Series
94
BAB 49
KELUARGA ARDIKA
Di sebuah kota yang jauh dari tempat tinggal Fiona, sebuah kediaman bangsawan berdiri megah di balik tembok batu putih.
Keluarga Ardika telah tinggal di wilayah tersebut selama beberapa generasi.
Mereka dikenal sebagai salah satu keluarga manusia bangsawan yang memiliki pengaruh besar dalam perdagangan.
Namun pagi itu, suasana kediaman mereka jauh dari tenang.
Di sebuah kamar besar di lantai atas, seorang gadis sedang berbaring di atas tempat tidur.
Lola Ardika.
Usianya hampir sama dengan Fiona.
Wajahnya terlihat pucat.
Namun bukan karena sakit.
Ia hanya berpura-pura.
“Ugh…”
Lola menarik selimut sampai menutupi sebagian wajahnya.
“Aku tidak mau menikah.”
Di samping tempat tidur, ibunya berdiri dengan ekspresi lelah.
Susanti Ardika menghela napas.
“Lola…”
“Aku belum mau!”
“Ayahmu sudah membicarakan ini dengan keluarga Varian.”
“Aku tidak peduli.”
Lola memalingkan wajah.
“Aku bahkan belum pernah bertemu pria itu.”
Susanti terdiam.
“Clark Varian.”
“Namanya saja terdengar menyebalkan.”
Susanti menahan napas.
“Lola.”
“Aku serius.”
Lola duduk.
“Aku tidak ingin menikah dengan orang yang bahkan tidak kukenal hanya karena keluarga kita ingin mempertahankan bisnis.”
Susanti menatap putrinya.
Ia sebenarnya memahami perasaan Lola.
Namun perjodohan itu bukan perkara sederhana.
Keluarga Varian adalah salah satu klan Beast terkuat di wilayah tersebut.
Kerja sama antara kedua keluarga telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Membatalkan pernikahan secara tiba-tiba dapat merusak hubungan dagang mereka.
Dan itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan dengan mudah.
Pintu kamar terbuka.
Seorang pria masuk.
Surya Ardika.
Pemimpin keluarga Ardika.
Wajahnya terlihat serius.
“Bagaimana keadaanmu?”
Lola langsung kembali berbaring.
“Buruk.”
Surya menghela napas.
“Dokter mengatakan kau baik-baik saja.”
“Aku merasa sakit.”
“Tidak ada penyakit.”
“Penyakit hati.”
Surya memejamkan mata.
Susanti hampir tertawa.
“Lola.”
“Aku tidak mau menikah.”
Surya duduk di kursi dekat tempat tidur.
“Pernikahan ini penting bagi keluarga kita.”
“Aku tahu.”
“Kalau kau terus menolak…”
“Aku tahu.”
Lola menatap ayahnya.
“Tapi aku tetap tidak mau.”
Surya terdiam.
Ia tidak ingin memaksa putrinya.
Namun ia juga tidak bisa membatalkan semuanya begitu saja.
Akhirnya ia berkata,
“Karena itu kita akan menunda pernikahan.”
Lola langsung mengangkat kepala.
“Benarkah?”
“Untuk sementara.”
Wajah Lola langsung cerah.
“Berapa lama?”
“Entahlah.”
Surya menghela napas.
“Namun keluarga Varian tidak akan menunggu selamanya.”
Lola kembali murung.
Susanti kemudian bertanya,
“Lalu apa rencanamu?”
Surya tidak menjawab.
Tatapannya beralih ke jendela.
“Kita membutuhkan waktu.”
***
Beberapa jam kemudian, Surya berada di ruang kerjanya bersama Marcus.
Marcus berdiri dengan tangan terlipat di depan tubuhnya.
“Bagaimana hasil perjalananmu?”
Marcus menundukkan kepala.
“Aku menemukan sesuatu.”
Surya menatapnya.
“Apa?”
“Seorang gadis.”
Marcus mengeluarkan sebuah potret kecil.
Surya mengambilnya.
“Gadis ini?”
“Dia bukan putri dari keluarga bangsawan yang kita kenal.”
“Lalu?”
“Namun kemiripannya dengan Nona Lola sangat tinggi.”
Susanti yang baru masuk ke ruangan ikut melihat potret tersebut.
Ia terdiam.
“Benar…”
Surya mengamati potret itu dengan hati-hati.
“Seberapa mirip?”
“Dari jarak tertentu, hampir seperti saudara.”
Surya mengangkat alis.
“Siapa dia?”
“Itulah yang belum saya ketahui.”
Marcus kemudian menjelaskan bahwa gadis tersebut terlihat bersama seorang Elf dan seorang anak laki-laki.
“Apakah dia sendirian?”
“Tidak.”
“Status keluarganya?”
“Belum diketahui.”
Surya meletakkan potret itu.
“Jangan lakukan apa pun.”
Marcus mengangguk.
“Kita hanya mencari informasi?”
“Ya.”
Surya menatap potret tersebut sekali lagi.
“Kita belum tahu apakah gadis itu cocok untuk apa yang kita butuhkan.”
Susanti menatap suaminya.
“Surya…”
“Aku tahu.”
Ia menghela napas.
“Aku juga tidak menyukai ide ini.”
“Tapi?”
“Jika kita tidak menemukan jalan keluar…”
Ia menatap istrinya.
“Lola akan dipaksa menghadapi pernikahan yang tidak dia inginkan.”
Marcus menundukkan kepala.
“Saya mengerti.”
Surya kembali melihat potret.
“Cari tahu siapa gadis itu.”
“Jangan menyentuhnya.”
“Jangan menakutinya.”
“Dan jangan katakan apa pun tentang Lola.”
Marcus mengangguk.
“Baik, Tuan.”
***
Sementara itu, jauh dari kediaman Ardika—
sebuah kereta lain sedang bergerak menuju wilayah manusia.
Di dalamnya duduk sebuah keluarga dari klan Wolf Beast.
Seorang pria besar dengan tatapan tajam duduk di sisi jendela.
Keith Varian.
Di sampingnya duduk istrinya, Clara Varian.
Dan di seberang mereka…
seorang pemuda bernama Clark Varian.
Usianya hampir sama dengan Darrien.
Clark terlihat bosan.
“Berapa lama lagi?”
Keith menatapnya.
“Tidak lama.”
“Untuk apa aku harus pergi?”
“Karena ini tentang pernikahanmu.”
Clark menghela napas.
“Aku bahkan belum pernah melihat Lola.”
Clara tersenyum kecil.
“Kau akan segera bertemu dengannya.”
Clark memalingkan wajah.
“Aku masih tidak mengerti kenapa semua orang begitu serius.”
Keith menatap putranya.
“Karena ini bukan hanya tentang pernikahan.”
Ia melihat keluar jendela.
“Ini tentang hubungan antara dua keluarga.”
Kereta terus bergerak.
Tidak seorang pun di dalamnya mengetahui bahwa di kota yang mereka tuju…
sebuah keluarga bangsawan manusia baru saja mulai mencari seorang gadis yang memiliki kemiripan luar biasa dengan putri mereka.
Dan jauh dari sana…
Fiona masih tidak mengetahui apa pun.
Share this novel