Series
382
BAB 269 — PERJALANAN MENUJU LUNARIS
Tiga hari berlalu.
Pagi itu—
Istana Veyth terasa lebih sibuk dari biasanya.
Beberapa pelayan berjalan membawa barang-barang yang telah dipersiapkan untuk perjalanan.
Koper.
Pakaian.
Perlengkapan pribadi.
Dan beberapa hadiah yang akan dibawa sebagai tanda persahabatan antara kedua kerajaan.
Di salah satu halaman istana—
sebuah lingkaran teleportasi besar telah disiapkan.
Garis-garis sihir berwarna keemasan memenuhi permukaan lantai.
Kristal-kristal kecil berdiri di sekelilingnya.
Energi magis berputar perlahan di udara.
Fiona berdiri beberapa langkah dari lingkaran tersebut.
Ia menatapnya cukup lama.
“Jadi…”
Ia menunjuk lingkaran itu.
“Kita benar-benar akan masuk ke sana?”
Darrien berdiri di sampingnya.
“Ya.”
Fiona menelan ludah.
“Dan kemudian kita langsung sampai Lunaris?”
“Begitulah seharusnya.”
Fiona mengangguk perlahan.
“Seharusnya?”
Darrien terdiam.
Ia menatap lingkaran teleportasi.
“…Aku belum pernah mencobanya.”
Fiona langsung menoleh.
“Kau juga belum?”
“Belum.”
Keduanya saling berpandangan.
Beberapa detik kemudian—
Fiona tertawa kecil.
“Kalau begitu kita sama-sama tidak tahu apa yang akan terjadi.”
Darrien menghela napas.
“Semoga kita tidak jatuh dari langit.”
Fiona menatapnya.
“Jangan mengatakan hal seperti itu.”
“Aku hanya bercanda.”
“Jangan bercanda soal teleportasi.”
Darrien tertawa kecil.
“Baik.”
***
Tidak jauh dari mereka—
Ace dan Rowan sudah siap.
Elarion berdiri tenang seperti biasa.
Sementara Kevin—
berdiri dengan ekspresi yang jauh lebih santai dibandingkan tiga bulan terakhir.
Tidak ada senjata latihan.
Tidak ada magical dummy.
Tidak ada ekspresi seorang pelatih yang siap menghancurkan muridnya.
Hari ini—
Kevin benar-benar sedang dalam suasana liburan.
Ace memperhatikannya.
“Kau terlihat bahagia.”
Kevin menoleh.
“Memangnya kenapa?”
“Tidak ada latihan.”
Kevin mengangguk.
“Benar.”
Rowan tersenyum.
“Jangan sampai kau menemukan alasan untuk melatih Darrien di Lunaris.”
Kevin menatapnya.
“Aku sedang berlibur.”
Ace tertawa.
“Kami akan mengingatkanmu kalau kau lupa.”
Kevin hanya menghela napas.
***
Tak lama kemudian—
Raja Edward dan Ratu Gloria tiba.
Darrien langsung berdiri lebih tegak.
“Ayah. Ibu.”
Edward tersenyum.
“Sudah siap?”
Darrien mengangguk.
“Sudah.”
Gloria memandang Fiona.
“Kau juga?”
Fiona tersenyum.
“Sudah.”
Kemudian Gloria memperhatikan koper Fiona.
Ia terdiam sebentar.
“Apakah itu semuanya?”
Fiona melihat kopernya.
“…Iya.”
Edward menahan tawanya.
Darrien langsung menoleh.
“Aku sudah bilang dia membawa terlalu banyak.”
Fiona memelototinya.
“Jangan ikut campur.”
Darrien mengangkat kedua tangannya.
“Baik.”
Gloria tertawa kecil.
“Tidak apa-apa. Bawalah apa pun yang membuatmu nyaman.”
Fiona tersenyum.
“Terima kasih.”
***
Beberapa menit kemudian—
waktunya tiba.
Raja Edward berdiri di depan mereka.
“Jaga diri kalian.”
Darrien mengangguk.
“Akan kami lakukan.”
Edward kemudian menatap Ace, Rowan, dan Kevin.
“Jaga mereka.”
Ace mengangguk.
“Tentu.”
Rowan tersenyum.
“Jangan khawatir.”
Kevin memberikan hormat.
“Serahkan kepada kami.”
Gloria kemudian mendekati Darrien.
Ia memeluk putranya.
“Hati-hati.”
Darrien membalas pelukan itu.
“Aku akan baik-baik saja.”
Kemudian Gloria memeluk Fiona.
“Bersenang-senanglah di Lunaris.”
Fiona tersenyum.
“Akan kulakukan.”
Edward kemudian menatap keduanya.
“Jangan lupa menikmati perjalanan.”
Darrien tersenyum.
“Kami akan segera kembali.”
Setelah beberapa saat—
mereka akhirnya mundur dari keluarga kerajaan.
Darrien menatap kedua orang tuanya.
Kemudian—
melangkah menuju lingkaran teleportasi.
Fiona mengikuti.
***
Begitu kaki mereka menginjak lingkaran—
energi magis langsung meningkat.
Angin berputar.
Rambut Fiona terangkat.
Darrien secara refleks meraih tangannya.
Fiona menggenggamnya erat.
“Darrien…”
“Tenang.”
“Kau yakin?”
“Tidak.”
Fiona menatapnya.
“Kau bercanda lagi?”
Darrien tersenyum kecil.
“Sedikit.”
Fiona mencubit lengannya.
“Aduh.”
Ace tertawa.
Rowan menggeleng.
Elarion hanya menghela napas.
Kevin berdiri di belakang mereka.
“Jangan bergerak.”
Darrien mengangguk.
Lingkaran sihir semakin terang.
Kemudian—
cahaya memenuhi pandangan mereka.
Dan dalam satu detik—
mereka menghilang.
***
Tidak ada rasa jatuh.
Tidak ada rasa terbang.
Hanya—
sebuah sensasi aneh.
Seolah-olah tubuh mereka melewati ruang yang tidak memiliki arah.
Fiona memejamkan mata.
Tangannya masih menggenggam tangan Darrien.
Ia bisa merasakan energi magis mengalir di sekeliling mereka.
Sangat lembut.
Namun juga sangat kuat.
Kemudian—
semuanya berhenti.
***
Fiona membuka mata.
Hal pertama yang dilihatnya—
adalah langit.
Langit yang berbeda.
Lebih jernih.
Lebih terang.
Dan di kejauhan—
sebuah kota besar terbentang.
Fiona perlahan melepaskan napas.
“Kita…”
Darrien melihat sekeliling.
“Sudah sampai.”
Fiona membuka matanya lebih lebar.
“Wow…”
***
Lunaris.
Kerajaan yang terkenal dengan arsitektur kristalnya.
Kota tersebut terbentang luas di bawah langit yang cerah.
Bangunan-bangunan tinggi berdiri di antara jalan-jalan yang tertata rapi.
Kristal-kristal besar tumbuh di beberapa bagian bangunan seperti ornamen alami.
Menara-menara ramping menjulang tinggi.
Jembatan kristal menghubungkan beberapa bangunan.
Dan di kejauhan—
sebuah istana besar berdiri di atas dataran tinggi.
Istana Lunaris memiliki dinding putih keperakan yang dipadukan dengan kristal transparan.
Cahaya matahari memantul pada permukaannya.
Membuat seluruh istana terlihat seolah-olah dibangun dari cahaya bulan.
Fiona menatapnya tanpa berkedip.
“Indah…”
Darrien tersenyum.
“Jauh berbeda dari Veyth.”
Elarion mengamati sekeliling.
“Lunaris memang memiliki karakter arsitektur yang berbeda.”
Ace menatap salah satu menara.
“Kristalnya tumbuh secara alami?”
Elarion mengangguk.
“Sebagian besar.”
Rowan melihat ke jalan utama.
“Jadi semua ini…”
“Adalah Lunaris.”
***
Tidak jauh dari lingkaran teleportasi—
sekelompok orang telah menunggu.
Raja Zeith berdiri di depan.
Di sampingnya—
Ratu Seraphine.
Tidak jauh dari mereka berdiri Elyon.
Dan seorang pria lain—
Sylvester.
Begitu teleportasi selesai—
Seraphine langsung tersenyum.
“Selamat datang di Lunaris!”
Fiona tersenyum.
Ratu itu kemudian berjalan mendekat.
“Fiona!”
Fiona bahkan belum sempat mengatakan apa-apa ketika Seraphine sudah memegang kedua tangannya.
“Akhirnya kau datang!”
Fiona tertawa kecil.
“Yang Mulia.”
“Tidak perlu terlalu formal.”
Seraphine tersenyum hangat.
“Aku sudah menunggumu selama tiga hari.”
Darrien melihatnya.
Kemudian berbisik kepada Fiona,
“Sepertinya kau benar-benar ditunggu.”
Fiona menatapnya.
“Jangan mengejek.”
“Aku tidak mengejek.”
Seraphine mendengar percakapan itu.
Ia tertawa.
“Darrien.”
Darrien memberi hormat.
“Yang Mulia.”
Raja Zeith kemudian mendekat.
“Selamat datang di Lunaris.”
Darrien mengangguk.
“Terima kasih telah menerima kami.”
Zeith tersenyum.
“Kalian adalah tamu kami.”
***
Kemudian—
tatapan Fiona bertemu dengan seseorang.
Elyon.
Untuk beberapa detik—
mereka hanya saling melihat.
Fiona masih belum sepenuhnya terbiasa dengan penampilan Elyon yang berbeda dari sosok yang ia kenal sebagai seorang pengelana.
Namun kali ini—
ia tidak mengatakan apa-apa.
Elyon juga hanya tersenyum tipis.
“Selamat datang kembali.”
Fiona mengangguk.
“Terima kasih.”
Namun Elyon memperhatikan sesuatu.
Cahaya tipis dari energi Fiona.
Dan—
kristal-kristal di sekitar mereka.
Salah satu kristal kecil di dekat gerbang tiba-tiba berpendar.
Sangat samar.
Hanya sesaat.
Mata Elyon langsung berubah serius.
Namun ia tidak mengatakan apa pun.
Ia hanya menyimpan pengamatan itu dalam pikirannya.
***
Sylvester kemudian maju.
“Pangeran Darrien.”
Darrien menoleh.
“Ya?”
Sylvester memberi hormat.
“Selamat datang di Lunaris.”
Darrien membalas dengan anggukan.
“Terima kasih.”
Ace dan Rowan juga memberi salam.
Elarion berbicara singkat dengan Raja Zeith.
Sementara Kevin berdiri sedikit di belakang.
Ia melihat sekeliling.
Kemudian menarik napas panjang.
Tidak ada latihan.
Tidak ada arena.
Tidak ada magical dummy.
Kevin tersenyum puas.
“Liburan.”
Ace yang mendengarnya langsung tertawa.
“Jangan terlalu bahagia.”
Kevin menoleh.
“Kenapa?”
Ace menunjuk ke arah Darrien dan Fiona.
“Dengan mereka berdua…”
Ia tersenyum.
“…kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi.”
Kevin diam.
Kemudian—
smirk tipis muncul di wajahnya.
“Mungkin.”
***
Seraphine kembali menggenggam tangan Fiona.
“Ayo.”
Fiona berkedip.
“Mau ke mana?”
“Ke istana.”
Seraphine tersenyum lebar.
“Aku sudah menyiapkan banyak hal untukmu.”
Fiona terlihat sedikit terkejut.
“Banyak hal?”
“Ya.”
Darrien langsung menatap Fiona.
Kemudian menahan tawa.
Fiona mengerutkan kening.
“Kenapa kau tersenyum?”
“Tidak ada.”
Seraphine menarik Fiona perlahan menuju istana.
Darrien mengikuti bersama yang lainnya.
Di hadapan mereka—
Lunaris terbentang luas.
Indah.
Tenang.
Penuh cahaya kristal.
Sebuah kerajaan yang belum pernah Fiona kunjungi sebelumnya.
Namun jauh di dalam istana—
sesuatu sedang menunggu.
Sesuatu yang belum mereka ketahui.
Dan sementara semua orang menyambut kedatangan mereka dengan senyum—
Elyon masih memikirkan satu hal.
Cahaya Fiona.
Dan kristal yang kembali bereaksi terhadapnya.
Perjalanan mereka ke Lunaris—
baru saja dimulai.
Share this novel