67. Jalan Yang Sama

Romance Series 94

Malam semakin larut.

Darrien masih berdiri di balkon.

Ia tidak lagi perlu mencari.

Aura Fiona masih terasa.

Lemah, tetapi nyata.

Di sana.

Di dalam kediaman Ardika.

“Aku bisa merasakannya.”

Ace berdiri di belakangnya.

“Seberapa jelas?”

“Cukup untuk tahu dia masih di sana.”

“Lokasinya?”

Darrien menggeleng.

“Belum tepat.”

Kevin mendekat.

“Karena penghalang.”

Darrien mengangguk.

“Penghalangnya berlapis.”

Ace membuka peta.

“Keluarga Ardika memasang perlindungan tambahan sejak keluarga Varian tiba.”

Elarion melihat peta.

“Kalau begitu kita tidak bisa menerobos.”

Darrien diam.

Ia menatap kediaman itu.

Kemudian berkata,

“Tidak perlu menerobos.”

Semua orang menoleh.

“Kita masuk ketika mereka tidak mengira kita akan masuk.”

Ace tersenyum tipis.

“Sekarang kau mulai berpikir.”

Kevin mengangguk puas.

“Bagus.”

Darrien menunjuk peta.

“Besok.”

Ace mengangkat alis.

“Besok?”

“Pernikahan tinggal beberapa hari.”

Darrien menatapnya.

“Kita tidak punya waktu untuk menunggu.”

***

Di kediaman Ardika…

Fiona masih terjaga.

Ia memegang kunci kecil yang diberikan Lola.

Namun sekarang ada sesuatu yang berbeda.

Ia tahu Darrien sudah dekat.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa benar-benar sendirian.

Fiona memejamkan mata.

Ia mencoba menggunakan indranya.

Sangat pelan.

Tidak seperti Darrien yang telah dilatih keras.

Ia hanya mencari satu aura.

Dan menemukannya.

Sangat jauh.

Namun ada.

Fiona tersenyum.

“Bodoh…”

Ia berbisik.

“Kau benar-benar datang.”

Kemudian ia membuka matanya.

Besok malam.

Itu waktu yang ia pilih.

Saat persiapan pernikahan semakin sibuk.

Saat para pelayan akan keluar masuk.

Saat penjagaan mungkin terpecah.

Ia akan menggunakan pintu belakang kandang.

Namun sekarang…

Fiona memiliki alasan baru untuk bergegas.

Darrien sudah datang.

***

Keesokan harinya.

Darrien, Kevin, Elarion, dan Ace meninggalkan penginapan secara terpisah.

Tidak ada yang berjalan bersama.

Tidak ada yang menggunakan jalan utama.

Mereka bergerak seperti orang biasa.

Ace menjadi yang pertama mendekati wilayah Ardika.

Kevin mengambil jalur lain.

Elarion menunggu di luar.

Darrien bergerak paling terakhir.

Ia berhenti beberapa ratus meter dari kediaman.

Memejamkan mata.

Aura Fiona langsung terasa.

Lebih dekat.

Darrien tersenyum.

“Fiona.”

Namun tiba-tiba—

ia merasakan sesuatu yang lain.

Aura yang jauh lebih kuat.

Beberapa.

Darrien membuka mata.

“Penjaga.”

Kevin muncul dari sisi jalan.

“Ya.”

“Banyak.”

“Karena pernikahan.”

Darrien mengangguk.

Kemudian ia merasakan sesuatu lagi.

Sebuah penghalang.

Bukan satu.

Ada beberapa lapisan.

Namun salah satu lapisan terasa lebih lemah di sisi belakang.

Darrien menunjuk.

“Di sana.”

Kevin melihat.

“Bagaimana kau tahu?”

“Ada aliran sihir yang tidak stabil.”

Kevin tersenyum.

“Bagus.”

Ace muncul beberapa saat kemudian.

“Aku menemukan sesuatu.”

“Apa?”

“Besok malam keluarga Ardika akan mengadakan perjamuan terakhir sebelum pernikahan.”

Darrien menatapnya.

“Semua orang akan berkumpul?”

“Ya.”

Darrien tersenyum.

“Kalau begitu…”

Ia menatap kediaman Ardika.

“…besok malam kita bergerak.”

***

Di dalam kediaman…

Fiona berdiri di depan cermin.

Gaun pernikahan tergantung di belakangnya.

Ia menatapnya lama.

Kemudian mengambil kunci kecil dari sakunya.

Besok malam.

Ia akan pergi.

Dan jauh di luar sana—

Darrien telah memilih malam yang sama.

Dua orang.

Dua rencana.

Satu tujuan.

Bertemu.

Namun mereka belum tahu…

bahwa malam yang sama juga akan menjadi malam ketika keluarga Ardika dan Varian menempatkan seluruh perhatian mereka di satu tempat.

Dan ketika semua orang berkumpul…

satu kesalahan kecil saja akan cukup untuk membuat seluruh rahasia mereka runtuh.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience