Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Series
382
Get the app for full experience
BAB 124
CAHAYA YANG BERBEDA
Pagi semakin tinggi.
Di halaman belakang kediaman Rowan—
Darrien dan Fiona masih berlatih.
Gerakan mereka semakin cepat.
Darrien bergerak ke samping, lalu mencoba mendekati Fiona dari arah lain.
Fiona segera menghindar.
“Lebih cepat.”
Darrien tersenyum.
“Kau mulai terbiasa.”
“Aku sudah sering berlatih.”
Mereka kembali bergerak.
Namun kali ini—
Darrien sedikit salah melangkah.
Lengannya mengenai ujung dahan yang menonjol.
“Ah.”
Sebuah goresan kecil muncul di lengannya.
Darah tipis mengalir.
Fiona langsung berhenti.
“Darrien.”
“Aku tidak apa-apa.”
“Diam.”
Fiona mendekat.
Ia mengambil tangan Darrien dan memeriksa lukanya.
“Hanya goresan.”
“Aku tahu.”
Fiona menghela napas.
“Kalau begitu jangan bergerak.”
Darrien sudah tahu apa yang akan dilakukannya.
“Baik.”
Fiona meletakkan telapak tangannya di atas luka.
Cahaya keemasan lembut muncul.
Energinya mengalir perlahan.
Dalam beberapa detik—
darah berhenti.
Luka menutup.
Kulit kembali seperti semula.
Fiona menarik tangannya.
“Sudah.”
Darrien melihat lengannya.
“Seperti biasa.”
Fiona tersenyum.
“Kau tahu aku sudah bisa melakukan ini sejak dulu.”
“Ya.”
Darrien mengusap bekas luka yang sudah hilang.
“Setidaknya kemampuanmu berguna untuk latihan seperti ini.”
Fiona memelototinya.
“Jangan sengaja terluka hanya supaya aku menyembuhkanmu.”
“Aku tidak akan.”
Mereka kembali tertawa.
Namun—
jauh dari sana—
Elyon membuka matanya.
Ia tidak sedang melihat mereka secara langsung.
Ia hanya menggunakan indranya.
Sejak kembali ke Veyra, ia beberapa kali merasakan energi Fiona.
Samar.
Tenang.
Sulit dibedakan dari aura manusia biasa.
Namun setiap kali Fiona menggunakan sihir penyembuhan—
ada perubahan.
Dan pagi ini, Elyon merasakannya dengan lebih jelas.
Ia terdiam.
“…”
Cahaya itu.
Elyon memperluas indranya sedikit.
Bukan untuk membaca pikiran.
Bukan untuk menyentuh energi Fiona secara langsung.
Hanya mengamati.
Ia merasakan aliran sihir yang keluar dari Fiona.
Lembut.
Tidak agresif.
Tidak seperti sihir penyembuhan biasa yang menggunakan energi sihir untuk mempercepat pemulihan tubuh.
Ada sesuatu yang berbeda.
Seolah-olah cahaya tersebut tidak sekadar memperbaiki luka.
Ia—
menenangkan kehidupan di sekitarnya.
Elyon membuka matanya.
“Jadi ini…”
Ia mengingat catatan yang dibacanya di Perpustakaan Kerajaan.
Kemudian mengingat daun perak.
Daun itu memilih Fiona.
Sekarang ia melihat cahaya yang sama-sama tidak biasa.
Namun ia belum menarik kesimpulan.
“Belum cukup.”
Elyon menarik kembali indranya.
***
Di halaman—
Fiona kembali mengambil posisi.
“Sekali lagi?”
Darrien mengangguk.
“Sekali lagi.”
Mereka mulai berlatih kembali.
Darrien tidak lagi memikirkan luka kecil tadi.
Namun Fiona tiba-tiba bertanya,
“Menurutmu kenapa cahayaku berbeda?”
Darrien menoleh.
“Kau merasa berbeda?”
“Sedikit.”
Ia melihat telapak tangannya.
“Kadang rasanya seperti bukan aku yang mengendalikannya.”
Darrien terdiam.
“Apakah itu membuatmu takut?”
Fiona menggeleng.
“Tidak.”
Ia tersenyum.
“Selama aku masih bisa mengendalikannya.”
Darrien mengangguk.
“Kalau begitu kita pelajari perlahan.”
Fiona tersenyum.
“Bersama?”
“Bersama.”
Mereka kembali berlatih.
***
Di tempat lain—
Elyon berdiri di sebuah jalan yang cukup jauh dari kediaman Rowan.
Ia masih merasakan sisa energi yang baru saja muncul.
Cahaya penyembuhan Fiona.
Elyon telah melihat banyak penyihir selama hidupnya.
Ia tahu berbagai jenis sihir penyembuhan.
Namun energi Fiona terasa berbeda.
Bukan karena kekuatannya.
Melainkan karena sifatnya.
Elyon menyipitkan mata.
“Cahaya…”
Ia terdiam.
Kemudian satu pertanyaan muncul di pikirannya.
Pertanyaan yang sejak tadi ia coba abaikan.
“Bagaimana mungkin seorang manusia biasa memiliki sihir cahaya?”
Ia mengingat kembali apa yang telah ia lihat.
Fiona adalah manusia.
Tidak ada telinga Elf.
Tidak ada ciri fisik bangsa Elf.
Tidak ada aura ras yang jelas.
Namun cahaya yang keluar dari tubuhnya—
murni.
Terlalu murni untuk sekadar sihir penyembuhan biasa.
Elyon menatap ke arah kediaman Rowan.
“Dan kau bahkan tidak menyadarinya.”
Ia menghela napas pelan.
Daun perak itu memilih Fiona.
Fiona memiliki sihir cahaya.
Dan sekarang Kristal Kerajaan Lunaris kembali berdenyut setelah bertahun-tahun tertidur.
Terlalu banyak hal yang terjadi dalam waktu yang berdekatan.
Namun Elyon tidak akan terburu-buru mengambil kesimpulan.
Ia tersenyum tipis.
“Menarik.”
Ia memasukkan tangannya ke dalam jubah.
“Sepertinya aku harus mencari tahu lebih banyak tentangmu, Fiona.”
Kemudian ia berbalik dan berjalan pergi.
Untuk saat ini—
Elyon hanya memiliki satu pertanyaan.
**Bagaimana mungkin seorang manusia biasa memiliki sihir cahaya?**
“Kalau aku ingin mengetahui jawabannya…”
Ia menatap ke arah kediaman Rowan dari kejauhan.
“…aku harus melihat lebih banyak.”
Ia kemudian melanjutkan perjalanan.
Tidak mendekat.
Tidak bertanya.
Belum.
Untuk sekarang—
mengamati sudah cukup.
