453. Kepulangan Tanpa Fiona

Romance Completed 594

BAB 453 — KEPULANGAN TANPA FIONA

Cahaya teleportasi perlahan menghilang di aula utama Istana Veyth.

Satu per satu anggota kelompok muncul.

Elyon.

Elarion.

Kevin.

Rowan.

Ace.

Dan terakhir—

Darrien.

Sepatu mereka kembali menginjak lantai marmer yang sudah sangat mereka kenal.

Tidak ada gunung.

Tidak ada hutan yang berubah.

Tidak ada rune kuno.

Tidak ada ruang yang tiba-tiba melipat dirinya sendiri dan melempar mereka entah ke mana.

Istana Veyth.

Mereka sudah kembali.

Namun suasana yang seharusnya terasa melegakan justru terasa berat.

Di ujung aula, dua orang telah menunggu.

King Edward.

Dan Queen Gloria.

Keduanya berdiri berdampingan, menatap rombongan yang baru saja kembali.

Gloria adalah orang pertama yang bergerak.

"Syukurlah..."

Suaranya terdengar lega.

Edward juga mengembuskan napas panjang.

"Kalian akhirnya kembali."

Tidak ada yang langsung menjawab.

Edward memperhatikan mereka satu per satu.

Pakaian mereka kusut.

Beberapa bagian perlengkapan terlihat rusak.

Wajah mereka lelah.

Dan yang paling jelas—

mereka tidak membawa Fiona.

Senyum kecil di wajah Gloria perlahan menghilang.

Ia menatap ke belakang rombongan.

Seolah berharap seseorang akan muncul beberapa detik kemudian.

Tidak ada siapa-siapa.

Gloria kembali menatap Darrien.

"Fiona...?"

Hening.

Darrien menundukkan kepalanya sedikit.

Tidak ada jawaban.

Namun itu sudah cukup.

Gloria langsung memahami sesuatu.

Fiona belum kembali.

Edward menyilangkan tangannya di depan dada.

"Apa yang terjadi?"

Kevin menarik napas.

"Kami berhasil mencapai istana Shadowcresent."

Kedua mata Edward sedikit melebar.

"Kalian berhasil masuk?"

"Ya."

Elyon mengangguk.

"Setelah beberapa percobaan."

Edward terdiam.

Itu seharusnya menjadi kabar besar.

Mereka akhirnya berhasil menembus pertahanan Shadowcresent.

Namun dari wajah mereka—

jelas ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada keberhasilan itu.

Gloria memandang Darrien lagi.

"Kalian menemukan Fiona?"

Kali ini Darrien mengangkat wajahnya.

Tatapannya terlihat jauh lebih berat daripada ketika ia pergi.

"Ya."

Gloria terdiam.

"Kalian... menemukan dia?"

Darrien mengangguk pelan.

"Dia ada di sana."

Gloria sempat tersenyum lega.

Namun senyum itu tidak bertahan lama.

"Kalau begitu..."

Tatapannya kembali mencari Fiona.

"Kenapa dia tidak bersama kalian?"

Tidak ada yang menjawab.

Ace yang biasanya paling cepat bercanda pun hanya berdiri diam.

Kevin melirik Darrien.

Elarion menunduk.

Rowan menghela napas.

Elyon pun tidak mengatakan apa-apa.

Akhirnya Kevin berkata,

"Lebih baik kita membicarakannya besok."

Gloria menatapnya.

"Besok?"

Kevin mengangguk.

"Kami baru saja kembali."

Ia melihat anggota kelompoknya.

"Mereka semua kelelahan."

Edward memahami maksudnya.

Ia tidak memaksa.

Namun tatapannya tetap serius.

"Ada sesuatu yang terjadi."

Bukan pertanyaan.

Sebuah kesimpulan.

Kevin hanya mengangguk.

"Ya."

Gloria mendekat beberapa langkah.

Tatapannya lembut saat melihat mereka.

"Kalau begitu kalian semua pergi beristirahat."

Tidak ada seorang pun yang membantah.

Gloria melanjutkan,

"Kita bicarakan semuanya besok."

Ia berhenti sejenak.

"Termasuk Fiona."

Darrien menutup matanya sebentar.

Nama itu saja sudah cukup untuk membuat dadanya kembali terasa berat.

Namun ia hanya menjawab pelan,

"Baik."

Edward kemudian berkata,

"Pergilah."

Mereka mulai berjalan meninggalkan aula.

Ace berjalan paling belakang.

Sebelum keluar, ia sempat menoleh ke arah Edward dan Gloria.

Ia membuka mulut.

Seolah hendak mengatakan sesuatu.

Namun akhirnya hanya menggeleng.

"Banyak."

Gloria mengerutkan kening.

"Apa?"

Ace menghela napas.

"Besok."

Lalu ia pergi.

Edward memandang punggungnya.

"...Aku semakin tidak suka kata itu."

Gloria tidak menjawab.

Ia hanya tetap berdiri di tengah aula.

Menatap pintu yang baru saja tertutup.

Beberapa detik berlalu.

Kemudian Edward berkata pelan,

"Mereka menemukan Fiona."

"Ya."

"Tapi mereka pulang tanpa dia."

Gloria mengangguk.

Ada kekhawatiran jelas di matanya.

"Dan dari wajah mereka..."

Ia menarik napas.

"Kurasa sesuatu yang buruk terjadi."

Edward diam.

Ia juga merasakan hal yang sama.

Namun malam ini—

mereka tidak akan memaksa jawaban keluar dari orang-orang yang bahkan belum sempat menarik napas setelah perjalanan panjang.

Gloria akhirnya berbalik.

"Biarkan mereka tidur."

Edward mengangguk.

"Besok kita dengarkan semuanya."

Gloria berjalan menuju pintu aula.

Namun sebelum pergi, ia berhenti.

"Edward."

"Hm?"

"Semoga Fiona baik-baik saja."

Edward menatap lorong gelap tempat Darrien dan yang lainnya menghilang.

"Semoga."

---

Di salah satu kamar Veyth...

Darrien akhirnya menutup pintunya.

Sendirian.

Ia berdiri beberapa saat tanpa bergerak.

Kemudian perlahan bersandar pada pintu.

Matanya terpejam.

Fiona.

Ia akhirnya melihatnya lagi.

Namun bukan Fiona yang selama ini ia bayangkan.

Bukan Fiona yang berlari memeluknya.

Bukan Fiona yang tersenyum ketika melihatnya.

Bukan Fiona yang memanggil namanya dengan suara yang selalu ia rindukan.

Yang ia lihat justru—

Fiona berlari menuju Raizen.

Menangis karena luka pria itu.

Melindunginya.

Dan kemudian mengirim mereka pergi.

Darrien membuka matanya.

Tatapannya kosong.

"...Besok."

Ia mengembuskan napas panjang.

Besok mereka akan bicara.

Besok mereka akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Dan setelah itu—

mereka akan menentukan langkah berikutnya.

Karena meskipun hari ini mereka pulang tanpa Fiona...

Darrien belum menyerah.

Belum.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience