317. Tempat Yang Dilupakan

Romance Series 382

BAB 317 — TEMPAT YANG TERLUPAKAN

Di dalam Crystal Hall—

Ace, Rowan, dan Kevin masih memperhatikan ruangan tersebut dengan rasa penasaran.

Kristal-kristal besar memenuhi hampir seluruh ruangan.

Cahayanya lembut.

Namun terasa sangat dalam.

Ace akhirnya bertanya,

“Jadi… sebenarnya tempat ini apa?”

Sylvester menatap kristal-kristal di sekeliling mereka.

“Crystal Hall adalah salah satu bagian tertua dari Istana Lunaris.”

Rowan mengangkat alis.

“Setua itu?”

“Lebih tua dari sebagian besar bangunan istana.”

Kevin memperhatikan kristal yang menjulang di hadapannya.

“Untuk apa digunakan?”

Elyon menjawab,

“Tidak ada yang benar-benar tahu seluruh fungsinya.”

Ace langsung menoleh.

“Bagaimana mungkin?”

Elyon mengangkat bahu.

“Karena Crystal Hall sudah ada jauh sebelum generasi kerajaan saat ini.”

Elarion menambahkan,

“Tempat ini lebih seperti ruang penyimpanan energi dan jejak sihir kuno.”

Ace melihat sekeliling.

“Jadi semacam perpustakaan?”

“Bukan.”

“Gudang?”

“Juga bukan.”

Ace menggaruk kepalanya.

“Lalu apa?”

Sylvester tersenyum tipis.

“Itulah masalahnya.”

Ia kembali menatap kristal utama.

“Crystal Hall menyimpan sesuatu yang bahkan kami sendiri belum sepenuhnya mengerti.”

Rowan mengangguk pelan.

“Jadi kalian hanya tahu sebagian?”

“Benar.”

Kevin kembali memperhatikan cahaya yang berdenyut.

“Dan sekarang tempat ini bereaksi.”

Elyon mengangguk.

“Ya.”

Ace menatap kristal itu.

“Terhadap apa?”

Elyon tidak langsung menjawab.

“Aku belum tahu.”

Namun tatapannya tetap tertuju pada cahaya.

Ia juga tidak tahu bahwa jawaban itu mungkin berada jauh lebih dekat daripada yang mereka kira.

***

Sementara itu—

di Crystal Garden.

Fiona masih duduk bersama Darrien.

Matahari mulai turun.

Cahaya keemasan perlahan menyelimuti taman.

Para peri kecil mulai terbang lebih rendah.

Fiona memandang langit.

“Sepertinya kita sudah terlalu lama di sini.”

Darrien mengangguk.

“Kurasa begitu.”

Fiona berdiri perlahan.

Tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih, jadi Darrien secara refleks memperhatikan langkahnya.

“Aku bisa berjalan sendiri.”

“Aku tahu.”

“Tapi?”

“Aku tetap akan memperhatikanmu.”

Fiona tertawa kecil.

“Baiklah.”

Mereka mulai berjalan kembali menuju istana.

Sepanjang jalan—

mereka membicarakan hal-hal sederhana.

“Besok kau mau melakukan apa?”

Fiona berpikir.

“Hmm…”

Ia mengangkat satu jari.

“Pertama, makan.”

Darrien menghela napas.

“Tentu saja.”

“Kedua…”

Fiona berpikir lagi.

“Mungkin berjalan-jalan.”

“Ke pasar?”

Mata Fiona langsung berbinar.

“Mungkin.”

Darrien tertawa kecil.

“Aku sudah menduga.”

Fiona menatapnya.

“Kau sendiri mau melakukan apa?”

“Tidak tahu.”

“Tidak boleh.”

Darrien mengangkat alis.

“Tidak boleh?”

“Kita harus punya rencana.”

“Baiklah.”

Ia berpikir sebentar.

“Kalau begitu, besok kita jalan-jalan.”

Fiona tersenyum.

“Ke mana?”

“Ke mana saja.”

“Jawabanmu malas sekali.”

“Yang penting kau ikut.”

Fiona tertawa.

“Baik.”

Mereka terus berjalan.

***

Ketika akhirnya mereka memasuki bagian utama istana—

Fiona langsung menyadari sesuatu.

Sepi.

Terlalu sepi.

Ia berhenti.

Darrien ikut berhenti.

Fiona melihat ke kiri.

Kemudian ke kanan.

Tidak ada Ace.

Tidak ada Rowan.

Tidak ada Kevin.

Bahkan Elyon dan Elarion juga tidak terlihat.

Fiona mengerutkan kening.

“Di mana mereka semua?”

Darrien melihat sekeliling.

“Entahlah.”

“Tadi mereka masih ada.”

“Benar.”

Fiona melangkah beberapa langkah ke depan.

Istana terasa berbeda.

Bukan karena ada sesuatu yang salah.

Justru karena—

terlalu tenang.

Seolah-olah semua orang tiba-tiba pergi melakukan sesuatu tanpa memberitahunya.

Fiona menoleh kepada Darrien.

“Apa mereka pergi makan tanpa kita?”

Darrien menatapnya.

“Kenapa pikiran pertamamu selalu makanan?”

Fiona memasang wajah serius.

“Karena itu kemungkinan yang masuk akal.”

Darrien tertawa.

Namun kemudian ia juga mulai merasa ada sesuatu yang aneh.

Biasanya—

koridor utama tidak pernah sesunyi ini.

Fiona melihat ke arah ujung koridor.

“Ke mana mereka pergi?”

Darrien menggeleng.

“Mungkin ada sesuatu yang harus mereka urus.”

Fiona mengangguk.

“Mungkin.”

Ia kemudian berjalan lagi.

Namun sebelum mereka benar-benar meninggalkan aula—

Fiona berhenti sekali lagi.

Entah kenapa—

ia merasa ada sesuatu yang sedang terjadi di dalam istana.

Sesuatu yang belum ia ketahui.

Dan jauh di dalam Crystal Hall—

cahaya kembali berdenyut.

**…tik.**

Fiona tidak mendengarnya.

Namun tanpa sadar—

tangannya menyentuh kalung daun perak di lehernya.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience