Completed
594
BAB 511 — SETELAH SEMUANYA BERAKHIR
Beberapa hari telah berlalu sejak Fiona membuka matanya.
Tidak ada lagi suara panik di lorong-lorong Veyth.
Tidak ada lagi healer yang berlari membawa ramuan.
Tidak ada lagi lingkaran sihir yang terus menyala di sekeliling ranjangnya.
Tidak ada lagi seseorang yang harus berteriak,
“Jangan biarkan jantungnya berhenti!”
Hari-hari itu akhirnya menjadi masa lalu.
Fiona sudah bisa berjalan.
Sudah bisa makan sendiri.
Sudah bisa tertawa.
Dan yang paling penting—
dia sudah bisa bernapas tanpa rasa sakit.
Pagi itu, cahaya matahari masuk melalui jendela kamar.
Fiona berdiri di sana cukup lama.
Tangannya menyentuh kaca.
Di luar, taman Veyth terlihat tenang.
Darrien sedang berdiri di bawah pohon.
Menunggunya.
Fiona tersenyum kecil.
Kemudian dia membuka pintu.
“Sudah lama menunggu?”
Darrien menoleh.
“Tidak.”
Fiona mengangkat alis.
“Kau bohong.”
“Sedikit.”
Fiona tertawa.
Suara itu membuat Darrien terdiam beberapa detik.
Entah kenapa, setelah semua yang terjadi—
suara tawa Fiona terasa jauh lebih berharga daripada sebelumnya.
Darrien berjalan mendekatinya.
Tidak terburu-buru.
Tidak menarik tangannya.
Tidak memeluknya tanpa izin.
Dia hanya berhenti di depan Fiona.
“Bagaimana perasaanmu?”
Fiona tersenyum.
“Lebih baik.”
Darrien mengangguk.
Kemudian Fiona mengulurkan tangannya.
Darrien melihat tangan itu.
Lalu menggenggamnya.
Mereka berjalan bersama.
Tidak ada tujuan khusus.
Tidak ada misi.
Tidak ada perang.
Hanya dua orang yang berjalan di taman.
Beberapa bulan terakhir telah mengubah banyak hal.
Fiona kini mengetahui seluruh hidupnya.
Tentang Darrien.
Tentang masa lalu mereka.
Tentang ribuan tahun yang mereka lalui bersama.
Tentang perpisahan.
Tentang penantian.
Tentang semua hal yang telah Darrien ceritakan kepadanya selama berbulan-bulan ketika dia berusaha mencari jalan untuk menemukannya.
Dan kini—
Fiona juga mengetahui tentang Raizen.
Nama itu masih berada di dalam hatinya.
Bukan sebagai luka.
Bukan sebagai kebencian.
Melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang pernah benar-benar dia jalani.
Fiona berhenti berjalan.
Darrien ikut berhenti.
“Aku masih memikirkannya.”
Darrien tidak bertanya siapa.
Dia sudah tahu.
“Raizen.”
Fiona menatap langit.
“Aku tahu aku memilihmu.”
Darrien diam.
“Aku juga tahu... hidup bersamanya bukan sesuatu yang bisa kuhapus begitu saja.”
Dia menarik napas perlahan.
“Aku pernah bahagia dengannya.”
Darrien menundukkan kepalanya sedikit.
Tidak ada rasa senang mendengar kalimat itu.
Tetapi juga tidak ada kemarahan.
Dia sudah belajar.
Cinta bukan berarti memaksa seseorang menghapus masa lalunya.
“Kalau suatu hari nanti,” Fiona melanjutkan pelan, “Raizen hanya menjadi bagian dari ingatanku... aku rasa itu tidak apa-apa.”
Darrien menatapnya.
Fiona tersenyum tipis.
“Karena ingatan tetaplah bagian dari hidup.”
Darrien menggenggam tangannya sedikit lebih erat.
“Dan sekarang?”
Fiona menoleh kepadanya.
“Sekarang...”
Dia tersenyum.
“Aku ingin bersamamu.”
Sederhana.
Tidak dramatis.
Tidak membutuhkan sumpah kuno.
Tidak membutuhkan sihir.
Hanya sebuah pilihan.
Darrien tersenyum.
“Baik.”
Fiona memiringkan kepala.
“Cuma 'baik'?”
“Kalau aku terlalu banyak bicara, kau akan menyuruhku diam.”
Fiona tertawa.
“Itu benar.”
Dan mereka kembali berjalan.
Di kejauhan—
suara keras tiba-tiba terdengar.
“AYO, DARRIEN!”
Fiona langsung menutup matanya.
“Ah.”
Darrien menghela napas.
“Kevin.”
“VERSI ENAM SUDAH SIAP!”
Fiona menatap Darrien.
Darrien menatap Fiona.
Keduanya sama-sama diam.
Kemudian—
“Tidak.”
Darrien langsung menjawab.
Dari kejauhan, Kevin berteriak.
“Apa?!”
“Aku tidak mau latihan hari ini!”
“KENAPA?!”
“Karena aku baru saja mendapatkan hidupku kembali!”
Kevin menunjuknya dari kejauhan.
“JUSTIFIKASI BURUK!”
Ace yang berdiri di sebelah Kevin langsung tertawa.
“Dia punya alasan kuat, Kevin.”
Rowan mengangguk.
“Untuk pertama kalinya aku setuju dengan Darrien.”
Kevin menatap mereka berdua.
“Jangan ikut campur!”
Ace menepuk bahu Rowan.
“Lihat? Dia marah karena kehilangan korban.”
“Benar.”
Kevin memutar kepala.
“Kalian berdua—”
“Lari, Darrien.”
Rowan berkata datar.
Darrien langsung berlari.
“HEY!”
Kevin mengejar.
“DARRIEN!”
“Aku sedang ingin hidup tenang!”
“VERSI ENAM TIDAK AKAN MENUNGGU!”
“Aku tidak peduli!”
Fiona berdiri di tempat.
Kemudian tertawa.
Di dekat lapangan latihan, Elyon duduk santai dengan sebuah buku di tangannya.
Elarion berada di sebelahnya.
Keduanya sama sekali tidak berniat menghentikan Kevin.
Elyon bahkan tidak mengangkat wajah dari bukunya.
“Berapa lama sampai Kevin berhasil menyeretnya?”
Elarion membalik halaman.
“Lima menit.”
“Empat.”
Mereka mendengar suara Darrien.
“AAAAAH—!”
Elarion menghela napas.
“Sudah mulai.”
Elyon tersenyum.
“Setidaknya dia masih sehat.”
Beberapa meter dari sana—
Kevin akhirnya berhasil menangkap Darrien.
“Dapat!”
“LEPASKAN AKU!”
“VERSI ENAM!”
“AKU BENCI NAMANYA!”
Ace tertawa sampai hampir terjatuh.
Rowan hanya menggelengkan kepala.
Fiona berdiri di taman sambil tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah waktu yang sangat panjang—
dia melihat semuanya sebagai sesuatu yang sederhana.
Teman-temannya.
Keluarganya.
Orang-orang yang berisik.
Orang-orang yang menyebalkan.
Orang-orang yang tetap berada di sisinya ketika dia hampir kehilangan hidup.
Dan dia bahagia.
Bukan karena hidupnya kembali seperti dulu.
Melainkan karena sekarang—
dia tahu hidupnya tidak harus kembali seperti dulu untuk menjadi indah.
Dia hanya perlu menjalaninya.
---
Jauh dari Veyth—
di sebuah kerajaan yang selalu diselimuti cahaya bulan merah—
Shadowcresent tetap berdiri.
Tidak berubah.
Menara-menara kuno masih menjulang.
Kabut masih menggantung di antara pepohonan.
Para vampir masih menjalankan tugas mereka.
Dan di tengah kerajaan itu—
taman mawar hitam masih mekar.
Raizen berdiri di sana.
Seperti biasa.
Sendirian.
Tangannya menyentuh salah satu kelopak mawar.
Tatapannya kosong ke arah bunga-bunga di hadapannya.
Sudah beberapa hari.
Sudah beberapa minggu.
Tetapi dia masih datang ke tempat itu.
Setiap malam.
Mufasa sering melihatnya dari kejauhan.
Tidak pernah mengganggu.
Raizen tidak lagi bertanya tentang Veyth.
Tidak lagi meminta laporan tentang Fiona setiap beberapa jam.
Tidak lagi memerintahkan pasukannya untuk mencari jalan menuju kerajaan manusia.
Tidak lagi mencoba membawa Fiona kembali.
Dia hanya berdiri di taman.
Menatap mawar.
Seolah-olah dengan menatapnya cukup lama—
dia bisa melihat seseorang di antara kelopak hitam itu.
Fiona.
Tawa kecilnya.
Langkahnya.
Suara cerewetnya.
Tangannya yang pernah menyentuh bunga-bunga itu.
Hari-hari ketika Fiona duduk di taman sambil menikmati makanan.
Hari-hari ketika dia tertawa hanya karena sesuatu yang sangat sederhana.
Semua itu masih hidup di dalam ingatannya.
Raizen menutup matanya.
“Fiona...”
Tidak ada jawaban.
Hanya angin.
Dia tersenyum kecil.
“Aku harap kau bahagia.”
Untuk pertama kalinya—
kalimat itu tidak terdengar seperti sebuah harapan untuk mendapatkannya kembali.
Melainkan benar-benar sebuah harapan.
Mufasa berdiri tidak jauh dari sana.
Dia memandang rajanya dalam diam.
Setidaknya—
Raizen masih berada di sana.
Dia masih memimpin Shadowcresent.
Masih menandatangani keputusan kerajaan.
Masih mendengarkan laporan.
Masih melindungi rakyatnya.
Dia tidak meninggalkan semuanya hanya karena kehilangan seseorang.
Mufasa tersenyum tipis.
“Baginda akhirnya belajar juga.”
Raizen membuka matanya.
“Kau mengatakan sesuatu?”
Mufasa langsung berdiri tegak.
“Tidak, Baginda.”
Raizen menatapnya beberapa detik.
Mufasa menahan napas.
Kemudian Raizen kembali melihat taman.
“Pergilah.”
“Baik.”
Mufasa berjalan pergi.
Sebelum meninggalkan taman, dia menoleh sekali lagi.
Raizen masih berdiri di sana.
Di bawah bulan merah.
Di antara mawar hitam.
Sendirian.
Tetapi tidak lagi seperti seseorang yang kehilangan segalanya.
Karena mungkin—
beberapa orang memang tidak ditakdirkan untuk tinggal selamanya.
Sebagian hanya datang untuk mengubah hidup kita.
Kemudian pergi membawa sebagian kecil hati kita bersama mereka.
Dan Raizen akhirnya memahami hal itu.
Dia tidak perlu memiliki Fiona agar apa yang mereka miliki menjadi nyata.
Fiona pernah mencintainya.
Dan itu sudah cukup untuk menjadi bagian dari hidupnya.
Raizen menatap satu mawar hitam yang sedang mekar.
“Selamat tinggal, Fiona.”
Angin malam bergerak perlahan.
Kelopak-kelopak mawar bergoyang.
Dan untuk sesaat—
Raizen tersenyum.
---
Di Veyth—
Fiona duduk di bawah pohon.
Darrien akhirnya berhasil melarikan diri dari Kevin untuk sementara.
Atau setidaknya—
dia mencoba.
Darrien duduk di samping Fiona dengan napas sedikit berat.
“Kevin benar-benar gila.”
Fiona tertawa.
“Dia hanya ingin memastikan kau tetap kuat.”
“Dia ingin membunuhku.”
“Tidak.”
Fiona menatap lapangan.
Kevin sedang berteriak pada Ace dan Rowan.
“VERSI ENAM BELUM SELESAI!”
Fiona tersenyum.
“Dia hanya punya cara yang aneh untuk menunjukkan perhatian.”
Darrien terdiam.
Kemudian dia melihat Fiona.
“Aku senang kau kembali.”
Fiona menoleh.
“Aku juga.”
Dia menyandarkan kepalanya ke bahu Darrien.
Darrien tidak mengatakan apa-apa lagi.
Tangannya hanya menggenggam tangan Fiona.
Hangat.
Nyata.
Fiona memejamkan mata.
Di dalam dirinya masih ada banyak hal yang belum selesai.
Masih ada kenangan.
Masih ada luka.
Masih ada pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah memiliki jawaban sempurna.
Tetapi untuk sekarang—
dia tidak perlu menjawab semuanya.
Dia hanya perlu hidup.
Tertawa.
Makan.
Berjalan.
Bertengkar kecil dengan Darrien.
Mendengar Ace membuat keributan.
Melihat Rowan menghela napas.
Menyaksikan Kevin menyiksa dummy versi enam.
Mendengar Elyon dan Elarion mengeluh tentang kebisingan.
Dan mungkin—
suatu hari nanti—
dia akan kembali melihat mawar hitam.
Bukan untuk kembali.
Hanya untuk mengingat.
Karena masa lalu tidak harus dihapus agar masa depan bisa dimulai.
Fiona membuka matanya.
Dia menatap Darrien.
“Darrien.”
“Hmm?”
“Terima kasih sudah menungguku.”
Darrien tersenyum.
“Aku akan menunggumu lagi kalau perlu.”
Fiona menggeleng.
“Jangan.”
Darrien tertawa kecil.
“Kenapa?”
“Karena aku sudah di sini.”
Darrien terdiam.
Kemudian tersenyum.
“Ya.”
Dia menyandarkan kepalanya perlahan ke kepala Fiona.
“Sekarang kau di sini.”
Matahari mulai turun.
Langit berubah keemasan.
Suara teman-teman mereka masih terdengar dari kejauhan.
Dan untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun—
Fiona tidak takut pada hari esok.
Dia tidak tahu apa yang akan terjadi.
Tidak tahu berapa lama kebahagiaan itu akan bertahan.
Tidak tahu apakah dunia akan kembali membawa perang.
Tidak tahu apakah suatu hari nanti dia akan kembali bertemu Raizen.
Tetapi kali ini—
dia tidak perlu tahu.
Karena hidup bukan tentang mengetahui akhir dari setiap perjalanan.
Kadang-kadang—
hidup hanya tentang memilih langkah berikutnya.
Dan Fiona sudah memilih.
Dia menggenggam tangan Darrien.
Kemudian mereka berjalan pulang bersama.
Meninggalkan taman.
Meninggalkan matahari yang tenggelam.
Meninggalkan masa lalu di belakang mereka.
Bukan dengan melupakannya.
Tetapi dengan menerimanya.
Dan di bawah langit senja Veyth—
kisah mereka akhirnya menemukan kedamaian.
Bukan karena semua luka telah hilang.
Melainkan karena mereka akhirnya belajar hidup bersamanya.
Dan mungkin...
itulah akhir yang paling layak mereka dapatkan.
**TAMAT**
Share this novel