260.Dendam Kevin Dimulai

Romance Series 382

BAB 260

Pagi kembali menyelimuti Istana Veyth.

Kabut tipis masih menggantung di atas lapangan latihan ketika Darrien tiba.

Untuk sesaat—

ia berharap Kevin belum datang.

Ia melihat ke kiri.

Kosong.

Ke kanan.

Kosong.

Darrien menghela napas lega.

“Mungkin hari ini…”

“Pagi.”

Darrien langsung membeku.

Suara itu datang dari belakangnya.

Ia perlahan menoleh.

Kevin sudah berdiri di sana.

Dengan ekspresi tenang.

Dan—

terlalu tenang.

Darrien menatapnya curiga.

“Kau datang lebih awal.”

“Ya.”

“Berapa lama kau sudah di sini?”

“Cukup lama.”

Darrien menghela napas.

“Kenapa aku merasa hari ini akan buruk?”

Kevin tidak menjawab.

Ia hanya menunjuk ke arah arena.

Darrien mengikuti arah pandangannya.

Kemudian—

diam.

Arena latihan hari ini sudah berubah.

Bukan hanya beberapa magical dummy seperti sebelumnya.

Puluhan boneka sihir berdiri tersebar di seluruh lapangan.

Beberapa memiliki tubuh besar.

Beberapa lainnya jauh lebih kecil.

Ada yang bergerak perlahan.

Ada yang berdiri diam.

Namun aura mereka—

berbeda.

Sebagian hampir tidak bisa dirasakan.

Darrien menatap semuanya.

“…Ini semua?”

“Ya.”

Darrien menghela napas.

“Berapa lama aku harus bertahan?”

Kevin menjawab datar.

“Sampai kau bisa.”

Darrien menatapnya.

“Itu bukan jawaban.”

“Itu jawaban.”

Darrien mengusap wajah.

“Baiklah.”

Ia memasuki arena.

Begitu kakinya melewati batas—

penghalang langsung aktif.

Cahaya transparan membentuk beberapa lapisan di sekeliling arena.

Darrien menarik napas.

Kevin berdiri di luar.

“Hari ini berbeda.”

Darrien menatapnya.

“Karena jumlah dummy?”

“Bukan.”

Kevin mengangkat satu tangan.

“Hari ini tidak ada latihan terpisah.”

Darrien mengerutkan kening.

“Kau akan menggunakan semuanya.”

Ia menunjuk Darrien.

“Indra.”

“Kecepatan.”

“Pengamatan.”

“Pernapasan.”

“Kontrol mana.”

“Dark magic.”

Darrien terdiam.

Kemudian Kevin menambahkan—

“Dan tidak ada chant.”

Darrien menatapnya.

“…Aku mulai menyesal datang pagi-pagi.”

Kevin mengabaikannya.

“Mulai.”

***

Seketika—

seluruh magical dummy bergerak.

Darrien menarik napas.

Tenang.

Ia tidak langsung menyerang.

Matanya bergerak.

Satu.

Dua.

Tiga.

Puluhan pergerakan.

Ia merasakan perubahan mana dari berbagai arah.

Langkah pertama datang dari belakang.

Darrien berputar.

**CLANG!**

Serangan pertama ditahan.

Dummy kedua datang dari kanan.

Darrien menunduk.

Serangan melewati atas kepalanya.

Dummy ketiga menyerang dari kiri.

Darrien melompat.

Dalam udara—

dark mana mengalir ke tangannya.

Tidak ada chant.

Tidak ada mantra.

Hanya kehendak.

Sebuah bilah hitam terbentuk.

Darrien mengayunkannya.

**BOOM!**

Dummy pertama hancur.

Namun tiga lainnya sudah berada di belakangnya.

Darrien mendarat.

Ia menarik napas.

Kemudian bergerak.

***

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lima belas menit.

Darrien terus bergerak.

Serang.

Hindar.

Putar.

Mundur.

Maju.

Magic.

Tanpa chant.

Ia mulai menggunakan lebih sedikit mana.

Tidak lagi mengeluarkan serangan besar untuk menghancurkan satu dummy.

Satu lapisan dark magic melapisi senjatanya.

Satu tebasan.

**CRACK!**

Hancur.

Berikutnya.

Satu gerakan.

Satu serangan.

Tidak berlebihan.

Kevin mengawasi.

Tidak mengatakan apa-apa.

Darrien mulai tersenyum.

“Aku mengerti.”

Ia menghindari serangan.

“Jangan membuang tenaga.”

Ia menebas.

“Gunakan yang dibutuhkan.”

Ia berputar.

“Jaga napas.”

Ia melompat.

“Baca gerakan.”

Satu dummy muncul di belakangnya.

Darrien bahkan tidak menoleh.

Indranya sudah menangkap perubahan mana.

Ia bergerak ke samping.

Serangan lewat.

Darrien membalas.

**BOOM!**

Hancur.

Darrien mendarat dengan mulus.

Napasnya tetap stabil.

Ia tersenyum.

“Lebih baik.”

Kevin akhirnya berkata,

“Ya.”

Darrien menatapnya.

“Kau mengakuinya?”

“Jangan terlalu senang.”

Darrien menghela napas.

“Benar juga.”

***

Kemudian—

Kevin mengangkat tangan.

Arena berubah.

Kecepatan magical dummy meningkat.

Darrien langsung menyadarinya.

“…”

Satu datang.

Dua.

Empat.

Delapan.

Serangan mulai bertumpuk.

Darrien bergerak semakin cepat.

Namun kali ini—

ia tidak memaksakan kecepatan.

Ia memperpendek gerakannya.

Satu langkah.

Putar.

Hindar.

Serang.

Satu langkah.

Mundur.

Serang.

Napas.

Tarik.

Buang.

Tetap tenang.

Namun kemudian—

satu serangan datang dari titik buta.

Darrien terlambat.

**BOOM!**

Tubuhnya terlempar.

Ia berguling.

Berhenti.

Darrien mengerang.

“Yang itu tidak adil.”

Kevin menjawab,

“Musuh tidak memiliki kewajiban untuk adil.”

Darrien berdiri.

“Baik.”

Ia mengusap darah dari bibirnya.

“Lagi.”

Kevin mengangguk.

“Lagi.”

***

Pertarungan kembali dimulai.

Kali ini Darrien tidak hanya mengandalkan penglihatan.

Ia menggunakan seluruh indranya.

Ia merasakan mana.

Mendengar perubahan udara.

Membaca langkah.

Mengamati gerakan bahu.

Merasakan perubahan pusat gravitasi.

Dan perlahan—

semuanya mulai menyatu.

Tidak lagi menjadi beberapa kemampuan terpisah.

Mereka menjadi satu.

Tubuhnya bergerak sebelum pikirannya selesai memproses.

Dark magic muncul tanpa chant.

Tidak ada lingkaran sihir besar.

Tidak ada ledakan yang tidak diperlukan.

Hanya—

kehendak.

Dan sihir merespons.

Kevin memperhatikan.

Namun tetap diam.

***

Beberapa saat kemudian—

Darrien mulai kelelahan.

Napasnya semakin berat.

Keringat mengalir dari dahinya.

Namun ia memaksa dirinya untuk tidak kehilangan ritme.

Tarik napas.

Buang.

Tarik.

Buang.

Ia mengingat apa yang telah Kevin ajarkan.

Jangan melawan kelelahan.

Atur.

Gunakan tubuh.

Gunakan mana seperlunya.

Jangan membuang tenaga.

Satu dummy menyerang.

Darrien menghindar.

Dua lainnya datang.

Ia memutar tubuh.

Dark magic membentuk bilah pendek di tangannya.

**CLANG!**

Satu serangan.

**CRACK!**

Dummy hancur.

Yang lain menyerang.

Darrien menurunkan pusat gravitasinya.

Menghindar.

Kemudian—

serangan balik.

**BOOM!**

Hancur.

Ia menarik napas.

Masih tenang.

Namun—

Kevin tiba-tiba masuk ke arena.

Darrien langsung membeku.

“…Kau ikut?”

“Ya.”

“Kenapa?”

“Karena kau mulai nyaman.”

Darrien menghela napas.

“Tentu saja.”

Kevin bergerak.

Darrien langsung menghindar.

**CLANG!**

Serangan kedua.

Darrien membaca bahu.

Menghindar.

Serangan ketiga.

Darrien membaca kaki.

Bergerak.

Kevin mengubah arah.

Darrien mengikuti.

**CLANG!**

Darrien membalas.

Kevin menahan.

Mereka bergerak semakin cepat.

Tidak ada kata-kata.

Hanya suara benturan senjata dan langkah kaki.

Darrien mulai menemukan ritmenya.

Namun Kevin terus mengubahnya.

Darrien tidak lagi mencari pola tetap.

Ia membaca perubahan.

Itulah yang berbeda.

***

Pertarungan berlangsung lama.

Darrien jatuh.

Bangkit.

Jatuh lagi.

Bangkit lagi.

Namun kali ini—

setiap kali ia jatuh, ia tahu mengapa.

Dan setiap kali berdiri—

ia memperbaikinya.

Akhirnya—

Kevin menyerang dari kiri.

Darrien menghindar.

Kevin mengubah arah.

Darrien mengikuti.

Kevin mempercepat.

Darrien memperpendek langkah.

Kevin menghilang.

Darrien memejamkan mata sepersekian detik.

Indranya menangkap mana.

Ia berputar.

Dark magic mengalir ke tangannya.

Tanpa chant.

**CLANG!**

Serangan Kevin tertahan.

Darrien tersenyum.

“Aku menemukannya.”

Kevin menatapnya.

“Bagus.”

Darrien menarik napas.

Tenang.

Stabil.

Kemudian—

Kevin mundur.

Untuk pertama kalinya—

ia tidak langsung mengatakan “lagi.”

Darrien menatapnya.

“Kita selesai?”

Kevin diam beberapa detik.

Kemudian mengangguk.

“Untuk hari ini.”

Darrien hampir jatuh karena lega.

“Syukurlah.”

Kevin berjalan melewatinya.

Namun sebelum pergi—

ia berhenti.

“Darrien.”

Darrien menoleh.

“Ya?”

Kevin melihatnya sebentar.

“Kau sudah mulai memahami gaya bertarungku.”

Darrien terdiam.

Kalimat sederhana itu—

berarti banyak.

Karena selama beberapa hari terakhir—

Kevin tidak pernah memberinya pujian dengan mudah.

Darrien tersenyum.

“Benarkah?”

“Belum sempurna.”

Darrien langsung menghela napas.

“Tentu saja.”

“Tapi…”

Kevin melanjutkan.

“…kau sudah tidak membuang tenaga seperti sebelumnya.”

Darrien melihat tangannya.

Dark mana kecil masih berputar di antara jarinya.

Tanpa chant.

Tanpa ledakan.

Sepenuhnya terkendali.

Ia tersenyum.

“Aku akan terus memperbaikinya.”

Kevin mengangguk.

“Bagus.”

Darrien menatapnya curiga.

“Tunggu.”

Kevin berjalan pergi.

Darrien menyipitkan mata.

“Kenapa kau bilang ‘bagus’?”

Kevin berhenti sebentar.

Kemudian menoleh.

“Karena besok kita lanjutkan.”

Darrien membeku.

“…Besok?”

“Ya.”

Darrien menatap langit.

Kemudian menghela napas panjang.

“Kenapa aku berharap jawabannya berbeda?”

Dari luar arena—

Fiona tertawa kecil.

Elarion hanya menghela napas.

Ace dan Rowan saling berpandangan.

Ace berbisik,

“Sepertinya Kevin belum selesai membalas dendam.”

Rowan mengangguk.

“Belum.”

Darrien mendengar mereka.

Ia menoleh.

“Kalian!”

Ace dan Rowan langsung tertawa.

Namun di balik semua keluhan itu—

Darrien tahu sesuatu.

Ia telah berubah.

Gerakannya lebih ringan.

Napasnya lebih stabil.

Penggunaan mananya lebih hemat.

Indranya lebih tajam.

Dan dark magic yang dulu membutuhkan chant—

kini dapat bergerak hanya dengan kehendaknya.

Ia belum sempurna.

Namun—

ia sudah berada di jalan yang benar.

Dan tanpa mereka sadari—

setiap langkah latihan itu sedang mempersiapkan Darrien untuk sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar ujian Kevin.

Sesuatu yang menunggu mereka—

di Lunaris.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience