Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 366 — KEPUASAN SANG GURU
Sore mulai mendekati penghujungnya.
Latihan yang sejak pagi tidak kunjung berhenti akhirnya—
berakhir.
Kevin berdiri di tengah area latihan.
Ia melihat Darrien yang terbaring di tanah beberapa meter darinya.
Pria itu bahkan tidak bergerak.
Napasnya berat.
Dadanya naik turun dengan cepat.
Rambutnya berantakan.
Pakaiannya penuh debu.
Bahkan ujung jarinya terasa terlalu berat untuk diangkat.
Kevin memandangnya beberapa saat.
Kemudian tersenyum puas.
“Cukup untuk hari ini.”
Darrien tidak menjawab.
Ia masih mencoba mengambil napas.
Kevin mengangguk.
“Bagus.”
Darrien akhirnya berhasil membuka mulut.
“Aku…”
Ia berhenti untuk mengambil napas.
“…benci…”
Napas lagi.
“…kau…”
Kevin menoleh.
“Apa?”
Darrien mengumpulkan sisa tenaganya.
“Monster…”
Kevin tersenyum.
“Dengan senang hati.”
Darrien menatapnya dengan mata lelah.
Kevin kemudian berjalan pergi.
“Lagipula…”
Ia menoleh sedikit.
“Kalau kau masih punya tenaga untuk berteriak—”
Senyumnya semakin lebar.
“…berarti besok kita bisa lanjut lagi.”
Darrien:
“….”
Kevin melanjutkan langkahnya.
“Jangan terlambat.”
Darrien menutup matanya.
“Aku benar-benar…”
Ia menarik napas.
“…membencimu.”
Kevin hanya tertawa kecil.
***
Ace dan Rowan yang sudah menunggu di luar barrier langsung mengikuti Kevin.
Ace menatapnya dengan ekspresi tidak percaya.
“Kau puas?”
Kevin mengangguk.
“Ya.”
Rowan melirik ke belakang.
“Darrien bahkan tidak bisa berdiri.”
“Dia akan bisa.”
Ace menghela napas.
“Besok?”
Kevin mengangguk.
“Besok.”
Ace dan Rowan saling pandang.
Kemudian bersama-sama berkata,
“Kasihan.”
Kevin mendengarnya.
Ia hanya tersenyum.
***
Di dalam area latihan—
Fiona langsung berlari menuju Darrien.
“Darrien!”
Ia berlutut di sampingnya.
Darrien membuka mata.
“Fiona…”
Fiona menahan tawa.
“Aku di sini.”
Darrien mencoba mengangkat tubuh.
Namun bahkan lengannya tidak mampu menopangnya.
Fiona langsung membantu.
“Pelan-pelan.”
Ia menopang bahunya dan membantu Darrien duduk.
Darrien bersandar padanya.
Fiona mengangkat tangannya.
Silver Leaf magic mulai mengalir.
Cahaya lembut menyelimuti tubuh Darrien.
Luka-luka kecil perlahan menghilang.
Ketegangan pada ototnya berkurang.
Napasnya mulai kembali teratur.
Darrien memejamkan mata.
“Ah…”
Fiona tersenyum.
“Lebih baik?”
“Sedikit.”
Ia membuka mata.
Kemudian melihat Fiona yang sedang tersenyum.
“Kau tertawa?”
Fiona menggeleng.
“Tidak.”
“Kau jelas tertawa.”
Fiona akhirnya tidak bisa menahannya.
“Sedikit.”
Darrien menatapnya.
“Kenapa?”
Fiona melanjutkan penyembuhan sambil tersenyum.
“Karena aku melihat bagaimana Kevin melatihmu.”
Darrien menghela napas.
“Dia monster.”
Fiona tertawa kecil.
“Ya.”
“Jangan membelanya.”
“Aku tidak membela.”
Fiona mengangkat alis.
“Aku hanya mengatakan…”
Ia melirik ke arah Kevin yang sudah semakin jauh.
“…kau memang berkembang.”
Darrien terdiam.
Fiona tersenyum.
“Gerakanmu tadi jauh lebih baik.”
Darrien menatap tangannya.
“Benarkah?”
“Ya.”
Fiona menyentuh ujung jarinya.
“Bahkan magicure-mu lebih terkendali.”
Darrien mengangguk perlahan.
“Itu yang ingin kucoba.”
Ia menatap telapak tangannya.
“Cara menggunakan dark magic tanpa membuang terlalu banyak magicure.”
Fiona tersenyum.
“Dan kau berhasil.”
Darrien tertawa lemah.
“Dengan harga yang mahal.”
Fiona tertawa.
“Memang.”
***
Tidak lama kemudian—
Elyon dan Elarion akhirnya berjalan mendekat.
Elarion melihat keadaan Darrien.
Ia menggeleng.
“Masih hidup.”
Darrien menatapnya.
“Sayangnya.”
Elarion tertawa.
Elyon memperhatikan sisa-sisa magicure di sekitar area latihan.
“Kemajuanmu cukup jelas.”
Darrien menghela napas.
“Terima kasih.”
Elyon tersenyum.
“Namun kau sebaiknya beristirahat.”
Darrien mengangguk.
“Rencananya memang begitu.”
Elarion menatap Fiona.
“Dia terlihat jauh lebih tenang setelah kau datang.”
Fiona tersenyum.
“Mungkin karena aku tidak menyuruhnya latihan lagi.”
Darrien langsung berkata,
“Jangan beri Kevin ide.”
Elarion tertawa.
***
Fiona membantu Darrien berdiri perlahan.
Darrien masih terlihat lelah.
Namun kali ini—
ia bisa berdiri.
Fiona tetap berada di sampingnya.
Darrien menatap arah Kevin pergi.
“Besok…”
Ia menghela napas.
“…aku akan lebih siap.”
Fiona tersenyum.
“Aku percaya padamu.”
Darrien menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Senyum kecil muncul di wajah Darrien.
Meskipun tubuhnya hampir tidak bisa bergerak—
semangatnya belum hilang.
Ia masih ingin menjadi lebih kuat.
Bukan karena ingin menjadi Grandmaster masa lalu.
Bukan karena ingin mengembalikan semua yang hilang.
Melainkan karena satu alasan sederhana.
Ia ingin mampu berdiri—
di sisi Fiona.
Dan Fiona tahu itu.
***
Di kejauhan—
Kevin berhenti sejenak.
Ia menoleh ke belakang.
Melihat Darrien yang sekarang sudah berdiri dengan bantuan Fiona.
Senyumnya muncul kembali.
“Besok…”
Ia bergumam.
“…kita naikkan lagi.”
Ace langsung menatapnya.
“Jangan.”
Rowan mengangguk.
“Kasihan dia.”
Kevin tertawa.
“Kalian terlalu lembut.”
Ace menunjuk Darrien.
“Dia bahkan hampir tidak bisa mengangkat jarinya!”
Kevin berjalan lagi.
“Kalau begitu…”
Ia menjawab santai.
“…besok kita mulai dari jari.”
Ace dan Rowan:
“…”
Keduanya saling memandang.
“Monster.”
Kevin tertawa puas.
Hari latihan pun akhirnya benar-benar berakhir.
Setidaknya—
untuk hari ini.
