458. Amarah Di Medan Latihan

Romance Completed 594

BAB 458 — AMARAH DI MEDAN LATIHAN

Pagi datang dengan tenang di Veyth.

Langit masih dipenuhi warna pucat ketika sebuah sosok sudah berdiri sendirian di tengah medan latihan.

Darrien.

Tidak ada pengawal.

Tidak ada anggota Veyth lainnya.

Tidak ada percakapan.

Hanya dirinya sendiri.

Ia berdiri diam beberapa saat, kedua tangannya mengepal.

Kemudian—

Darrien mengangkat satu tangannya.

"Bangun."

Cahaya sihir muncul di tanah.

Sebuah lingkaran sihir terbentuk, lalu sebuah tubuh humanoid dari energi perlahan muncul dari dalamnya.

Magic dummy.

Biasanya benda itu digunakan untuk latihan biasa.

Mengukur kekuatan.

Menguji teknik.

Menguji kecepatan.

Namun pagi ini—

Darrien tidak sedang berlatih biasa.

Ia menatap dummy tersebut.

Tatapannya menjadi dingin.

"Raizen."

Dummy itu tentu saja tidak menjawab.

Namun bagi Darrien...

wajah kosong itu sudah cukup.

Dalam pikirannya, dummy itu berubah menjadi sosok yang paling ingin ia hancurkan.

Vampire kuno dengan rambut perak.

Mata merah.

Senyum tenang.

Dan Fiona yang berdiri di sisinya.

Darrien menarik napas panjang.

"Kalau kau memang yang mengubahnya..."

Tangannya mengepal lebih erat.

"...aku akan menghancurkanmu."

BOOM!

Tubuh dummy terlempar beberapa meter.

Darrien sudah berada di depannya dalam sekejap.

Satu pukulan.

Dua.

Tiga.

Setiap serangan semakin keras.

Ledakan energi memenuhi medan latihan.

Tanah retak.

Udara bergetar.

Dummy itu bahkan belum sempat menstabilkan tubuhnya ketika Darrien sudah menghantamnya lagi.

BOOM!

Tubuh sihir itu terlempar ke belakang.

Darrien mengejarnya.

"Kenapa..."

Sebuah pukulan menghantam dada dummy.

"...kau bisa membuatnya melupakanku?"

Pukulan kedua.

"Kenapa kau bisa membuatnya melihatmu..."

Pukulan ketiga.

"...seolah-olah kaulah orang yang paling dia cintai?"

Dummy itu terlempar lagi.

Darrien berhenti.

Napasnya sedikit berat.

Kedua matanya menatap dummy tersebut.

Untuk sesaat—

ia tidak melihat benda sihir itu.

Ia melihat Fiona.

Fiona yang berlari menuju Raizen.

Fiona yang menangis ketika melihat luka di tubuh Raizen.

Fiona yang bahkan tidak mengenalinya.

Dan ketika ia memanggil namanya—

Fiona tetap memilih Raizen.

Darrien menundukkan kepala.

Tangannya gemetar.

Bukan karena lelah.

Karena marah.

Karena sakit.

Karena ia tidak tahu harus melakukan apa terhadap semua perasaan itu.

"Fiona..."

Bisikannya hampir hilang tertelan angin.

Kemudian tatapannya kembali berubah.

Dingin.

"Kau mengambilnya dariku."

Darrien mengangkat tangannya.

Sihir berkumpul di telapak tangannya.

Kali ini jauh lebih besar.

Dummy itu berdiri kembali.

Darrien tersenyum tipis.

Senyum yang sama sekali tidak memiliki kehangatan.

"Kalau begitu..."

BOOM!

Ledakan energi menghantam seluruh medan latihan.

Debu beterbangan.

---

Tidak terlalu jauh dari sana—

seseorang berdiri di balkon salah satu bangunan istana.

Kevin.

Ia sudah berada di sana cukup lama.

Tangannya bersandar pada pagar batu sementara matanya mengamati medan latihan.

Ia tidak ikut campur.

Belum.

Kevin sudah melihat banyak jenis latihan selama hidupnya.

Latihan untuk menjadi lebih kuat.

Latihan untuk mempertajam kemampuan.

Latihan sebelum perang.

Namun yang dilakukan Darrien sekarang berbeda.

Ini bukan sekadar latihan.

Kevin menghela napas pelan.

"Dia sedang melampiaskan semuanya."

Satu ledakan kembali terdengar dari kejauhan.

BOOM!

Kevin menatap medan latihan.

"Dan kalau tidak dihentikan..."

Ia menggeleng kecil.

"...medannya mungkin yang akan menyerah lebih dulu."

Untuk beberapa saat, Kevin hanya diam.

Ia tahu Darrien membutuhkan waktu.

Mungkin lebih dari sekadar satu pagi.

Jadi Kevin memilih untuk tetap mengawasi.

Jika Darrien benar-benar kehilangan kendali—

barulah ia akan turun tangan.

---

Sementara itu...

Di dalam perpustakaan istana Veyth—

keadaan jauh lebih kacau.

Bukan karena perang.

Bukan karena serangan.

Melainkan karena penelitian.

Elyon berdiri di depan meja yang sudah dipenuhi buku.

Elarion duduk di salah satu sisi meja sambil membaca catatan kuno.

Rowan membuka beberapa dokumen sejarah.

Sylvester memeriksa catatan tentang sihir cahaya.

Dan Ace—

baru saja diseret masuk.

"AKU BARU BANGUN!"

Elyon tetap berjalan.

"Bagus."

"Aku bahkan belum sarapan!"

"Bagus."

"Aku masih mengantuk!"

"Bagus."

Ace berhenti berjalan.

"...Kenapa semuanya bagus?"

Elyon akhirnya melepaskan kerah bajunya.

"Karena sekarang kau sudah bangun."

Ace menatapnya dengan wajah tidak percaya.

Kemudian ia melihat meja penuh buku.

Wajahnya langsung berubah.

"...Tidak."

Elyon menunjuk kursi.

"Duduk."

"Tidak."

"Duduk."

"Aku sudah tidur setelah perjalanan gunung!"

"Dan sekarang kau sudah mendapatkan energi kembali."

"Aku butuh tiga hari!"

"Kau mendapatkan beberapa jam."

"Itu tidak sama!"

Rowan menahan senyum.

Sylvester pura-pura fokus pada bukunya.

Elarion bahkan tidak mengangkat kepala.

Ace akhirnya menjatuhkan tubuhnya ke kursi.

"Ini perbudakan."

Elyon menarik satu buku ke arahnya.

"Ini penelitian."

"Rasanya sama."

Elarion akhirnya tertawa kecil.

"Setidaknya kali ini kita punya lebih banyak orang."

Ace melihat keempat orang di sekeliling meja.

"...Dan aku tetap merasa jumlah kami kurang."

Elyon mengabaikannya.

"Kita kembali ke inti masalah."

Ia menunjuk beberapa catatan.

"Perubahan pada Fiona."

Ruangan langsung kembali serius.

Rowan membuka sebuah dokumen.

"Kita sudah mengetahui bahwa ingatannya berubah."

"Belum tentu seluruh ingatannya," kata Elarion. "Kita hanya tahu perilakunya menunjukkan perubahan besar."

Sylvester mengangguk.

"Dan yang paling aneh adalah matanya."

"Mata merah itu," ujar Elyon.

Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Fiona tetap memiliki Pure Light."

"Tapi auranya berbeda."

Ace, yang beberapa detik lalu masih mengeluh, kini ikut memperhatikan.

"Jadi... apa Raizen memberinya kekuatan baru?"

Tidak ada yang langsung menjawab.

Elarion menggeleng perlahan.

"Belum tentu."

Rowan membuka halaman lain.

"Kita juga belum tahu apakah perubahan itu berasal dari sihir Raizen..."

"...atau akibat hubungan antara sihir Raizen dan tubuh Fiona sendiri," sambung Sylvester.

Elyon menatap catatan itu.

"Dan itu yang harus kita cari."

Ace mengangkat tangan.

"Aku punya pertanyaan."

Elyon menatapnya.

"Apa?"

"Kalau kita belum tahu jawabannya..."

Ace menunjuk tumpukan buku yang sangat tinggi.

"...kenapa bukunya sebanyak itu?"

Hening.

Rowan menatap tumpukan tersebut.

Kemudian menjawab datar.

"Karena kita belum tahu jawabannya."

Ace terdiam.

"...Masuk akal."

Elyon langsung kembali membaca.

"Bagus. Sekarang diam."

Ace menghela napas.

---

Di luar—

BOOM!

Ledakan lain terdengar.

Elyon berhenti membaca.

Semua orang di perpustakaan ikut terdiam.

Mereka saling menatap.

Rowan berjalan menuju jendela.

Ia membukanya sedikit.

Dari kejauhan, debu terlihat naik dari medan latihan.

Ace menyipitkan mata.

"Dia masih latihan?"

Kevin yang berada di balkon sebelumnya masih terlihat jauh di sana.

Ace menghela napas.

"Darrien benar-benar tidak akan membiarkan dirinya tenang."

Elyon menutup bukunya sebentar.

"Biarkan."

Ia kembali duduk.

"Selama dia masih bisa mengendalikan dirinya."

Elarion mengangguk.

"Dan selama dia masih punya sesuatu yang ingin diperjuangkan."

Tidak ada yang mengatakan nama Fiona.

Mereka semua sudah tahu.

---

Di medan latihan—

Darrien berdiri di depan magic dummy yang kini penuh retakan energi.

Napasnya berat.

Tangannya masih mengepal.

Namun kali ini ia tidak menyerang.

Ia hanya menatap dummy tersebut.

Lalu perlahan—

amarah di matanya mereda.

Bukan hilang.

Hanya dikendalikan.

Darrien mengingat kembali wajah Fiona.

Bukan wajahnya saat berlari menuju Raizen.

Bukan wajahnya saat menangis.

Melainkan Fiona sebelum semuanya berubah.

Fiona yang tersenyum.

Fiona yang memanggil namanya.

Fiona yang pernah berdiri di sisinya.

Darrien menutup matanya.

"Aku akan membawamu kembali."

Suaranya pelan.

Tidak ada kemarahan di dalamnya kali ini.

Hanya tekad.

"Aku tidak tahu bagaimana."

Ia membuka mata.

"Tapi aku akan menemukan caranya."

Magic dummy perlahan menghilang.

Darrien berdiri sendirian di tengah medan latihan.

Dan dari kejauhan—

Kevin masih mengawasinya.

Kali ini ia tersenyum tipis.

"Begitu lebih baik."

Karena amarah bisa membuat seseorang menjadi kuat.

Namun hanya tekad—

yang membuat seseorang terus berjalan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience