Series
382
BAB 246
Setelah perkenalan resmi Darrien selesai—
suasana Crystal Hall kembali mencair.
Musik kembali dimainkan.
Para pelayan kembali bergerak membawa makanan dan minuman.
Percakapan para tamu juga perlahan kembali terdengar.
Namun—
bagi beberapa orang di dalam aula…
perayaan itu tidak lagi terasa sesederhana sebelumnya.
Surya Ardika masih memandang ke arah Darrien.
Pemuda itu sekarang berdiri di dekat King Edward dan Queen Gloria.
Berbicara dengan beberapa bangsawan.
Tersenyum sesekali.
Tenang.
Berwibawa.
Jauh berbeda dari anak muda yang pernah mereka temui.
Surya menghela napas.
“Benar-benar berbeda.”
Susanti mengangguk.
“Penampilannya.”
“Ya.”
“Namun auranya…”
Surya terdiam.
Lola yang sejak tadi memperhatikan ikut berbicara.
“Apakah kalian juga merasakannya?”
Marcus menoleh.
“Merasa apa?”
Lola menunjuk samar ke arah Darrien.
“Dia.”
Marcus kembali melihat.
“…”
Beberapa detik berlalu.
Kemudian—
ia mengangguk.
“Ya.”
Susanti menatap mereka.
“Jadi bukan hanya aku.”
Surya tersenyum kecil.
“Tidak.”
Mereka kembali diam.
Tidak ada yang berani membuat kesimpulan.
Karena mereka semua tahu—
aura seseorang bisa terasa mirip dengan orang lain.
Namun—
seberapa besar kemungkinan kemiripan itu muncul pada seseorang yang wajahnya sama sekali berbeda?
***
Di sisi lain aula—
keluarga Varian juga masih memikirkan hal yang sama.
Keith memegang gelasnya sambil melihat ke arah Darrien.
Clara berdiri di sampingnya.
Clark sesekali melirik ke arah pewaris Veyth itu.
“Aneh.”
Keith menoleh.
“Menurutmu?”
Clark mengangguk.
“Ya.”
“Wajahnya bukan.”
“Benar.”
“Namun…”
Clark berhenti.
“Auranya.”
Keith menghela napas.
Clara kemudian berkata,
“Jangan buru-buru.”
Keith mengangguk.
“Kita tidak punya cukup bukti.”
Clark tersenyum.
“Lagipula…”
Ia melirik ke arah Darrien.
“Kalau benar dia orang yang sama…”
Keith menyelesaikan kalimatnya.
“…kenapa penampilannya berubah sejauh itu?”
Tidak ada jawaban.
Dan justru itu yang membuat mereka semakin penasaran.
***
Sementara dua keluarga tersebut sibuk dengan pemikiran masing-masing—
Fiona sama sekali tidak memikirkan hal itu.
Ia duduk di salah satu meja bersama Darrien, Elarion, Ace, dan Rowan.
Di depannya—
sebuah piring penuh makanan.
Darrien memperhatikan.
“Kau masih makan?”
Fiona mengangguk.
“Ya.”
“Sudah berapa kali?”
Fiona berhenti.
Ia berpikir.
“Entahlah.”
Ace tertawa.
“Sepertinya sudah terlalu banyak.”
Fiona menatapnya.
“Kenapa?”
“Tidak.”
Ace segera mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
“Aku hanya takut makanan habis.”
Rowan tertawa.
“Alasan bagus.”
Fiona mengangguk puas.
“Benar.”
Elarion hanya tersenyum.
“Kalian benar-benar tidak bisa serius lebih dari lima menit.”
Fiona mengangkat garpu.
“Kenapa harus serius?”
Elarion terdiam.
“…”
Fiona tersenyum.
“Hari ini pesta.”
Darrien mengangguk.
“Dia benar.”
Elarion menghela napas.
“Baiklah.”
***
Di meja lain—
Lola akhirnya berdiri.
Clark menatapnya.
“Mau ke mana?”
“Ke sana.”
Ia menunjuk ke arah kelompok Darrien.
Clark mengikuti pandangannya.
“Kau yakin?”
Lola mengangguk.
“Aku ingin mencari Fiona.”
Clark tersenyum.
“Kalau begitu aku ikut.”
Mereka mulai berjalan.
Namun sebelum mereka sampai—
beberapa tamu lewat dan menghalangi jalan.
Lola berhenti.
Ia kembali melihat ke arah meja.
Fiona masih duduk di sana.
Tertawa.
Berbicara.
Sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang sedang menjadi pusat dari begitu banyak misteri.
Lola tersenyum.
“Dia benar-benar ada.”
Clark mengangguk.
“Sepertinya.”
“Kalau begitu…”
Lola menarik napas.
“Kita tunggu kesempatan.”
***
Di sisi lain—
Elyon berdiri tidak jauh dari King Zeith dan Queen Seraphine.
Ia mendengarkan percakapan para bangsawan.
Namun perhatiannya sesekali tertuju kepada Fiona.
Bukan karena pakaian.
Bukan karena penampilannya.
Melainkan karena—
cahaya yang sangat halus di sekitar tubuh gadis itu.
Tidak terlihat oleh kebanyakan orang.
Namun bagi seorang Light Elf dengan tingkat kekuatan seperti dirinya—
cahaya itu terlalu familiar.
Elyon menurunkan pandangan.
Gelang di pergelangan tangan Fiona terlihat sesaat.
Simbol daun perak.
Matanya berhenti.
Hanya sesaat.
Kemudian ia kembali bersikap tenang.
Queen Seraphine memperhatikannya.
“Kau melihat sesuatu?”
Elyon menggeleng.
“Belum.”
King Zeith menatapnya.
“Belum?”
Elyon tersenyum tipis.
“Aku hanya ingin memastikan.”
Seraphine tidak bertanya lebih jauh.
Mereka semua tahu—
kedatangan mereka ke Veyth bukan hanya untuk menghadiri pesta.
***
Fiona tiba-tiba merasa seseorang sedang memperhatikannya.
Ia berhenti makan.
Kemudian melihat sekeliling.
Darrien menoleh.
“Apa?”
Fiona menggeleng.
“Tidak tahu.”
“Kenapa?”
“Aku merasa…”
Ia melihat ke arah kerumunan.
“…seperti ada seseorang yang memeehatikanku.”
Darrien diam.
Elarion langsung memperhatikan.
“Siapa?”
Fiona menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Ia kembali melihat ke meja.
Kemudian—
mengangkat garpunya lagi.
“Mungkin cuma perasaanku.”
Darrien tersenyum.
“Mungkin.”
Fiona mulai makan lagi.
Namun Elarion tidak ikut tersenyum.
Ia melihat ke arah tempat Elyon berdiri.
Kemudian melihat Fiona.
Tatapannya menjadi semakin dalam.
Ada sesuatu.
Ia belum tahu apa.
Tetapi—
sejak kedatangan Lunaris…
perasaan aneh itu semakin kuat.
***
Musik berubah.
Para pelayan mulai membawa hidangan berikutnya.
Suasana pesta kembali ramai.
King Edward berbicara dengan King Zeith.
Queen Gloria berbicara dengan Queen Seraphine.
Para bangsawan dari berbagai wilayah mulai memperkenalkan diri.
Semuanya terlihat damai.
Namun di balik percakapan ringan itu—
beberapa orang sedang memikirkan pertanyaan yang sama.
**Siapa sebenarnya Darrien Veyth?**
Dan—
**siapa sebenarnya Fiona?**
Untuk saat ini—
tidak ada seorang pun yang memiliki jawabannya.
Namun perlahan…
satu demi satu…
masa lalu mulai menemukan jalan untuk kembali.
Dan di tengah semua itu—
Fiona hanya menatap piringnya.
“Hmm…”
Ia mengambil satu kue lagi.
“Yang ini juga enak.”
Darrien menatapnya.
“Fiona.”
“Hm?”
“Kau benar-benar tidak memikirkan hal lain?”
Fiona berpikir sebentar.
Kemudian menggeleng.
“Tidak.”
Ia menggigit kuenya.
“Besok baru pikirkan.”
Darrien tertawa.
Elarion menghela napas.
Ace dan Rowan ikut tertawa.
Sementara dari kejauhan—
Elyon memperhatikan mereka.
Diam.
Tenang.
Namun tatapannya menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam.
Sesuatu yang belum waktunya diungkapkan.
Share this novel