Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 436 — LANGKAH KEDUA MENUJU SHADOWCRESENT
Beberapa minggu kembali berlalu.
Veyth tidak berhenti.
Percobaan teleportasi dilakukan hampir setiap hari.
Kadang berhasil.
Kadang gagal.
Beberapa kali bahkan seluruh lingkaran sihir harus dibongkar dan dibuat ulang.
Namun perlahan...
mereka semakin memahami teknik tersebut.
Jarak yang sebelumnya terasa mustahil kini mulai dapat ditempuh dalam satu lompatan.
Kemudian dua.
Kemudian lebih jauh lagi.
Namun setelah mencapai batas lapisan yang mereka kuasai, mereka berhenti memaksakan diri.
Mereka tahu bahwa mencoba menembus lapisan berikutnya tanpa pemahaman yang cukup hanya akan membahayakan mereka sendiri.
Maka penelitian berlanjut.
Bukan lagi sekadar tentang jarak.
Tetapi tentang **mengapa teleportasi vampire bekerja berbeda.**
***
Suatu pagi...
pintu ruang penelitian Veyth terbuka.
Elyon masuk.
Di belakangnya, Sylvester membawa beberapa buku tua.
Tumpukannya hampir menutupi wajahnya.
Ace menoleh.
Kemudian tertawa.
"Astaga."
Sylvester berhenti.
"Apa?"
"Kau kelihatan seperti rak buku berjalan."
Sylvester menatap buku-buku di tangannya.
"Aku tahu."
Elyon berjalan melewati mereka.
"Aku menemukan sesuatu."
Kalimat itu langsung membuat suasana berubah.
Darrien mengangkat wajah.
Elarion menutup bukunya.
Kevin menghentikan percobaannya.
Rowan segera berdiri.
Elyon meletakkan sebuah buku tua di atas meja.
"Aku menemukan beberapa catatan yang saling berhubungan."
Ia membuka halaman yang sudah sangat tua.
"Catatan ini membahas vampire kuno."
Elarion mendekat.
"Usia?"
"Lebih dari lima ribu tahun."
Ruangan menjadi sunyi.
Elyon menunjuk diagram.
"Yang menarik bukan usia catatannya."
Ia mengetuk simbol di tengah halaman.
"Melainkan cara mereka menjelaskan hubungan vampire dengan ruang."
Kevin mengerutkan kening.
"Teleportasi?"
"Bukan."
Elyon menggeleng.
"Lebih dalam."
Ia membalik halaman.
"Menurut catatan ini, vampire kuno tidak sekadar menggunakan mana untuk memindahkan tubuh."
Darrien menatap diagram.
"Lalu?"
"Mereka memiliki semacam resonansi."
Elyon menunjuk simbol yang menyerupai lingkaran dengan beberapa lapisan.
"Ruang mengenali mereka."
Ace mengerutkan kening.
"Ruang mengenali vampire?"
"Kurang lebih."
Elyon mengambil napas.
"Semakin tinggi kedudukan dan kekuatan seorang vampire, semakin kuat pula resonansi tersebut."
Kevin langsung memahami.
"Jadi kekuatan mereka bukan hanya berasal dari mana?"
"Benar."
Elyon menatap mereka.
"Setidaknya menurut catatan ini."
Darrien terdiam.
Pikirannya kembali pada satu kejadian.
Tatapan Raizen.
Tubuhnya yang dipaksa berlutut.
Tekanan yang tidak membutuhkan mantra.
Tidak membutuhkan gerakan.
Hanya...
tatapan.
Elyon melihat ekspresi Darrien.
"Kau memikirkan hal yang sama?"
Darrien mengangguk.
"Ya."
Elyon menunjuk bagian lain dari catatan.
"Ini mungkin menjelaskan sedikit."
Ia membaca simbol kuno itu.
"Vampire dengan resonansi tinggi dapat memberikan tekanan langsung kepada makhluk lain melalui dominasi spiritual."
Ace menatapnya.
"Jadi tatapan itu?"
"Mungkin."
Ace langsung mengusap tengkuknya.
"Bagus."
Kevin meliriknya.
"Apa?"
"Aku tidak ingin tahu lebih banyak."
Elarion hampir tersenyum.
"Terlambat."
***
Elyon kemudian membuka catatan lainnya.
"Namun ada sesuatu yang lebih penting."
Semua kembali memperhatikannya.
"Resonansi tersebut tidak hanya berada di dalam tubuh."
Elyon menunjuk peta kuno.
"Catatan ini menyebutkan bahwa vampire dengan kekuatan sangat tinggi dapat membangun hubungan antara dirinya dan wilayah tempat mereka berkuasa."
Rowan menatap peta.
"Wilayah?"
"Ya."
Elyon menggeser jarinya mengikuti garis-garis yang menghubungkan beberapa titik.
"Ketika hubungan itu terbentuk, ruang di wilayah tersebut dapat merespons keberadaan vampire itu."
Kevin perlahan mengerti.
"Jadi..."
Ia menatap Elarion.
"Shadowcresent bukan hanya memiliki sistem teleportasi."
Elarion menyelesaikan kalimatnya.
"Wilayahnya sendiri menjadi bagian dari sistem."
Elyon mengangguk.
"Itu yang mulai kupikirkan."
Darrien menatap peta lama itu.
"Kalau begitu selama ini kita mencari jalan yang salah."
"Sebagian."
Elyon menatapnya.
"Kalian mencari cara untuk masuk."
Ia menutup buku.
"Sedangkan Shadowcresent mungkin tidak memiliki satu jalan masuk."
Ruangan kembali hening.
Ace perlahan mengangkat tangan.
"Jadi..."
Semua menoleh.
"Kerajaannya sendiri adalah perangkap?"
Elyon tersenyum tipis.
"Kurang lebih."
Ace menurunkan tangannya.
"Bagus."
Ia menghela napas.
"Kenapa kita masih mau pergi ke sana?"
Darrien menatapnya.
"Karena Fiona ada di sana."
Ace terdiam.
"...Benar."
***
Beberapa jam kemudian...
seluruh anggota Veyth berkumpul.
Peta Shadowcresent terbentang di atas meja.
Elyon menjelaskan semua yang mereka ketahui.
Elarion menambahkan hasil penelitian teleportasi.
Kevin menjelaskan batas lapisan yang telah mereka capai.
Rowan menunjukkan jalur-jalur yang mungkin digunakan.
Dan Darrien berdiri di depan semuanya.
"Kali ini kita tidak akan masuk secara membabi buta."
Ia menunjuk peta.
"Kita gunakan teleportasi dalam beberapa tahap."
Kevin mengangguk.
"Kita bisa berpindah lebih jauh daripada sebelumnya."
"Dan jika salah satu titik gagal?"
"Kita kembali ke titik sebelumnya."
Elarion menambahkan,
"Jangan gunakan seluruh energi dalam satu percobaan."
Darrien mengangguk.
"Kita tidak membutuhkan satu lompatan besar."
Ia menatap peta.
"Kita hanya membutuhkan langkah yang cukup banyak."
Ace mengangkat tangan.
"Pertanyaan."
Darrien menoleh.
"Ya?"
"Kalau kita sampai di gunung..."
Ace menunjuk peta.
"...dan tiba-tiba gunungnya memutuskan untuk memindahkan kita lagi?"
Kevin menahan tawa.
"Itu bukan gunung."
"Bagiku sama saja."
Darrien menghela napas.
Namun kali ini...
ia tersenyum tipis.
"Kita akan mencari tahu."
***
Persiapan dimulai.
Peralatan dikumpulkan.
Ramuan disiapkan.
Rune teleportasi diperiksa berulang kali.
Setiap orang memastikan perlengkapan mereka.
Tidak ada yang ingin mengulangi kejadian sebelumnya.
Mereka telah dipulangkan oleh Shadowcresent lebih dari sekali.
Kali ini...
mereka tidak berniat pulang dengan tangan kosong.
***
Beberapa hari kemudian.
Di kejauhan...
pegunungan Shadowcresent kembali terlihat.
Kabut tipis menyelimuti lerengnya.
Darrien berdiri di depan kelompok.
Matanya tertuju pada gunung.
Sudah terlalu lama.
Terlalu banyak percobaan.
Terlalu banyak kegagalan.
Namun sekarang...
mereka membawa sesuatu yang sebelumnya tidak mereka miliki.
Pengetahuan.
Pemahaman.
Dan cara baru untuk mendekat.
Darrien mengepalkan tangannya.
"Fiona."
Namanya keluar pelan.
Namun kali ini bukan sebagai doa.
Melainkan janji.
"Aku datang."
Di belakangnya, Ace mengangkat tangan.
"Semua sudah siap."
Kevin mengaktifkan lingkaran pertama.
Cahaya mulai memenuhi tanah.
Elyon berdiri di samping Elarion.
Sylvester memegang buku-buku terakhir yang mereka bawa.
Rowan memeriksa arah.
Dan Darrien menatap gunung sekali lagi.
Kemudian—
mereka menghilang dalam cahaya teleportasi.
***
Jauh di dalam Shadowcresent...
Mufasa membuka matanya.
Ia berdiri di balkon menara perbatasan.
Senyum perlahan muncul di wajahnya.
Kali ini...
getaran ruang itu lebih jelas.
"Jadi kalian benar-benar datang lagi."
Ia berbalik.
Para penjaga vampire yang berada di bawah menara segera berdiri.
Mufasa mengangkat tangannya.
"Semua posisi."
Para vampire bergerak.
Tidak ada kepanikan.
Tidak ada teriakan.
Mereka sudah menunggu kemungkinan ini.
Hutan telah dipersiapkan.
Gunung telah dipersiapkan.
Perangkap telah dipersiapkan.
Dan kali ini...
Mufasa tidak sendirian.
Ia berdiri di atas menara sambil mengamati ruang yang mulai bergetar jauh di luar sana.
"Selamat datang kembali."
Senyumnya semakin lebar.
"Semoga kalian lebih pintar dari terakhir kali."
