30. Perasaan Yang Mulai Berubah

Romance Series 94

BAB 30
PERASAAN YANG MULAI BERUBAH

Musim kembali berganti.

Tanpa mereka sadari, hampir satu setengah tahun telah berlalu sejak Darrien dan Fiona meninggalkan Akasia.

Fiona kini berusia dua belas tahun, sementara Darrien empat belas tahun.

Mereka telah tumbuh jauh berbeda dari anak-anak yang dulu berlari ketakutan meninggalkan panti asuhan.

Namun ada satu hal yang tidak berubah.

Mereka masih selalu bersama.

Pagi itu, Fiona sedang membantu Elarion menjemur beberapa tanaman di halaman.

Darrien baru saja selesai berlatih.

Rambutnya sedikit berantakan dan keringat membasahi wajahnya.

Fiona menoleh.

“Kau selesai?”

“Ya.”

Darrien mengambil kain untuk mengusap wajahnya.

Fiona memperhatikannya beberapa detik lebih lama dari biasanya.

“Kau semakin tinggi.”

Darrien berhenti.

“Hm?”

“Dulu aku hampir setinggi bahumu.”

Ia berdiri di samping Darrien untuk membandingkan tinggi mereka.

Sekarang perbedaannya semakin jelas.

Fiona mendongak.

“Wah…”

Darrien menatapnya.

“Apa?”

“Tidak apa-apa.”

Fiona segera kembali ke tanaman.

Namun entah kenapa, wajahnya terasa sedikit hangat.

Darrien sendiri hanya menggaruk kepalanya.

Ia juga tidak mengerti mengapa Fiona menatapnya seperti itu.

Dari meja di dekat mereka, Elarion diam-diam memperhatikan.

Ia tidak mengatakan apa pun.

Hanya tersenyum kecil.

Siang harinya, mereka pergi ke desa untuk membeli beberapa bahan ramuan.

Saat berjalan di pasar, seorang gadis seusia mereka menghampiri Darrien.

“Kau baru di sini?”

Darrien mengangguk.

“Ya.”

“Aku belum pernah melihatmu sebelumnya.”

Fiona yang berdiri di sampingnya tiba-tiba menjadi diam.

Gadis itu tersenyum kepada Darrien.

“Namaku Lira.”

“Darrien.”

Fiona menatap mereka.

Entah mengapa, ia merasa tidak nyaman.

Lira kemudian menoleh kepadanya.

“Dan kau?”

“Fiona.”

“Kalian saudara?”

Pertanyaan itu membuat Fiona terdiam.

Darrien juga tidak langsung menjawab.

Mereka memang selalu dianggap seperti kakak-adik sejak kecil.

Namun untuk pertama kalinya, jawaban itu terasa aneh.

“Bukan,” jawab Darrien akhirnya.

“Kami tumbuh bersama.”

Fiona menatapnya.

Entah mengapa, ia merasa lega mendengar jawaban itu.

Lira tersenyum.

“Begitu.”

Ia kembali berbicara dengan Darrien beberapa saat.

Fiona hanya berdiri di samping mereka.

Namun ketika mereka akhirnya pergi, Fiona berjalan lebih cepat dari biasanya.

Darrien mengejarnya.

“Ada apa?”

“Tidak ada.”

“Kau marah?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa berjalan cepat?”

Fiona berhenti.

Ia menatap Darrien.

“Aku tidak suka gadis tadi.”

Darrien berkedip.

“Kenapa?”

Fiona membuka mulut.

Namun tidak menemukan jawaban.

“Aku… tidak tahu.”

Darrien terdiam.

Kemudian ia tersenyum kecil.

“Kalau begitu, tidak perlu dipikirkan.”

Fiona mengangguk.

Mereka melanjutkan perjalanan.

Namun tanpa mereka sadari, sesuatu telah berubah.

Mereka masih saling menjaga seperti dulu.

Masih saling menggenggam tangan ketika menyeberangi jalan.

Masih duduk berdampingan ketika makan.

Masih berbagi cerita sebelum tidur.

Tetapi sekarang, terkadang ada perasaan aneh yang muncul tanpa alasan.

Perasaan yang belum memiliki nama.

Malam itu, Fiona berbaring sambil memandangi langit-langit kamar.

Ia teringat gadis di pasar.

Kemudian teringat bagaimana Darrien menjawab bahwa mereka bukan saudara.

Entah mengapa, senyum kecil muncul di wajahnya.

Di kamar sebelah, Darrien juga belum tidur.

Ia memikirkan hal yang sama.

Ia tidak mengerti mengapa ketika gadis lain berbicara terlalu lama dengan Fiona, ada sesuatu yang membuat dadanya terasa tidak nyaman.

Mereka belum memahami apa yang sedang terjadi.

Bagi mereka, perasaan itu masih terlalu baru.

Terlalu asing.

Namun perlahan…

ikatan yang selama ini mereka kenal sebagai kebersamaan mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Dan Elarion, yang sudah hidup jauh lebih lama daripada mereka, mungkin adalah satu-satunya orang yang menyadarinya terlebih dahulu.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience