Completed
594
BAB 499 — PILIHAN YANG TERLAMBAT
Serangan terakhir itu telah dilepaskan.
Tidak ada lagi jalan untuk menariknya kembali.
Energi crimson-black melesat membelah udara dengan kekuatan yang begitu besar hingga ruang di sekitarnya bergetar.
Raizen berdiri dengan satu tangan masih terulur.
Tatapan crimson-nya tertuju lurus ke arah Darrien.
Ia sudah yakin.
Pertarungan ini berakhir.
Benang-benang bayangan masih mengikat tubuh Darrien.
Lingkaran sihir crimson-black masih menyala di bawah kakinya.
Magicure Darrien telah terkunci.
Tubuhnya bahkan hampir tidak mampu berdiri.
Raizen tahu serangan terakhir itu akan mengakhiri semuanya.
Setelah Darrien pergi...
Fiona akan tetap bersamanya.
Ia akan menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Fiona.
Satu-satunya orang yang akan terus menjaganya.
Satu-satunya orang yang akan dicintainya.
Setidaknya...
itulah yang Raizen pikirkan.
Namun—
sesuatu bergerak.
Cepat.
Terlalu cepat.
Mata Raizen tiba-tiba melebar.
“Apa...?”
Sosok yang seharusnya tidak berada di sana muncul tepat di depan Darrien.
Fiona.
Raizen membeku.
Untuk sesaat—
bahkan pikirannya tidak mampu memahami apa yang baru saja terjadi.
Fiona berdiri di antara dirinya dan Darrien.
Wajahnya tenang.
Tidak ada kepanikan.
Tidak ada keraguan.
Seolah tubuhnya telah bergerak lebih dahulu sebelum pikirannya sempat mempertimbangkan apa pun.
Kemudian—
serangan itu menghantamnya.
DUAAAAARRR!
Cahaya crimson-black meledak.
Udara bergetar hebat.
Debu dan serpihan batu terlempar ke segala arah.
Rambut Fiona berkibar keras diterpa gelombang energi.
Tubuhnya terdorong beberapa langkah.
Namun dia tidak terlempar jauh.
Seolah tubuhnya sendiri menolak untuk meninggalkan tempat itu.
Di belakangnya—
Darrien masih membeku.
Matanya terbuka lebar.
“...”
Tidak ada suara yang keluar dari bibirnya.
Dan perlahan—
cahaya dari lingkaran sihir di bawah kakinya mulai meredup.
Benang-benang bayangan yang tadi menembus tubuhnya bergetar.
Kemudian satu per satu—
terlepas.
SHRRK.
SHRRK.
SHRRK.
Hilang.
Tekanan yang selama beberapa saat menghancurkan magicure Darrien mendadak lenyap.
Ia bisa merasakan magicure-nya kembali mengalir.
Napasnya kembali masuk ke paru-parunya.
Tubuhnya kembali menjadi miliknya.
Namun—
ia tidak merasakan serangan terakhir itu.
Darrien perlahan mengerutkan kening.
“Apa...?”
Tangannya yang sebelumnya terikat kini bebas.
Ia menurunkan pandangan sebentar.
Tidak ada benang bayangan.
Lingkaran crimson-black di bawah kakinya telah benar-benar menghilang.
Darrien menarik napas.
Kemudian mengangkat wajah.
Dan seluruh ekspresinya berubah.
Matanya membesar.
Tubuhnya membeku.
“...Fiona?”
Fiona berdiri di depannya.
Atau lebih tepatnya—
berusaha berdiri.
Darrien menatapnya tanpa berkedip.
Ada sesuatu yang salah.
Sangat salah.
Senyum kecil masih berada di bibir Fiona.
Namun bibir itu...
berlumuran darah.
Setetes darah mengalir perlahan dari sudut bibirnya.
Lalu jatuh ke dagunya.
Darrien tidak bergerak.
Matanya turun.
Melihat tubuh Fiona.
Melihat pakaiannya yang telah robek.
Melihat darah yang mulai mengalir dari punggungnya.
Terlalu banyak.
Darah itu terus menetes.
Satu tetes.
Dua.
Tiga.
Lalu semakin deras.
“...Tidak.”
Suara Darrien sangat kecil.
Fiona menarik napas.
Tubuhnya sedikit bergoyang.
Ia mencoba mempertahankan keseimbangannya.
Satu langkah kecil.
Kakinya bergerak maju.
Namun lututnya hampir menyerah.
Darrien langsung bergerak.
Ia bahkan tidak sempat berpikir.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kemudian ia menangkap tubuh Fiona sebelum perempuan itu jatuh.
“Fiona!”
Darrien memeluknya.
Kedua tangannya menahan tubuh Fiona dengan hati-hati, seolah sedikit tekanan saja bisa membuat lukanya semakin parah.
Fiona bersandar pada dadanya.
Napasnya lemah.
Darrien menundukkan kepala.
Matanya bergerak panik ke seluruh tubuh Fiona.
Tangannya gemetar.
“Tidak...”
Ia melihat darah yang terus mengalir dari punggung Fiona.
“Tidak, tidak...”
Darrien menelan ludah.
Suara berikutnya keluar dengan susah payah.
“Fiona...”
Tangannya bergerak ke belakang tubuh Fiona.
Namun ia berhenti sebelum menyentuh lukanya.
Ia takut.
Takut jika sentuhannya justru membuat Fiona semakin kesakitan.
“Kenapa...”
Suara Darrien pecah.
“Kenapa kau melakukan ini?”
Fiona perlahan membuka mata.
Ia menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya—
tatapan itu benar-benar berbeda.
Tidak ada kebingungan.
Tidak ada keraguan.
Tidak ada pertanyaan tentang siapa pria yang berdiri di depannya.
Fiona mengenalnya.
Ia mengingatnya.
Dan meskipun tubuhnya terluka parah—
senyum kecil kembali muncul.
“...Darrien.”
Darrien menahan napas.
Satu kata itu saja...
hampir menghancurkannya.
“Jangan bicara.”
Ia menggeleng cepat.
Air mata mulai memenuhi matanya.
“Jangan bicara dulu.”
Fiona menatap wajahnya.
Jari-jarinya perlahan bergerak.
Lemah.
Sangat lemah.
Namun akhirnya berhasil menggenggam sedikit bagian pakaian Darrien.
Darrien langsung menunduk.
Ia melihat tangan kecil itu.
Kemudian wajah Fiona.
“...Kau ingat aku?”
Fiona tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatapnya.
Tatapannya lembut.
Kemudian ia mengangguk kecil.
“Iya.”
Satu kata.
Darrien memejamkan mata.
Air mata akhirnya jatuh.
Satu tetes.
Lalu satu lagi.
Ia menundukkan wajahnya sedikit, berusaha menyembunyikannya.
Namun bahunya bergetar.
“...Aku mencarimu.”
Suaranya hampir tidak terdengar.
“Selama ini... aku mencarimu.”
Fiona mengangkat tangannya perlahan.
Jarinya menyentuh sisi wajah Darrien.
Sentuhan itu sangat lemah.
Namun Darrien langsung diam.
Fiona tersenyum.
“Aku tahu.”
Darrien membuka matanya.
“...Apa?”
“Aku mendengar suaramu.”
Napas Darrien tercekat.
“Dalam mimpi...”
Fiona menelan ludah.
Matanya perlahan menjadi berkaca-kaca.
“Dan sekarang aku ingat semuanya.”
Darrien menatapnya.
Tidak mampu mengatakan apa-apa.
Fiona memejamkan mata sebentar.
“Dan ketika aku melihatmu...”
Ia menarik napas pelan.
“...aku tidak ingin melihatmu terluka.”
Darrien menggeleng.
“Fiona...”
“Jadi...”
Senyumnya kembali muncul.
“...aku bergerak.”
Darrien menatapnya dengan rasa sakit yang semakin jelas di wajahnya.
“Kau hampir mati karena aku.”
Fiona tidak menjawab.
Ia hanya bersandar lebih nyaman di dadanya.
Darrien memeluknya sedikit lebih erat.
Namun tetap berhati-hati.
Seolah Fiona terbuat dari kaca.
“Aku seharusnya yang melindungimu.”
Suaranya bergetar.
“Bukan sebaliknya.”
Fiona membuka matanya sedikit.
“Darrien...”
“Hmm?”
“Aku mencintaimu.”
Darrien membeku.
Air matanya jatuh tanpa bisa dihentikan lagi.
Ia menundukkan kepala.
Dahinya menyentuh rambut Fiona.
“Aku juga.”
Ia memejamkan mata.
“Selalu.”
Untuk beberapa detik—
dunia di sekitar mereka seolah menghilang.
***
Namun tidak bagi orang-orang lain.
Kelima anggota Veyth berdiri di belakang penghalang.
Tidak ada seorang pun yang bergerak.
Kevin masih menggenggam pedangnya.
Namun tangannya perlahan turun.
Matanya tertuju pada Fiona.
“...Dia mengambil serangannya.”
Ace tidak menjawab.
Wajah yang biasanya penuh senyum dan komentar konyol kini benar-benar kosong.
Pedangnya masih berada di tangannya.
Namun ia bahkan lupa bahwa dirinya sedang bertarung.
“...Dia benar-benar berdiri di depan Darrien.”
Rowan menatap tanpa berkedip.
Suaranya rendah.
“Dia mengingatnya.”
Elarion menarik napas panjang.
Namun bahkan ia tidak langsung menemukan kata-kata yang tepat.
“Ingatan itu...”
Ia menatap Fiona.
“...sudah kembali.”
Elyon tidak berkata apa-apa.
Tatapan matanya bergerak dari Fiona—
menuju Raizen.
Lalu kembali kepada Fiona.
Tangannya perlahan mengepal.
Karena ia mengerti apa yang baru saja terjadi.
Fiona tidak hanya mengingat Darrien.
Dia telah membuat sebuah pilihan.
***
Mufasa juga diam.
Benar-benar diam.
Ia berdiri beberapa meter dari Raizen.
Matanya tertuju pada sang raja.
Biasanya Mufasa akan langsung memberikan laporan.
Memberikan perintah.
Menganalisis situasi.
Namun kali ini—
tidak ada satu pun kata yang keluar.
Karena ia tahu.
Tidak ada laporan yang bisa membuat kejadian ini menjadi lebih mudah diterima.
Ia melihat Fiona.
Melihat Darrien yang memeluknya.
Kemudian perlahan mengalihkan pandangan kepada Raizen.
***
Raizen masih berdiri di tempat yang sama.
Tangannya perlahan turun.
Matanya tidak meninggalkan Fiona.
Tidak bergerak.
Tidak berkedip.
Seolah seluruh tubuhnya membeku.
Ia melihat darah Fiona.
Darah yang keluar karena serangannya.
Tangannya yang tadi digunakan untuk melepaskan serangan terakhir perlahan mengepal.
Kemudian terbuka lagi.
Jari-jarinya gemetar.
“...”
Bibir Raizen bergerak.
Namun tidak ada suara.
Ia mencoba berbicara lagi.
Tetap tidak bisa.
Akhirnya—
“Fiona...”
Suaranya terdengar asing bahkan bagi dirinya sendiri.
Sangat pelan.
Sangat rapuh.
Fiona mengangkat wajah sedikit dari dada Darrien.
Tatapannya bertemu dengan mata crimson Raizen.
Untuk beberapa saat—
mereka hanya saling menatap.
Fiona tidak membencinya.
Tidak berteriak.
Tidak menyalahkannya.
Dan justru itulah yang membuat ekspresi Raizen semakin hancur.
Karena dia tahu.
Serangan itu miliknya.
Tangannya.
Magic-nya.
Kemarahan yang dia lepaskan sendiri.
Semuanya...
telah melukai perempuan yang paling ingin dia lindungi.
Raizen menatap telapak tangannya.
Seolah baru menyadari apa yang telah dilakukan tangan itu.
“...Aku.”
Napasnya tertahan.
“Aku melukaimu.”
Tidak ada yang menjawab.
Raizen mengangkat wajah lagi.
Matanya masih terpaku pada Fiona.
Dan untuk pertama kalinya sejak pertarungan dimulai—
tidak ada aura raja di sana.
Tidak ada kesombongan.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada kemenangan.
Hanya seorang pria...
yang baru menyadari bahwa dalam usahanya mempertahankan orang yang paling ia cintai—
ia sendiri yang telah membuatnya terluka.
Darrien memeluk Fiona lebih erat.
Fiona tetap berada dalam pelukannya.
Lima anggota Veyth tetap diam.
Mufasa tidak bergerak.
Raizen tidak bergerak.
Bahkan angin seakan berhenti.
Seluruh medan perang—
sunyi.
Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu...
apa yang harus dilakukan setelah ini.
Share this novel