256. Malam Sebelum Latihan

Romance Series 382

BAB 256

Darrien menutup pintu kamarnya.

Untuk beberapa detik—

ia hanya berdiri di sana.

Diam.

Kemudian menghela napas panjang.

Hari ini terasa panjang.

Sangat panjang.

Namun anehnya—

bukan dalam arti yang buruk.

Ia berjalan menuju tempat tidurnya dan duduk di tepinya.

Pikirannya kembali kepada kejadian sepanjang hari.

Hadiah.

Orang tuanya.

Cerita masa kecil yang tidak ia ingat.

Tawa.

Pelukan.

Dan—

rumah.

Darrien menundukkan kepala.

Selama bertahun-tahun, ia bahkan tidak tahu seperti apa rasanya memiliki keluarga.

Sekarang—

ia memilikinya.

Edward.

Gloria.

Kedua orang yang selama ini menunggunya.

Darrien tersenyum kecil.

“Ayah…”

Ia terdiam sebentar.

“Ibu…”

Nama-nama itu masih terasa asing di dalam pikirannya.

Namun tidak lagi terasa jauh.

Mungkin ingatan memang tidak harus kembali sekaligus.

Mungkin—

ia bisa membangun semuanya kembali dari awal.

***

Darrien kemudian teringat kepada Fiona.

Ia tersenyum.

Fiona.

Entah bagaimana gadis itu selalu berada di dekatnya ketika hidupnya berubah.

Bahkan sebelum ia mengetahui bahwa dirinya adalah pewaris Veyth—

Fiona sudah ada di sana.

Ketika ia kehilangan ingatan.

Ketika ia tidak tahu siapa dirinya.

Ketika ia harus menghadapi begitu banyak hal yang tidak ia pahami.

Dan sekarang—

mereka bahkan akan pergi ke Lunaris bersama.

Darrien bersandar pada kepala tempat tidur.

“Lunaris…”

Ia memikirkan King Zeith.

Queen Seraphine.

Dan—

Elyon.

Traveler yang ternyata merupakan Penasihat Agung Negara Lunaris.

Darrien tertawa kecil.

“Kalau dipikir-pikir…”

Ia menggeleng.

“Tidak ada satu hari pun yang normal sejak aku kembali ke Veyth.”

Ia kemudian teringat Crystal Garden.

Undangan Lunaris.

Hadiah.

Pestanya.

Semuanya terasa seperti terlalu banyak hal dalam waktu singkat.

Namun—

ia tidak merasa keberatan.

Karena untuk pertama kalinya—

ia tidak sedang melarikan diri dari sesuatu.

Ia sedang berjalan menuju sesuatu.

***

Darrien kemudian teringat percakapan terakhir dengan Kevin.

Senyumnya menghilang.

“…”

Ia menatap kosong ke depan.

Kevin.

Besok.

Latihan.

Darrien perlahan menarik selimut.

“Tidak.”

Ia mencoba mengabaikannya.

Kemudian menutup mata.

Bayangan Kevin muncul dalam pikirannya.

“Sekali lagi.”

Darrien membuka mata.

“Tidak.”

Ia mencoba tidur.

Namun bayangan lain muncul.

Kevin berdiri di tengah lapangan.

“Lebih cepat.”

Darrien menarik selimut sampai ke dagunya.

“Tidak…”

Kemudian—

“Sekali lagi.”

Darrien langsung duduk.

“Kenapa aku bisa mendengar suaranya?!”

Tidak ada siapa pun di kamar.

Hanya dirinya sendiri.

Darrien mengusap wajah.

“Ini sudah parah.”

Ia kembali berbaring.

Kali ini ia menatap langit-langit.

“Besok…”

Ia menghela napas.

“Besok aku harus bangun.”

Ia memejamkan mata.

Mencoba menerima kenyataan.

Namun beberapa detik kemudian—

ia membuka mata lagi.

“Tidak.”

Hening.

Kemudian Darrien bergumam pelan,

“Semoga aku tidak mati besok.”

***

Di kamar lain—

Fiona juga sudah bersiap tidur.

Ia berbaring di tempat tidurnya.

Selimut menutupi tubuhnya.

Matanya perlahan terpejam.

Namun beberapa saat kemudian—

Fiona kembali membuka mata.

Ia mengangkat tangannya.

Pergelangan tangannya terkena cahaya bulan yang masuk melalui jendela.

Sebuah gelang perak melingkar di sana.

**Silver Leaf Bracelet.**

Fiona menatapnya.

Diam.

Tidak ada senyum.

Tidak ada kata-kata.

Hanya tatapan yang cukup lama.

Jarinya menyentuh permukaan daun perak itu dengan lembut.

Seolah-olah memastikan benda itu masih berada di sana.

Beberapa detik kemudian—

ia menurunkan tangannya.

Tidak mengatakan apa pun.

Fiona memejamkan mata kembali.

Dan perlahan—

tertidur.

Di luar jendela—

bulan masih menggantung tinggi di langit Veyth.

Malam menjadi semakin sunyi.

Darrien tertidur dengan satu pikiran terakhir tentang latihan esok hari.

Sementara Fiona—

tidur dengan gelang perak yang masih melingkar di pergelangan tangannya.

Tanpa seorang pun mengetahui—

berapa banyak cerita yang mungkin tersimpan di balik benda kecil itu.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience