418. Jejak Menuju Shadowcresent

Romance Completed 594

BAB 418 — JEJAK MENUJU SHADOWCRESENT

VEYTH.

Malam telah tiba.

Namun ruang pertemuan kerajaan masih dipenuhi cahaya lampu.

Tidak seorang pun terlihat ingin beristirahat.

Elyon, Elarion, Rowan, dan Ace baru saja kembali dari Lunaris.

Tumpukan buku tua masih berada di atas meja.

Edward berdiri di hadapan mereka.

Gloria berada di sisinya.

Kevin bersandar pada salah satu pilar.

Sementara Darrien berdiri agak jauh dari meja.

Tatapannya kosong.

Sejak pagi—

perasaan aneh itu tidak pernah benar-benar menghilang.

Namun kali ini—

sesuatu berubah.

Darrien tiba-tiba mengangkat kepalanya.

Tatapannya menjadi tajam.

“…”

Kevin langsung menyadarinya.

“Apa?”

Darrien tidak menjawab.

Ia memejamkan mata.

Menarik napas perlahan.

Kemudian—

sebuah jejak magicure terasa di dalam kesadarannya.

Sangat samar.

Namun nyata.

Fiona.

Darrien membuka mata.

“Aku menemukannya.”

Semua orang langsung menoleh.

Edward berdiri.

“Apa maksudmu?”

“Fiona.”

Darrien menatap mereka.

“Aku bisa merasakan keberadaannya.”

Ruangan langsung hening.

Gloria menutup mulutnya dengan tangan.

“Fiona…?”

Darrien mengangguk.

“Segel yang sebelumnya menyembunyikan jejaknya telah hilang.”

Elyon langsung berdiri dari kursinya.

“Jadi…”

Ia melihat Darrien.

“Lokasinya bisa dilacak sekarang?”

“Tidak sepenuhnya.”

Darrien menggeleng.

“Jejaknya masih jauh.”

Namun kali ini—

ada sesuatu.

Sesuatu yang sebelumnya tidak mereka miliki.

Sebuah arah.

Sebuah titik yang dapat mereka ikuti.

Edward langsung berkata,

“Bawa kemari.”

Seorang pelayan segera mendekat.

“Peta.”

“Yang paling lengkap.”

Pelayan tersebut segera pergi.

Darrien berdiri di depan meja.

Beberapa saat kemudian—

sebuah peta besar dibentangkan.

Peta wilayah kerajaan.

Pegunungan.

Hutan.

Sungai.

Wilayah-wilayah yang telah dikenal selama ratusan tahun.

Darrien meletakkan tangannya di atas peta.

Matanya mengikuti jejak magicure yang hanya dapat ia rasakan.

“Di sini…”

Jariny bergerak perlahan.

Kemudian berhenti.

“Tidak.”

Ia menggeser jarinya.

“Lebih jauh.”

Semua orang memperhatikan.

Darrien akhirnya menunjuk sebuah wilayah yang hampir tidak memiliki tanda pada peta.

“Di sekitar sini.”

Elarion langsung mendekat.

“Tidak ada kerajaan di sana.”

“Bukan kerajaan.”

Darrien menatapnya.

“Shadowcresent.”

Nama itu membuat seluruh ruangan kembali diam.

Ace yang sejak tadi diam langsung berdiri.

“Shadowcresent?”

Darrien mengangguk.

“Kita punya lokasinya.”

Edward menatap peta.

“Apakah kau yakin?”

“Ya.”

Darrien mengepalkan tangannya.

“Fiona ada di sana.”

***

Elyon tiba-tiba melihat tumpukan buku di meja.

“Shadowcresent…”

Ia mengulangi nama itu.

Kemudian—

matanya tertuju pada salah satu buku yang mereka bawa dari Lunaris.

“Tunggu.”

Ia mengambil sebuah buku tua.

Membukanya.

Membalik beberapa halaman.

“Ini.”

Elarion mendekat.

“Apa?”

Elyon menunjuk sebuah halaman.

Ada peta kuno.

Jauh lebih sederhana daripada peta modern.

Namun sebuah wilayah ditandai dengan simbol bulan sabit.

Di bawahnya terdapat tulisan kuno.

Rowan langsung mengambil buku tersebut.

“Ini bukan simbol yang kita cari?”

Elyon mengangguk.

“Ya.”

Ace mendekat.

“Jadi selama ini…”

Ia melihat halaman tersebut.

“…petunjuknya memang ada?”

Elarion menggeleng.

“Bukan petunjuk lengkap.”

Ia menunjuk bagian yang rusak.

“Lihat.”

Sebagian halaman telah hilang.

Namun garis pegunungan masih terlihat.

Sungai.

Dan jalur tua menuju wilayah yang sekarang tidak memiliki nama.

Darrien melihatnya.

“Itu sama.”

Semua menoleh.

Darrien menunjuk peta kuno tersebut.

“Jejak yang kurasakan mengarah ke wilayah itu.”

Elyon membandingkan peta kuno dengan peta Veyth.

Perlahan—

ia memahami.

“Jika kita menggunakan jalur pegunungan ini…”

Jarinya bergerak dari satu titik ke titik lain.

“…maka wilayah Shadowcresent berada di balik pegunungan.”

Ace menatap peta.

“Jadi selama ini…”

Ia menggaruk kepalanya.

“…kita cuma tidak tahu cara membacanya.”

Rowan menatapnya.

“Kurang lebih.”

Ace menghela napas.

“Lima ribu tahun sejarah…”

Ia menunjuk halaman tersebut.

“…akhirnya memberi kita sesuatu yang berguna.”

Edward langsung mengambil keputusan.

“Kita berangkat.”

Gloria menatapnya.

“Sekarang?”

Edward mengangguk.

“Sekarang.”

Darrien tidak mengatakan apa-apa.

Ia hanya menatap titik di peta.

Shadowcresent.

Tempat Fiona berada.

Akhirnya—

mereka memiliki arah.

***

Malam semakin larut.

Beberapa orang mulai mempersiapkan perjalanan.

Persediaan.

Peta.

Senjata.

Perlengkapan magicure.

Semuanya dipersiapkan dengan cepat.

Kevin berdiri di samping Darrien.

“Kau yakin bisa menemukan jalannya?”

Darrien mengangguk.

“Jejaknya masih ada.”

Kevin menatapnya.

“Kalau begitu jangan kehilangan fokus.”

Darrien menatap peta.

“Aku tidak akan.”

Ia berhenti sejenak.

Kemudian—

“Aku sudah terlalu lama menunggu.”

Kevin tidak menjawab.

Ia hanya menepuk bahu Darrien.

“Kalau begitu…”

Ia tersenyum tipis.

“…kita pergi mengambilnya kembali.”

Darrien mengangguk.

***

Di ruangan lain—

Edward dan Gloria berdiri berdua.

Gloria menatap peta.

“Setidaknya…”

Ia menghela napas.

“…kita sekarang memiliki petunjuk.”

Edward mengangguk.

“Belum cukup.”

“Tapi lebih baik daripada tidak ada apa-apa.”

Gloria tersenyum tipis.

“Benar.”

Edward melihat ke arah jendela.

Malam telah menutupi Veyth.

“Besok kita berangkat.”

***

Darrien masih berdiri di depan peta.

Tatapannya tidak pernah meninggalkan satu titik.

Shadowcresent.

Untuk beberapa hari—

mereka hanya memiliki pertanyaan.

Sekarang—

mereka memiliki arah.

Darrien mengepalkan tangan.

“Fiona…”

Suaranya rendah.

“Aku akan datang.”

Tidak ada lagi yang menghalanginya.

Setidaknya—

untuk sekarang.

Karena akhirnya—

jejak yang selama ini tersembunyi telah terbuka.

Dan jalan menuju Shadowcresent—

akhirnya mulai terlihat.

Elyon melihat peta sekali lagi.

Kemudian berkata pelan,

“Sekurangnya…”

Ia tersenyum tipis.

“…kita memiliki petunjuk sejauh ini.”

Dan malam itu—

untuk pertama kalinya sejak Fiona menghilang,

Veyth memiliki harapan nyata.

Mereka tahu ke mana harus pergi.

Mereka hanya belum tahu—

apa yang akan menunggu mereka di balik pegunungan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience