355. Catatan Terakhir

Romance Completed 594

BAB 355 — CATATAN TERAKHIR

Setelah latihan selesai—

Darrien akhirnya meninggalkan area latihan bersama Fiona.

Tidak ada yang terburu-buru.

Keduanya berjalan berdampingan menyusuri lorong Istana Lunaris.

Untuk beberapa saat, tidak ada percakapan.

Darrien sesekali melirik Fiona.

Fiona pura-pura tidak menyadarinya.

Namun kali ini—

ia tidak melarikan diri.

Setelah beberapa menit, mereka tiba di depan ruang diskusi.

Darrien membuka pintu.

Fiona masuk lebih dahulu.

Manakala Elyon mengikuti jauh dari belakang.

Di dalam ruangan—

Zeith, Seraphine, Edward, Gloria, dan Sylvester sudah berada di sana.

Beberapa dokumen masih terbuka di atas meja.

Sylvester mengangkat kepalanya.

“Kalian datang.”

Darrien mengangguk.

“Kami ingin memastikan apakah masih ada sesuatu yang tertinggal dari catatan sejarah.”

Elyon segera ke hadapan meja dan menggeser beberapa dokumen ke tengah meja.

“Bagus. Kita memang hampir selesai.”

Fiona duduk.

Darrien mengambil tempat di sampingnya.

***

Elyon mulai memeriksa kembali catatan yang telah mereka susun.

“Untuk Lunaris…”

Ia membaca setiap bagian dengan teliti.

“Sejarah kerajaan.”

“Hubungan dengan ras lain.”

“Perkembangan wilayah.”

“Hubungan diplomatik.”

Ia berhenti sejenak.

“Tidak ada bagian penting yang perlu diubah.”

Zeith mengangguk.

“Bagaimana dengan Veyth?”

Edward ikut melihat dokumen.

“Sejarah kerajaan kami juga sudah sesuai.”

Seraphine menambahkan,

“Hubungan antara Lunaris dan Veyth juga tetap seperti yang terjadi di era sekarang.”

“Kerja sama.”

“Perdagangan.”

“Perlindungan.”

“Dan perdamaian.”

Elyon mencatatnya.

“Baik.”

***

Kemudian mereka kembali memeriksa bagian tentang Light Elf dan Dark Elf.

Fiona memberikan beberapa koreksi kecil.

“Bagian ini jangan ditulis seolah-olah kedua ras memang sejak awal saling membenci.”

Elyon mengangguk.

“Sudah kuubah.”

“Dan bagian tentang hubungan mereka sebelum perang?”

“Sudah dimasukkan.”

Fiona melihat dokumen.

“Bagus.”

Darrien ikut membaca.

“Jangan menghapus bagian tentang perang.”

Elyon menatapnya.

“Tidak akan.”

Darrien mengangguk.

“Generasi berikutnya perlu tahu bahwa perang itu pernah terjadi.”

Ia berhenti sebentar.

“Tapi jangan tulis seolah-olah perang itu adalah alasan untuk membenci mereka selamanya.”

Edward tersenyum.

“Itu juga yang kami sepakati.”

Darrien mengangguk.

***

Kemudian—

bagian yang paling sensitif kembali dibahas.

Elyon menutup satu dokumen.

“Untuk Saintess dan Grandmaster…”

Ia menatap Fiona.

“Identitas mereka tetap tidak akan dicatat.”

Fiona mengangguk.

“Biarkan gelar mereka tetap ada.”

“Namun tanpa nama.”

“Tanpa hubungan pribadi.”

“Tanpa informasi yang bisa mengarah kepada kalian.”

Darrien tidak keberatan.

“Setuju.”

Zeith juga mengangguk.

“Lebih baik begitu.”

Seraphine tersenyum.

“Kita mengembalikan sejarah tanpa membuka luka lama.”

Fiona menatap mereka semua.

“Ya.”

***

Beberapa saat kemudian—

Elyon akhirnya meletakkan pena.

“Sepertinya…”

Ia melihat semua catatan.

“…sudah lengkap.”

Ruangan menjadi tenang.

Tidak ada lagi halaman yang perlu diperiksa.

Tidak ada lagi bagian yang perlu diperbaiki.

Untuk sejarah resmi Lunaris dan Veyth—

mereka telah mencapai keputusan terakhir.

Elyon menghela napas lega.

“Mulai sekarang, kita hanya perlu memastikan catatan ini disimpan dengan baik.”

Zeith mengangguk.

“Dan diturunkan kepada generasi berikutnya.”

Edward tersenyum.

“Dengan kebenaran yang sebenarnya.”

Gloria mengangguk.

“Tanpa menghidupkan kembali kebencian.”

Fiona tersenyum kecil.

“Bagus.”

Ia berdiri.

Darrien ikut berdiri.

Namun sebelum mereka pergi—

Fiona melihat ke arah jendela.

Pemandangan Lunaris terlihat tenang.

Ia terdiam beberapa saat.

Kemudian menoleh kepada Darrien.

“Darrien.”

“Hm?”

“Temani aku.”

Darrien mengangkat alis.

“Ke mana?”

Fiona tidak menjawab.

Ia hanya mengulurkan tangannya.

Darrien melihat tangan itu.

Kemudian tersenyum.

Ia menggenggamnya.

“Baik.”

Elyon memperhatikan mereka.

Zeith dan Seraphine juga.

Namun kali ini tidak ada yang menggoda.

Tidak ada yang bertanya.

Mereka semua sudah cukup memahami Fiona.

***

Fiona mengangkat tangannya sedikit.

Cahaya Silver Leaf langsung muncul di sekitar mereka.

Darrien bahkan belum sempat bertanya—

ketika lingkaran sihir terbentuk di bawah kaki mereka.

Tidak ada chanting.

Tidak ada persiapan.

Hanya—

**WHOOSH!**

Keduanya menghilang.

***

DANAU LUNARIS

Dalam sekejap—

Fiona dan Darrien muncul di tepi Danau Lunaris.

Angin lembut langsung menyambut mereka.

Permukaan air berkilauan diterpa cahaya matahari.

Pepohonan di sekitar danau bergerak perlahan.

Darrien melihat sekeliling.

Kemudian menatap Fiona.

“Danau?”

Fiona mengangguk.

“Ya.”

Darrien tersenyum.

“Kenapa membawaku ke sini?”

Fiona berjalan beberapa langkah.

Kemudian berhenti di dekat tepi danau.

Ia menatap permukaan air.

“Karena…”

Ia menarik napas.

“…aku ingin berbicara denganmu.”

Darrien terdiam.

Fiona menatap danau.

Tempat ini pernah menjadi tempat persembunyiannya.

Tempat ia menghabiskan malam sendirian.

Tempat ia menangis ketika takut harus kehilangan Darrien lagi.

Namun sekarang—

ia tidak datang sendirian.

Darrien berdiri di sampingnya.

Tidak bertanya lebih jauh.

Tidak memaksa.

Hanya menunggu.

Fiona meliriknya.

“Terima kasih sudah ikut.”

Darrien tersenyum.

“Kalau kau yang mengajakku…”

Ia mengangkat bahu.

“…aku akan datang.”

Fiona tersenyum kecil.

Kemudian keduanya berdiri berdampingan di tepi danau.

Hanya mereka.

Tanpa kerajaan.

Tanpa rapat.

Tanpa sejarah.

Tanpa orang lain.

Dan untuk pertama kalinya—

Fiona merasa mungkin…

ia benar-benar siap berbicara dengan Darrien.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience