Series
382
BAB 262 — MIMPI YANG TIDAK SEHARUSNYA DATANG
Air hangat mengalir perlahan di dalam ruang pemandian pribadi Darrien.
Uap tipis memenuhi ruangan.
Untuk pertama kalinya sejak pagi—
tidak ada suara benturan.
Tidak ada suara magical dummy.
Tidak ada suara Kevin.
Tidak ada perintah untuk bergerak.
Darrien bersandar di sisi kolam pemandian.
Matanya terpejam.
Tubuhnya terasa sangat lelah.
Namun pikirannya masih belum mau beristirahat.
Latihan hari ini terus berputar di kepalanya.
Kecepatan.
Indra.
Pengamatan.
Pernapasan.
Kontrol mana.
Dark magic.
Dan—
sihir tanpa chant.
Darrien membuka mata perlahan.
Ia mengangkat tangannya dari permukaan air.
Sedikit dark mana muncul di ujung jarinya.
Tidak ada mantra.
Tidak ada suara.
Hanya kehendaknya.
Mana itu bergerak perlahan mengikuti pikirannya.
Kemudian menghilang.
Darrien tersenyum tipis.
“Benar-benar berbeda.”
Beberapa hari yang lalu—
ia masih menggunakan kekuatan dengan cara yang jauh lebih kasar.
Jika membutuhkan lebih banyak kekuatan—
ia mengeluarkan lebih banyak mana.
Jika musuh bergerak cepat—
ia memaksakan kecepatannya.
Jika emosinya meningkat—
kekuatannya ikut meledak.
Namun sekarang—
ia mulai memahami sesuatu yang selama ini selalu dikatakan Kevin.
Tidak semua pertarungan membutuhkan kekuatan terbesar.
Tidak semua serangan membutuhkan seluruh mana.
Dan tidak setiap emosi harus diterjemahkan menjadi serangan.
Darrien menghela napas.
“Kevin…”
Ia mengingat semua latihan yang diberikan pria itu.
Awalnya ia mengira Kevin hanya ingin membalas dendam karena liburannya dibatalkan.
Dan mungkin—
sebagian memang benar.
Darrien tertawa kecil.
“Orang itu benar-benar menyebalkan.”
Namun tawanya perlahan menghilang.
Ia kembali memikirkan latihan.
Kevin tidak pernah benar-benar membiarkannya berhenti.
Setiap kesalahan diperbaiki.
Setiap kelemahan ditekan.
Setiap keberhasilan langsung diberikan tantangan berikutnya.
Bahkan ketika Darrien merasa sudah cukup—
Kevin selalu menemukan sesuatu yang masih kurang.
Darrien mengusap wajahnya.
“Aku tidak menyangka dia akan melatih sekeras ini.”
Ia menatap permukaan air.
Bayangannya terlihat samar.
Namun di balik kelelahan itu—
ada kepuasan.
Karena ia tahu semua itu memiliki tujuan.
Darrien memikirkan Fiona.
Bayangan Fiona yang terjatuh di dalam latihan kembali muncul.
Ia memejamkan mata.
Namun kali ini—
ia tidak membiarkan rasa takut mengambil alih.
Ia menarik napas.
Perlahan.
Kemudian mengembuskannya.
“Aku akan menjadi lebih kuat.”
Suaranya sangat pelan.
“Kalau itu bisa membuatku melindunginya…”
Darrien membuka mata.
“…semua ini akan sepadan.”
***
Malam semakin larut.
Setelah selesai mandi, Darrien kembali ke kamarnya.
Ia berbaring.
Tubuhnya yang lelah akhirnya menyerah.
Tidak butuh waktu lama—
Darrien tertidur.
***
Di kamar lain—
Fiona juga telah tertidur.
Malam terasa tenang.
Cahaya bulan masuk melalui celah tirai.
Fiona tidur dengan tenang.
Tidak menyadari sesuatu yang aneh.
Di lehernya—
kalung yang selama ini selalu ia kenakan memancarkan cahaya yang sangat samar.
Hampir tidak terlihat.
Di pergelangan tangannya—
Silver Leaf Bracelet juga mengeluarkan cahaya tipis.
Keduanya berdenyut perlahan.
Sekali.
Kemudian—
sekali lagi.
Namun Fiona tidak terbangun.
Ia justru semakin tenggelam ke dalam tidurnya.
***
Dalam mimpinya—
Fiona berdiri di sebuah tempat yang belum pernah ia lihat.
Udara terasa berbeda.
Lebih bersih.
Lebih ringan.
Dan seluruh tempat itu dipenuhi energi magis yang begitu murni hingga Fiona dapat merasakannya bahkan tanpa menggunakan indranya.
Ia melihat ke sekeliling.
Sebuah taman.
Pepohonan tinggi.
Cahaya lembut.
Kristal-kristal kecil tumbuh di antara rerumputan.
Semuanya terasa begitu tenang.
Fiona menatap tangannya sendiri.
“Di mana aku?”
Sebuah suara terdengar dari sampingnya.
“Fiona.”
Ia menoleh.
Darrien berdiri di sana.
Fiona langsung tersenyum.
“Darrien?”
Ia berjalan mendekatinya.
Namun setelah beberapa langkah—
Fiona berhenti.
Ada sesuatu yang aneh.
Darrien di hadapannya memang terlihat seperti Darrien.
Namun—
tidak sepenuhnya sama.
Wajahnya terlihat lebih dewasa.
Tatapannya lebih matang.
Auranya lebih dalam.
Lebih tenang.
Bahkan cara ia berdiri terasa berbeda.
Fiona mengerutkan kening.
“Kau…”
Darrien tersenyum.
“Apa?”
Fiona menatapnya.
“Kau terlihat berbeda.”
Darrien tertawa kecil.
“Mungkin karena kau sudah lama tidak melihatku.”
Fiona menggeleng.
“Bukan itu.”
Ia melangkah mendekat.
Aura di sekitar Darrien terasa sangat berbeda.
Jauh lebih murni.
Lebih kuat.
Dan tempat itu sendiri—
seolah-olah dipenuhi kekuatan magis yang tidak berasal dari dunia yang biasa ia kenal.
Namun anehnya—
Fiona tidak merasa takut.
Justru—
ia merasa sangat nyaman.
Darrien mengulurkan tangannya.
“Ayo.”
Fiona menatap tangannya.
Kemudian tersenyum.
Ia menggenggam tangan itu.
Mereka berjalan bersama.
Melewati taman.
Berbicara.
Tertawa.
Seperti sebuah kencan sederhana.
Tidak ada perang.
Tidak ada kerajaan.
Tidak ada bahaya.
Hanya mereka.
Untuk sesaat—
Fiona merasa sangat bahagia.
Namun—
semuanya berubah.
***
Pemandangan itu pecah.
Seperti kaca yang dihantam sesuatu.
Fiona tiba-tiba berada di tempat lain.
Gelap.
Sunyi.
Udara dipenuhi bau darah.
“Darrien?”
Tidak ada jawaban.
Fiona berlari.
Kemudian—
ia melihat seseorang.
Tubuh Darrien terbaring di tanah.
Bajunya penuh darah.
Wajahnya pucat.
Tidak bergerak.
“Darrien!”
Fiona berlutut.
Ia mengangkat tubuhnya.
Darrien jatuh ke dalam pelukannya.
Terlalu berat.
Terlalu dingin.
Fiona mengguncang tubuhnya.
“Darrien!”
Tidak ada respons.
“Bangun…”
Air mata mulai mengalir.
“Darrien, bangun…”
Tetap tidak ada jawaban.
Fiona memeluknya semakin erat.
“Tidak…”
Suaranya bergetar.
“Tidak…”
Air matanya semakin deras.
“Jangan…”
Ia menekan wajahnya ke dada Darrien.
“Jangan tinggalkan aku…”
Tubuh yang berada dalam pelukannya tetap tidak bergerak.
Fiona menangis semakin keras.
“Tidak…”
Tangannya gemetar.
“Jangan tinggalkan aku sendirian…”
Ia memeluk Darrien seolah-olah dengan begitu—
ia bisa memaksanya kembali hidup.
“Darrien…”
Suaranya pecah.
“Ku mohon…”
Namun—
tidak ada jawaban.
***
“AH!”
Fiona terbangun dengan tarikan napas tajam.
Tubuhnya langsung terduduk di atas tempat tidur.
Napasnya tersengal.
Tangannya mencengkeram selimut.
Matanya terbuka lebar.
Air mata masih mengalir di pipinya.
Ia menatap sekeliling kamar.
Gelap.
Sunyi.
Tidak ada siapa-siapa.
Fiona menyentuh dadanya.
Jantungnya berdetak sangat cepat.
“Darrien…”
Ia menelan ludah.
Mimpi itu masih terasa nyata.
Terlalu nyata.
Fiona mengusap air matanya.
Kemudian tanpa sadar—
tangannya menyentuh kalung di lehernya.
Ia tidak menyadarinya.
Kalung itu masih memancarkan cahaya samar.
Begitu pula Silver Leaf Bracelet di pergelangan tangannya.
Cahaya keduanya perlahan meredup.
Fiona menatap ke depan.
Masih terkejut.
Masih mencoba memahami apa yang baru saja ia lihat.
Dan hanya satu pertanyaan yang terus berputar di dalam pikirannya—
“Siapa… Darrien yang kulihat tadi?”
Share this novel