan datang.”

Darrien mengangguk.

“Aku tahu.”

“Jadi aku tidak akan memberimu luka yang tidak perlu.”

Fiona langsung menghela napas lega.

“Bagus.”

Kevin menoleh kepadanya.

“Aku tidak bilang aku akan lembut.”

Fiona terdiam.

“…Aku menarik kembali rasa legaku.”

Rowan tertawa kecil.

Kevin kembali menatap Darrien.

“Hari ini aku hanya ingin melihat sesuatu.”

“Apa?”

“Seberapa jauh kau benar-benar berkembang.”

Darrien terdiam.

Ia melihat arena.

Kemudian kembali melihat Kevin.

“Setelah lima hari?”

“Setelah lima hari.”

Darrien tersenyum kecil.

“Kalau begitu…”

Ia melangkah ke dalam arena.

“…aku juga ingin melihatnya.”

***

Fiona berdiri di luar batas arena.

Ace dan Rowan berada tidak jauh darinya.

Elarion juga ikut berdiri di sana.

Namun kali ini—

Elarion tidak langsung memberikan nasihat.

Ia hanya mengamati.

Fiona memperhatikan.

“Kau tidak mau mengatakan apa-apa?”

Elarion menggeleng.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena hari ini bukan waktuku.”

Fiona mengerutkan kening.

“Maksudnya?”

Elarion tersenyum.

“Darrien sudah mendengar cukup banyak dariku selama lima hari.”

Ia melihat arena.

“Sekarang dia harus menggunakan apa yang sudah dia pelajari.”

Fiona mengangguk.

“Masuk akal.”

Ace menyilangkan tangan.

“Dan kalau dia gagal?”

Elarion menjawab tenang.

“Dia belajar dari kegagalannya.”

Rowan menatapnya.

“Kalau Kevin membuatnya pingsan?”

Elarion diam sebentar.

“Kalau begitu…”

Ia menghela napas.

“…kita bawa dia kembali.”

Fiona langsung menatapnya.

“Itu tidak menenangkan.”

Ace tertawa.

“Memang.”

***

Di tengah arena—

Darrien berdiri berhadapan dengan Kevin.

Angin pagi melewati keduanya.

Tidak ada suara.

Kevin mengangkat tangannya.

“Mulai.”

Darrien tidak langsung bergerak.

Ia mengingat kembali semua latihan sebelumnya.

Hari pertama—

ia bahkan kesulitan mengikuti gerakan Kevin.

Hari kedua—

ia mulai membaca arah serangan.

Hari ketiga—

ia mulai memahami pola.

Hari keempat—

ia belajar menggunakan pengamatan Elarion.

Hari kelima—

ia mulai bisa bertahan lebih lama.

Dan hari ini—

ia tidak ingin sekadar bertahan.

Kevin bergerak.

Cepat.

Darrien menggeser tubuhnya.

Serangan melewati bahunya.

**BOOM!**

Tanah di belakangnya retak.

Darrien tidak menoleh.

Ia langsung memutar tubuh.

Serangan balasan.

Kevin menahannya.

**CLANG!**

Keduanya mundur.

Kevin tersenyum tipis.

“Tidak buruk.”

Darrien menarik napas.

“Terima kasih.”

“Jangan senang dulu.”

Kevin menghilang dari pandangannya.

Darrien langsung memutar tubuh.

**BOOM!**

Serangan datang dari samping.

Namun kali ini—

Darrien sudah bergerak lebih dulu.

Ia menunduk.

Serangan melewati kepalanya.

Darrien membalas dari bawah.

Kevin menahan.

Keduanya kembali beradu.

**CLANG!**

Fiona menahan napas.

Ace dan Rowan saling pandang.

“Dia lebih cepat.”

Rowan mengangguk.

“Jauh lebih cepat.”

Elarion tersenyum tipis.

“Bukan hanya cepat.”

Ace menoleh.

“Lalu?”

“Dia tidak lagi menunggu serangan datang.”

Elarion menatap Darrien.

“Dia mulai membaca niat.”

***

Kevin kembali menyerang.

Satu.

Dua.

Tiga.

Darrien menghindar.

Tidak sempurna.

Namun cukup.

Serangan keempat datang.

Darrien memutar tubuh.

Kelima.

Ia mundur.

Keenam—

Darrien melangkah maju.

Kevin sedikit terkejut.

Darrien menyerang.

**CLANG!**

Kevin menahan.

Namun—

kakinya bergeser.

Satu langkah.

Arena menjadi sunyi.

Darrien juga berhenti.

Kevin melihat kakinya sendiri.

Kemudian—

ia menatap Darrien.

Senyum kecil muncul.

“Bagus.”

Darrien mengangkat alis.

“Benarkah?”

“Ya.”

Kevin mengangkat tangannya lagi.

“Tapi jangan salah paham.”

Darrien tersenyum.

“Aku tahu.”

“Belum selesai.”

“Aku juga tahu.”

Kevin tertawa kecil.

“Bagus.”

Ia mengambil posisi kembali.

Namun kali ini—

tatapannya berubah.

Tidak lagi seperti seseorang yang sedang menghukum muridnya.

Tidak lagi seperti seseorang yang sedang melakukan balas dendam karena liburannya dibatalkan.

Kini—

Kevin benar-benar melihat Darrien sebagai lawan yang layak diuji.

***

Fiona memperhatikan dari luar arena.

Ia tersenyum.

“Darrien sudah jauh lebih baik.”

Elarion mengangguk.

“Ya.”

“Apakah dia bisa menang?”

Elarion tertawa kecil.

“Itu pertanyaan yang berbeda.”

Fiona menghela napas.

“Jadi?”

“Kalau kau bertanya apakah dia sudah berkembang…”

Elarion menatap arena.

“Jawabannya jelas.”

Fiona tersenyum.

“Bagus.”

Ace tiba-tiba menyela.

“Jangan terlalu senang.”

Fiona menoleh.

“Kenapa?”

Ace menunjuk arena.

Kevin baru saja meningkatkan kecepatannya.

Darrien hampir terkena serangan.

Fiona langsung menegang.

“Darrien!”

Darrien mendengar suaranya.

Ia tersenyum.

“Aku baik-baik saja!”

Kevin langsung berkata,

“Jangan bicara saat bertarung!”

Darrien tertawa.

“Baik!”

Fiona menggeleng.

“Dua orang itu…”

Rowan menghela napas.

“Memang cocok.”

Fiona menoleh.

“Apa?”

Rowan tersenyum.

“Tidak ada.”

***

Pertarungan terus berlangsung.

Namun kali ini—

tidak ada rasa terburu-buru.

Darrien mulai memahami ritme Kevin.

Ia tahu kapan harus menyerang.

Kapan harus mundur.

Kapan harus menunggu.

Dan yang paling penting—

ia mulai memahami bahwa melawan Kevin bukan tentang menjadi lebih kuat darinya.

Tetapi tentang bertahan cukup lama untuk menemukan celah.

Kevin menyerang.

Darrien menghindar.

Serangan berikutnya datang.

Darrien memutar.

Kemudian—

ia melihat celah.

Kecil.

Sangat kecil.

Namun ada.

Darrien bergerak.

Kevin menyadarinya.

Keduanya menyerang pada saat yang hampir bersamaan.

**BOOM!**

Debu memenuhi arena.

Fiona berdiri.

“Darrien!”

Debu perlahan turun.

Darrien masih berdiri.

Kevin juga.

Keduanya saling menatap.

Kemudian Kevin tertawa.

“Bagus.”

Darrien menarik napas.

“Sekali lagi?”

Kevin menggeleng.

“Cukup.”

Darrien terkejut.

“Sudah?”

Kevin mengangguk.

“Ya.”

Ia melihat matahari.

“Sudah cukup untuk hari ini.”

Darrien menatapnya.

Kevin tersenyum.

“Dan aku tidak ingin kau masuk upacara besok dengan wajah seperti habis perang.”

Ace langsung tertawa.

“Dengar itu!”

Rowan ikut tertawa.

Fiona tersenyum lega.

Darrien mengusap keringat di wajahnya.

“Jadi benar-benar selesai?”

Kevin mengangguk.

“Untuk latihan.”

Kemudian ia menatap Darrien.

“Namun…”

Darrien langsung waspada.

Kevin tersenyum.

“Jangan berpikir aku tidak akan mengawasimu besok.”

Darrien menghela napas.

“Aku sudah menduganya.”

Kevin berjalan melewatinya.

Kemudian berhenti.

“Dan Darrien.”

“Hm?”

Kevin tidak menoleh.

“Lima hari lalu…”

Ia berhenti sejenak.

“…kau bahkan tidak bisa membuatku mundur.”

Darrien tersenyum.

“Sekarang?”

Kevin meliriknya dari sudut mata.

“Sekarang…”

Senyum tipis muncul.

“…kau sudah membuatku memperhatikan.”

Kemudian Kevin pergi.

Fiona langsung berlari mendekati Darrien.

“Kau dengar itu?”

Darrien tersenyum.

“Ya.”

“Dia memujimu!”

“Sepertinya.”

Ace berjalan mendekat.

“Bukan cuma memuji.”

Rowan mengangguk.

“Dia mengakui perkembanganmu.”

Elarion juga akhirnya masuk ke arena.

Ia melihat Darrien.

“Bagaimana rasanya?”

Darrien berpikir sebentar.

“Lelah.”

Fiona tertawa.

“Jawaban paling jujur.”

Darrien ikut tertawa.

Namun ia kemudian melihat arena yang sudah dipenuhi bekas pertarungan.

Enam hari.

Begitu banyak latihan.

Begitu banyak rasa sakit.

Begitu banyak kegagalan.

Namun—

ia merasa berbeda.

Lebih tenang.

Lebih tajam.

Lebih percaya diri.

Darrien menatap tangannya sendiri.

“Besok…”

Fiona menoleh.

“Ya?”

Darrien tersenyum.

“Upacara.”

Fiona mengangguk.

“Dan tidak ada Kevin.”

Darrien terdiam.

Kemudian tersenyum lebar.

“Benar.”

Ace tertawa.

Rowan ikut tertawa.

Elarion hanya menggeleng.

Dari kejauhan—

suara Kevin tiba-tiba terdengar.

“Jangan terlalu senang.”

Semua orang terdiam.

Fiona menoleh.

Kevin masih berjalan menjauh.

Ia mengangkat tangan tanpa menoleh.

“Besok aku tetap akan melihat.”

Darrien menghela napas.

Fiona tertawa.

“Dia benar-benar tidak bisa berhenti.”

Ace mengangguk.

“Begitulah Kevin.”

Hari keenam—

akhirnya berakhir.

Dan besok—

seluruh kerajaan Veyth akan membuka gerbangnya.

Para tamu akan tiba.

Upacara pewaris akan dimulai.

Namun tidak seorang pun di antara mereka tahu—

bahwa di balik pesta besar itu…

jawaban tentang Fiona mungkin juga sedang perlahan mendekat.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience