Series
382
BAB 234
Beberapa saat kemudian—
barrier di sekitar battlefield akhirnya menghilang sepenuhnya.
Fiona berjalan keluar bersama Darrien.
Langkahnya sedikit lebih lambat dari biasanya.
Bukan karena tubuhnya terlalu lelah.
Melainkan karena pikirannya masih dipenuhi oleh apa yang baru saja terjadi.
Cahaya itu.
Gelangnya.
Dan pemandangan dari mimpinya yang tiba-tiba muncul kembali.
Fiona menatap tangannya.
“…”
Darrien memperhatikannya.
“Kau masih memikirkannya?”
Fiona mengangguk.
“Ya.”
Ia menyentuh gelang di pergelangan tangannya.
“Aku tidak mengerti.”
“Cahaya tadi terasa seperti…”
Ia berhenti.
“Seperti aku pernah mengenalnya.”
Darrien menatap gelang itu.
“Mungkin memang begitu.”
Fiona menoleh.
“Maksudmu?”
Darrien menggeleng.
“Aku juga tidak tahu.”
“Jadi jangan tanyakan padaku.”
Fiona mengembungkan pipinya.
“Tidak membantu.”
Darrien tertawa kecil.
Di belakang mereka—
Elarion berjalan mendekat.
Ia tidak langsung berbicara.
Tatapannya tertuju pada gelang Fiona.
Kemudian pada wajahnya.
“Fiona.”
“Hm?”
“Ketika cahaya itu muncul…”
Elarion berhenti sejenak.
“Apa kau merasakan sesuatu?”
Fiona berpikir.
“Hangat.”
“Dan?”
“Familiar.”
Elarion mengangguk.
“Apakah ada rasa takut?”
Fiona menggeleng.
“Tidak.”
“Rasa sakit?”
“Tidak.”
“Seperti ada sesuatu yang memaksamu?”
Fiona kembali menggeleng.
“Tidak.”
Elarion terdiam.
Itu justru membuatnya semakin penasaran.
Jika kekuatan tersebut bukan dipaksakan—
berarti Fiona meresponsnya secara alami.
Elarion akhirnya tersenyum tipis.
“Kalau begitu, jangan takut.”
Fiona menatapnya.
“Aku tidak takut.”
Ia kemudian melihat ke arah Kevin.
Kevin sudah berjalan cukup jauh bersama Ace dan Rowan.
Namun sebelum menghilang di balik pintu—
ia berhenti.
Menoleh.
Tatapannya bertemu dengan Fiona.
Hanya sesaat.
Kemudian Kevin melanjutkan langkahnya.
Fiona mengerutkan kening.
“Dia masih memperhatikanku.”
Darrien menghela napas.
“Sepertinya.”
Fiona langsung mengusap wajahnya.
“Kenapa aku merasa besok akan lebih buruk?”
Ace yang masih berjalan bersama Kevin tiba-tiba menoleh ke belakang.
“Karena memang mungkin begitu.”
Rowan tertawa.
“Jangan dengarkan dia.”
Fiona memelototi mereka.
“Kalian semua tidak membantu!”
Suara tawa kecil terdengar.
Namun setelah mereka pergi—
Elarion kembali menatap battlefield.
Tempat Fiona berdiri tadi masih menyisakan sedikit cahaya.
Sangat tipis.
Hampir tidak terlihat.
Namun Elarion melihatnya.
Ia berjalan mendekat.
Menunduk.
Kemudian menyentuh tanah.
Cahaya itu langsung menghilang.
Elarion mengerutkan kening.
“…”
Bukan sisa sihir Darrien.
Bukan juga jejak energi Kevin.
Cahaya itu—
berbeda.
Jauh lebih tua.
Elarion perlahan berdiri.
“Jadi…”
Ia menatap arah Fiona pergi.
“Bukan hanya gelang itu yang bereaksi.”
Ia terdiam.
“Tanahnya juga.”
***
Di sisi lain—
Fiona dan Darrien sudah hampir sampai ke koridor.
Fiona tiba-tiba berhenti.
Darrien ikut berhenti.
“Ada apa?”
Fiona menoleh ke belakang.
“Aku…”
Ia mengerutkan kening.
“Aku merasa seperti seseorang memanggilku.”
Darrien langsung menatap sekeliling.
“Siapa?”
Fiona menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
“Dari mana?”
Fiona menatap jauh ke arah battlefield.
“Entahlah.”
Kemudian—
sebuah suara sangat kecil terdengar di telinganya.
Bukan suara Darrien.
Bukan suara Elarion.
Dan bukan suara Kevin.
Suara itu—
terdengar seperti tawa kecil.
Fiona membeku.
“…Kalian?”
Darrien menatapnya.
“Siapa?”
Fiona tidak menjawab.
Karena tepat di sudut koridor—
dua cahaya kecil muncul.
Dua tiny elf.
Mereka hanya muncul beberapa detik.
Kemudian salah satunya menunjuk ke arah Fiona.
Yang lainnya menunjuk ke arah gelangnya.
Fiona membelalakkan mata.
“Kalian…”
Kedua tiny elf itu tertawa.
Lalu—
menghilang.
Fiona berdiri terpaku.
Darrien menatapnya bingung.
“Apa yang terjadi?”
Fiona perlahan mengangkat tangannya.
Gelang itu kembali bersinar.
Sangat lembut.
Dan kali ini—
simbol daun perak di tengahnya berubah.
Untuk sesaat—
bentuknya menyerupai sesuatu yang pernah Fiona lihat sebelumnya.
Sebuah simbol dari ruangan potret.
Fiona menahan napas.
“…Aku pernah melihat ini.”
Darrien langsung menatap gelang itu.
“Di mana?”
Fiona menatapnya.
“Di mimpiku.”
Dan tanpa mereka sadari—
jauh di tempat lain,
di dalam ruang kristal yang bahkan tidak berada di wilayah Veyth—
sebuah pintu yang selama ini tertutup…
perlahan mulai terbuka.
**Krek…**
Sebuah cahaya keluar dari celah pintu.
Dan di baliknya—
terdengar suara tawa kecil yang sama.
“…”
Sementara Fiona masih berdiri di koridor—
ia belum tahu bahwa pencariannya di dunia mimpi…
akhirnya mulai memberikan jawaban.
Namun jawaban pertama itu—
justru membuka pertanyaan yang jauh lebih besar.
Share this novel