Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 398 — BAYANGAN YANG TERTINGGAL
Shadowcresent.
Malam telah turun sepenuhnya.
Lorong panjang di dalam istana dipenuhi cahaya redup dari kristal-kristal yang tertanam di dinding.
Mufasa berjalan sendirian.
Langkahnya perlahan.
Tidak ada siapa pun di belakangnya.
Untuk pertama kalinya sejak kembali ke wilayah mereka—
ia memiliki kesempatan untuk berpikir.
Pikirannya kembali kepada pertempuran itu.
Kaguya.
Darrien.
Fiona.
Dan kelompok mereka.
Mufasa berhenti di salah satu jendela besar di sepanjang koridor.
Dari sana, ia dapat melihat langit malam.
Sebuah bulan sabit berwarna crimson terlihat menggantung di antara awan.
Tatapannya menjadi lebih serius.
Pertempuran itu masih terasa begitu jelas di dalam pikirannya.
Ia masih mengingat bagaimana Darrien bergerak.
Bagaimana kekuatan gelapnya muncul.
Dan terutama—
bagaimana Giselle menghilang di hadapannya.
Bukan karena ia melarikan diri.
Bukan karena ia bersembunyi.
Giselle benar-benar lenyap—
ditelan oleh sihir gelap Darrien.
Mufasa mengepalkan tangannya.
Ia juga masih mengingat satu orang lainnya.
Seorang pria yang bertarung dengannya.
Kecepatannya.
Gerakannya.
Kekuatan fisiknya.
Tidak mudah menemukan seseorang yang mampu mengimbangi kecepatannya dalam pertarungan jarak dekat.
Namun pria itu melakukannya.
Mufasa bahkan tidak mengetahui namanya.
Tetapi ia masih mengingat wajah dan gerakannya dengan jelas.
“Orang itu…”
Ia bergumam pelan.
“Siapa sebenarnya dia?”
Tidak ada jawaban.
Mufasa kembali melihat bulan crimson.
Ia menghela napas.
“Namun sekarang…”
Tatapannya menjadi sedikit lebih dalam.
“Aku benar-benar tidak tahu apakah pertemuan mereka dengan Yang Mulia kali ini akan sepadan…”
Ia berhenti.
“…atau tidak.”
Mufasa tidak meragukan kekuatan Klan Vampire.
Namun ia juga tidak bisa mengabaikan apa yang telah dilihatnya sendiri.
Kelompok dari Veyth itu berbeda.
Mereka bukan kelompok biasa.
Dan gadis itu—
Fiona.
Mufasa teringat kembali sosoknya.
Seorang Light Elf.
Namun kekuatan yang dimilikinya jauh dari apa yang ia bayangkan.
Pure Light Magic yang mampu menghancurkan lawan bahkan ketika pemiliknya sendiri tidak sadar.
Mufasa terdiam cukup lama.
“Gadis itu…”
Ia mengerutkan kening.
“Apa sebenarnya dirimu?”
Angin malam bergerak melewati jendela.
Mufasa kemudian mengalihkan pandangannya.
Tatapannya berhenti pada sebuah pintu besar beberapa meter di depannya.
Pintu menuju ruangan pribadi Raizen.
Ia menatap pintu itu sejenak.
Kemudian bergumam,
“Aku harap mereka menemukan jawaban untuk pertanyaan Yang Mulia.”
Ia menarik napas.
“Karena jika tidak…”
Mufasa tidak melanjutkan kalimatnya.
Ia hanya berbalik.
“Besok, aku akan pergi ke Veyth.”
Langkahnya kembali terdengar di sepanjang koridor.
Semakin jauh.
Sampai akhirnya—
Mufasa menghilang menuju kamarnya.
***
VEYTH KINGDOM.
Malam yang sama.
Ruang makan kerajaan kembali dipenuhi suara alat makan.
Namun—
suasananya masih terasa aneh.
Mereka semua makan.
Tetapi pikiran mereka tidak benar-benar berada di meja.
Edward masih memikirkan surat dari Shadowcresent.
Gloria memikirkan kemungkinan pertemuan dengan Raizen.
Elyon bertanya-tanya mengenai wilayah Vampire yang bahkan hampir tidak mereka kenal.
Elarion sesekali masih memikirkan hasil penelitiannya.
Ace terlihat lebih banyak diam.
Rowan bahkan tidak membuka buku yang biasanya selalu berada di tangannya.
Kevin makan dengan tenang.
Namun sesekali tatapannya terangkat.
Fiona memperhatikan semuanya.
“Kenapa suasananya terasa seperti kita sedang menghadiri rapat?”
Ace mengangkat kepala.
“Karena semua orang sedang berpikir.”
“Bahkan saat makan?”
“Terutama saat makan.”
Fiona tertawa kecil.
Darrien yang duduk di sampingnya hanya tersenyum.
Namun dirinya sendiri juga tidak sepenuhnya tenang.
Ia masih memikirkan Shadowcresent.
Dan sosok bernama Raizen.
Vampire King yang belum pernah mereka temui.
Tidak ada seorang pun di meja itu yang mengetahui bahwa—
jawaban yang mereka tunggu mungkin akan datang lebih cepat daripada yang mereka bayangkan.
Mereka mengira masih memiliki waktu.
Mereka mengira harus menunggu dua hari.
Mereka mengira seseorang dari Shadowcresent mungkin akan datang mengambil jawaban mereka nanti.
Namun malam itu—
jauh dari Veyth—
keputusan telah dibuat.
Mufasa akan berangkat.
Besok.
***
Di luar istana Veyth—
bulan malam perlahan menghilang.
Awan tebal bergerak menutupinya.
Cahaya bulan yang sebelumnya menerangi langit—
perlahan lenyap di balik awan.
Dan untuk sesaat—
seluruh Veyth terasa lebih gelap dari biasanya.
Tidak seorang pun menyadarinya.
Tidak seorang pun tahu bahwa—
sebuah bayangan dari Shadowcresent sudah bersiap untuk datang.
