159. Sarapan Pagi

Romance Series 382

BAB 159
SARAPAN PAGI

Fiona akhirnya meninggalkan kamarnya.

Rambutnya masih sedikit berantakan.

Namun wajahnya terlihat lebih cerah setelah tidur cukup.

Ia berjalan menuju ruang makan.

Begitu masuk—

aroma makanan langsung menyambutnya.

Fiona tersenyum.

“Wangi sekali.”

Darrien sudah berada di sana.

Ia duduk sambil menikmati sarapannya.

Begitu melihat Fiona—

ia berhenti sejenak.

Fiona juga berhenti.

Keduanya saling menatap.

Kemudian—

keduanya mengingat kejadian di Danau Veyth.

Wajah Fiona langsung memerah.

Darrien juga terlihat sedikit canggung.

“Selamat pagi.”

“Selamat pagi.”

Fiona duduk di tempatnya.

Beberapa detik berlalu.

Tidak ada yang berbicara.

Kemudian Darrien bertanya,

“Tidurmu nyenyak?”

Fiona mengangguk.

“Cukup.”

“Bermimpi?”

Fiona langsung terdiam.

Ia teringat taman kristal.

Dua peri kecil.

Dan pintu istana.

“Sedikit.”

Darrien menatapnya.

“Mimpi apa?”

Fiona mengambil makanannya.

“Tidak penting.”

Darrien mengangkat alis.

“Kau tersenyum.”

Fiona menatapnya.

“Aku tidak tersenyum.”

“Kau tersenyum.”

“Tidak.”

Darrien tertawa kecil.

Fiona mulai makan.

Namun beberapa saat kemudian—

Elarion masuk ke ruang makan.

Ia terlihat lelah.

Rambutnya sedikit berantakan.

Tangannya masih membawa sebuah botol kecil berisi cairan berwarna keemasan.

Fiona menatapnya.

“Kau belum tidur?”

Elarion menggeleng.

“Tidak cukup.”

Darrien menatap botol itu.

“Eliksir?”

“Masih belum selesai.”

Elarion duduk.

Ia mengambil sarapan.

Fiona memandangnya dengan prihatin.

“Kau harus beristirahat juga.”

“Aku tahu.”

Elarion mulai makan.

“Namun eliksir itu lebih penting.”

Fiona menghela napas.

“Kau sama saja seperti mereka.”

Ia menunjuk ke arah kursi kosong.

“Rowan, Kevin, dan Ace.”

Elarion tertawa kecil.

“Mereka setidaknya sedang tidur.”

***

Tidak lama kemudian—

suara langkah kaki terdengar dari lorong.

Rowan muncul dengan wajah mengantuk.

Kevin mengikutinya.

Ace berjalan paling belakang.

Ketiganya terlihat seperti baru saja bangun dari kuburan.

Kevin langsung duduk.

“Pagi…”

Fiona menahan tawa.

“Kalian terlihat lelah.”

“Karena kami memang lelah.”

Rowan mengambil makanan.

“Jangan pernah kirim aku ke istana lagi.”

Ace mengangguk.

“Setuju.”

Darrien tertawa.

“Kalian baru satu hari pulang.”

“Justru itu.”

Kevin menguap.

“Aku masih trauma dengan kursi ruang pertemuan.”

Fiona akhirnya tertawa.

Suasana ruang makan menjadi lebih ringan.

Tidak ada pembicaraan serius.

Tidak ada penelitian kerajaan.

Tidak ada pertempuran.

Hanya sarapan bersama.

Namun di tengah tawa kecil itu—

Fiona sesekali kembali memikirkan mimpinya.

Dua peri kecil.

Pintu kristal.

Dan istana yang belum pernah ia masuki.

Ia menatap makanannya.

Mungkin malam nanti—

mimpi itu akan kembali.

Atau mungkin tidak.

Fiona tidak tahu.

Untuk sekarang—

ia hanya ingin menikmati sarapannya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience