Password reset is available in the NovelPlus App.
Use the app to securely reset your password.
Reset in App
Completed
594
Get the app for full experience
BAB 417 — KENCAN DI TAMAN SANG RAJA
Sore hari—
Shadowcresent diselimuti cahaya senja berwarna marun gelap.
Raizen menyusuri koridor istana, sementara Fiona mengikutinya dengan langkah santai.
“Ke mana kita pergi?”
“Ke taman.”
“Taman favoritmu?”
Raizen meliriknya. Tatapannya bertahan sedikit lebih lama sebelum ia kembali memandang ke depan. “Kau tidak suka?”
“Bukan begitu.” Fiona mempercepat langkah hingga berjalan di sampingnya. Bahunya hampir menyentuh lengan Raizen. “Aku menyukainya.”
Raizen terdiam sejenak.
Entah mengapa, jawaban sederhana itu membuat hatinya terasa ringan.
---
Pintu kayu hitam terbuka, menyingkap taman Shadowcresent yang dipenuhi mawar hitam. Kolam memantulkan langit senja, sementara angin lembut menyusup di antara pepohonan tua.
Namun kali ini, Raizen tidak sekadar mengajak Fiona berjalan-jalan.
Di tepi kolam, sebuah meja kecil telah disiapkan lengkap dengan dua kursi, lilin-lilin menyala, aneka hidangan penutup, dan teko teh.
Fiona berhenti di ambang taman.
“Kau menyiapkan semua ini?”
Raizen mengangguk. “Ya.”
“Untuk apa?”
“Makan.”
Fiona mengerutkan kening. “Bukankah kita sudah sarapan?”
“Ini bukan sarapan.”
“Lalu?”
Raizen menarikkan kursi untuknya. Jemarinya sempat menyentuh sandaran kursi di dekat tangan Fiona, lalu segera ia tarik kembali.
“Duduklah.”
Fiona tersenyum kecil sebelum mengambil tempat. “Kau bahkan menarikkan kursi untukku.”
“Bukankah itu hal biasa?”
“Tidak untukmu.”
Raizen menatapnya sekilas, seolah hendak membantah, tetapi akhirnya hanya duduk di seberangnya.
Fiona kembali memandangi meja yang tertata rapi itu.
“Jadi, ini kencan?”
Raizen terdiam sesaat. Pandangannya bertemu dengan mata Fiona di antara cahaya lilin yang bergetar.
“Jika kau ingin menyebutnya begitu.”
Fiona mengangkat alis, lalu mengambil sepotong kue.
“Kalau begitu, ini kencan.”
“Kau tidak keberatan?”
“Tidak.” Ia menggigit kuenya dan tersenyum puas. “Selama ada makanan.”
Raizen nyaris tertawa. Sudut bibirnya terangkat sebelum ia menundukkan wajah untuk menyembunyikannya.
“Begitu rupanya.”
---
Mereka mulai menikmati hidangan yang tersedia.
Fiona mencicipi satu per satu makanan di hadapannya, sesekali mengangguk puas atau menggeleng ketika menemukan rasa yang tidak sesuai seleranya.
Saat menemukan kue kecil berisi buah, matanya langsung berbinar.
“Yang ini enak!”
Raizen menggeser piring itu ke arahnya tanpa diminta.
“Makanlah.”
“Terima kasih.”
Jemari mereka hampir bersentuhan saat Fiona menarik piring tersebut. Ia melirik tangan Raizen, lalu menatap wajahnya. Raizen juga sempat memandangnya, tetapi keduanya segera mengalihkan perhatian pada kue di antara mereka.
Untuk beberapa saat, mereka menyantap hidangan tanpa membicarakan kerajaan, perang, ataupun Veyth.
Hanya ada mereka berdua, ditemani embusan angin senja dan aroma mawar hitam.
Setelah menghabiskan sepotong kue, Fiona mengalihkan pandangan ke kolam.
“Raizen, kenapa kau menyukai taman ini?”
Raizen mengikuti arah tatapannya.
“Karena tempat ini tidak pernah menuntut apa pun dariku.”
Fiona menoleh.
“Di sini, tak ada yang meminta keputusan, menuntut jawaban, atau memanggilku sebagai raja,” lanjutnya.
Fiona mulai memahami.
“Jadi, kau datang ke sini saat ingin menyendiri.”
“Benar.”
Raizen tersenyum tipis.
“Dan sekarang kau membawaku ke sini.”
“Benar.”
Fiona memiringkan kepala.
“Berarti aku mengganggu waktu menyendirimu.”
“Tidak.”
Raizen menatapnya sejenak. Kali ini, ia tidak segera mengalihkan pandangan.
“Sekarang, tempat ini terasa berbeda.”
Fiona terdiam.
Tatapan mereka bertemu lebih lama daripada sebelumnya. Seolah ada jawaban yang tidak diucapkan di antara keduanya, Fiona akhirnya menundukkan wajah dan membiarkan rambutnya menutupi sebagian pipinya.
Ia tidak tahu harus menjawab apa, jadi tangannya kembali meraih sepotong kue.
“Kalau begitu, aku akan menganggapnya sebagai hal yang baik.”
“Memang.”
Senyum tipis terbit di wajah Fiona. Raizen memperhatikannya sesaat sebelum kembali menyesap tehnya.
---
Matahari semakin rendah, meninggalkan semburat cahaya terakhir di sela-sela pepohonan.
Fiona bangkit dan berjalan menuju sekuntum mawar hitam. Dengan hati-hati, ia menyentuh kelopaknya.
“Ada duri.”
“Ya.”
Fiona tersenyum.
“Indah.”
Raizen berdiri tak jauh darinya. “Kau sudah mengatakan itu sebelumnya.”
“Karena memang indah. Tidak ada salahnya mengatakannya dua kali.”
Raizen terdiam, lalu mengangguk.
“Benar.”
Fiona kembali mengamati bunga itu.
“Aku ingin membawa satu ke kamarku.”
“Ambillah.”
“Benarkah?”
Raizen mengangguk.
Saat Fiona hendak memetiknya, Raizen lebih dahulu mengulurkan tangan. Ia memotong tangkainya dengan hati-hati agar duri-durinya tidak melukai Fiona, lalu menyerahkan mawar itu kepadanya.
Fiona menerimanya dengan senyum lebar.
“Terima kasih.”
“Jangan sampai durinya melukaimu.”
“Kalau begitu, kau harus mengajariku cara memegangnya.”
Raizen menatap jemari Fiona yang menggenggam tangkai mawar. “Sepertinya kau sudah cukup pandai.”
“Pujian?”
“Pengamatan.”
Fiona terkekeh pelan. “Tentu saja.”
Ia mendekatkan bunga tersebut ke wajahnya, menikmati aromanya yang lebih dalam dan lembut daripada mawar biasa. Raizen memperhatikan senyum di wajahnya, lalu diam-diam memastikan posisi duri yang tersisa tidak menyentuh tangannya.
---
Malam mulai turun ketika bulan sabit merah muncul di langit.
Fiona dan Raizen kembali duduk di bangku batu dekat kolam. Mawar hitam itu masih berada di tangan Fiona.
“Aku menyukai tempat ini,” katanya.
Raizen menoleh.
“Tapi jangan salah paham.” Fiona meliriknya. “Aku tetap tidak akan menjadi ratu hanya karena taman ini.”
Raizen tersenyum tipis.
“Aku tahu.”
“Kenapa kau selalu mengatakan itu?”
“Karena kau selalu mengatakannya.”
Fiona terdiam, lalu tertawa kecil.
“Benar juga.”
Angin malam berembus. Fiona merapatkan bahunya, dan tanpa banyak bicara, Raizen menggeser posisi duduknya sedikit, membiarkan sisi jubahnya menahan hembusan angin yang mengarah kepadanya.
Fiona menyadarinya. Ia menatap Raizen dari sudut mata, tetapi tidak mengatakan apa-apa. Sebaliknya, ia duduk sedikit lebih dekat hingga lengan mereka bersentuhan ringan.
Raizen menoleh.
Fiona pura-pura memandangi kolam. “Anginnya dingin.”
“Begitu rupanya.”
“Jangan salah paham.”
“Aku tidak mengatakan apa-apa.”
“Tatapanmu mengatakannya.”
Raizen menahan senyum. “Kau terlalu banyak menafsirkan.”
“Dan kau terlalu sedikit bicara.”
Keheningan kembali menyelimuti mereka, tetapi kali ini terasa nyaman.
Raizen memandangi Fiona yang duduk di sampingnya. Rambutnya bergerak lembut tertiup angin, sementara jemarinya menggenggam mawar hitam dengan senyum kecil di wajahnya.
Fiona menoleh dan mendapati Raizen sedang menatapnya. Untuk sesaat, tak satu pun dari mereka bergerak.
“Kenapa?” tanyanya pelan.
Raizen mengalihkan pandangan ke kolam. “Tidak apa-apa.”
Fiona tersenyum kecil, seolah tidak sepenuhnya percaya, tetapi memilih untuk tidak mendesaknya.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Selama ribuan tahun, taman itu menjadi tempatnya mencari kesendirian.
Namun kini, sesuatu telah berubah.
Bukan karena bunga-bunga hitamnya.
Bukan pula karena kolam yang memantulkan cahaya bulan.
Melainkan karena seseorang kini duduk di sisinya.
Fiona.
