Series
94
BAB 68
MALAM TERAKHIR
Malam terakhir sebelum pernikahan akhirnya tiba.
Kediaman Ardika berubah menjadi jauh lebih ramai.
Pelayan berlari dari satu ruangan ke ruangan lain.
Lampu-lampu dinyalakan di sepanjang koridor.
Meja makan dipenuhi hidangan.
Keluarga Varian telah tiba untuk jamuan terakhir.
Semua orang sibuk.
Terlalu sibuk.
Dan justru itulah yang Fiona tunggu.
***
Fiona berdiri di kamarnya.
Ia mengenakan gaun sederhana.
Bukan gaun pernikahan.
Kunci kecil tersembunyi di balik lengan bajunya.
Ia melihat jam.
Belum.
Masih terlalu awal.
Dari luar, suara langkah para pelayan terdengar.
Kemudian pintu terbuka.
Susanti masuk.
“Kau belum bersiap?”
Fiona menatapnya.
“Aku tidak ingin memakai gaun pernikahan.”
Susanti menghela napas.
“Setelah jamuan selesai.”
Fiona tidak menjawab.
Susanti mendekat.
“Fiona…”
“Aku akan pergi.”
Susanti membeku.
Fiona menatapnya.
“Aku tidak akan menikah.”
Susanti menunduk.
“Aku tahu.”
“Kau tahu?”
“Sejak awal.”
Fiona terdiam.
Susanti menggenggam tangannya.
“Kalau aku bisa…”
Ia berhenti.
“Namun aku tidak bisa melawan keputusan Surya.”
Fiona menarik tangannya perlahan.
“Kalau begitu aku akan melawan sendiri.”
Susanti menatapnya.
“Berhati-hatilah.”
Fiona terkejut.
Susanti berjalan menuju pintu.
Sebelum keluar, ia berhenti.
“Jangan sampai mereka menangkapmu.”
Pintu tertutup.
Fiona berdiri diam.
Untuk sesaat…
ia tidak tahu apakah Susanti baru saja memperingatkannya—
atau memberinya izin.
***
Di aula utama—
Keith Varian sedang berbicara dengan Surya.
“Besok semuanya akan selesai.”
Surya tersenyum kaku.
“Ya.”
Clark berdiri tidak jauh dari mereka.
Ia sesekali melihat ke arah lorong.
“Di mana Fiona?”
Surya langsung menegang.
“Dia sedang bersiap.”
Clark mengangguk.
“Baik.”
Namun tatapannya masih tertuju pada lorong.
Ia tidak tahu kenapa.
Ada sesuatu tentang gadis itu yang membuatnya penasaran.
Ia tidak terlihat seperti Lola.
Namun Clark tidak tahu siapa Lola sebenarnya.
***
Di luar kediaman—
Darrien berdiri dalam bayangan.
Matanya terpejam.
Ia merasakan aura Fiona.
Dekat.
Sangat dekat.
“Dia di sana.”
Ace berdiri di sampingnya.
“Bagian belakang?”
Darrien mengangguk.
“Ya.”
Kevin muncul dari sisi lain.
“Penghalangnya?”
“Masih aktif.”
“Bisa kau lewati?”
Darrien membuka mata.
“Bisa.”
Kevin tersenyum.
“Bagus.”
Darrien melihat ke arah kediaman.
“Namun aku tidak akan masuk sendirian.”
Elarion muncul.
“Bagus.”
Darrien menatapnya.
“Aku tidak ingin Fiona takut ketika melihatku.”
Elarion tersenyum kecil.
“Setidaknya kau masih berpikir.”
***
Jamuan dimulai.
Musik memenuhi aula.
Para bangsawan berbicara.
Pelayan membawa makanan.
Semua perhatian berada di ruang utama.
Fiona menunggu.
Satu menit.
Dua menit.
Tiga.
Kemudian—
ia membuka pintu.
Tidak ada penjaga.
Fiona berjalan keluar.
Ia tidak menuju aula.
Ia menuju lorong belakang.
Langkahnya ringan.
Ia berhenti ketika mendengar suara.
Menunggu.
Suara itu menjauh.
Fiona melanjutkan.
Tangga.
Dapur.
Pintu belakang.
Kemudian kandang.
Ia memasukkan tangan ke lengan bajunya.
Kunci kecil terasa dingin.
Fiona tersenyum.
“Sedikit lagi.”
***
Di sisi lain—
Darrien merasakan aura Fiona bergerak.
Ia langsung membuka mata.
“Dia bergerak.”
Ace menatapnya.
“Sekarang?”
“Ya.”
Kevin mengangguk.
“Bergerak.”
Darrien melangkah maju.
Sihir mengalir di tubuhnya.
Ia menyentuh penghalang.
Tidak menghancurkannya.
Hanya mencari celah.
Satu.
Dua.
Tiga.
Kemudian—
**klik.**
Sebuah celah terbuka.
Darrien tersenyum.
“Aku masuk.”
Ace mengangguk.
“Kami mengikuti.”
Darrien melangkah ke dalam.
***
Fiona tiba di kandang.
Ia memasukkan kunci.
**Klik.**
Pintu terbuka.
Namun sebelum ia sempat keluar—
ia merasakan sesuatu.
Sebuah aura.
Sangat familiar.
Fiona membeku.
Matanya membesar.
“Darrien…?”
Ia menoleh ke belakang.
Tidak ada siapa pun.
Namun aura itu semakin dekat.
Dan untuk pertama kalinya malam itu—
Fiona tersenyum.
***
Di sisi lain kandang—
Darrien berhenti.
Ia merasakan Fiona.
Sangat dekat.
Hanya beberapa puluh meter.
Ia membuka matanya.
“Fiona…”
Namun sebelum ia bergerak—
suara langkah terdengar.
Para penjaga.
Darrien langsung bersembunyi.
Fiona juga mendengar suara yang sama.
Ia menutup pintu kandang perlahan.
Malam itu…
mereka hanya dipisahkan oleh beberapa dinding.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka dipisahkan—
mereka berada di tempat yang sama.
Namun belum saling melihat.
Share this novel