47. Sihir Tingkat Kedua

Romance Series 94

BAB 47
SIHIR TINGKAT KEDUA

Keesokan paginya, Darrien sudah berdiri di halaman sebelum Kevin datang.

Fiona duduk di bawah pohon sambil membawa sebuah buku.

Darrien menoleh kepadanya.

“Kau membaca?”

“Tidak.”

“Lalu kenapa membawa buku?”

“Supaya terlihat pintar.”

Darrien tertawa.

Tidak lama kemudian, Kevin muncul.

“Sudah siap?”

Darrien berdiri tegak.

“Siap.”

Kevin meletakkan sebuah kristal hitam di tanah.

“Hari ini kita mulai sihir tingkat kedua.”

Darrien menatap kristal itu.

“Mantra apa?”

“Tidak ada mantra.”

Darrien mengerutkan kening.

“Tidak ada?”

“Benar.”

Kevin menunjuk kristal.

“Sentuh.”

Darrien mendekat dan menyentuhnya.

Tidak terjadi apa-apa.

“Sekarang masukkan sihirmu.”

Darrien mengalirkan sedikit energi.

Kristal itu langsung bergetar.

Darrien menarik tangannya.

“Apa itu?”

Kevin tetap tenang.

“Kristal pendeteksi.”

“Untuk mendeteksi apa?”

“Seberapa banyak energi yang kau gunakan.”

Darrien melihat kristal itu.

“Lalu?”

“Masukkan satu tetes energi.”

Darrien mencoba.

Kristal menyala.

“Bagus.”

Kevin menunjuk lagi.

“Sekarang dua.”

Darrien melakukannya.

Cahaya kristal menjadi lebih terang.

“Tiga.”

Lebih terang.

“Lima.”

Kristal mulai bergetar.

Darrien berhenti.

Kevin mengangguk.

“Cukup.”

Darrien bingung.

“Kenapa?”

“Karena itu batas amanmu saat ini.”

Darrien menatap kristal.

“Hanya lima?”

“Untuk energi mentah.”

Kevin mengambil kristal tersebut.

“Jika kau memaksakan lebih banyak, tubuhmu akan mulai menanggung akibatnya.”

Darrien mengerutkan kening.

“Bukankah aku bisa menjadi lebih kuat?”

“Bisa.”

“Lalu kenapa berhenti?”

“Karena penyihir yang kuat bukan orang yang bisa mengeluarkan energi paling banyak.”

Kevin menatapnya.

“Penyihir yang kuat adalah orang yang bisa melakukan banyak hal dengan energi paling sedikit.”

Darrien terdiam.

Fiona mengangguk dari bawah pohon.

“Itu masuk akal.”

Kevin menatap Fiona.

“Kau juga harus belajar.”

Fiona langsung duduk lebih tegak.

“Kenapa aku?”

“Karena cahaya juga memiliki batas.”

Fiona memandang telapak tangannya.

Kevin memberikan kristal kedua.

“Coba sembuhkan retakan ini.”

Fiona mengambil kristal tersebut.

Cahaya keemasan muncul.

Retakan kecil perlahan menghilang.

Fiona tersenyum.

“Berhasil.”

Kevin mengambil kristal itu.

“Sekarang lakukan dengan setengah energi.”

Fiona mengerutkan kening.

“Setengah?”

“Ya.”

Ia mencoba lagi.

Cahaya muncul lebih kecil.

Retakan mulai menutup.

Namun kali ini lebih lambat.

Fiona berhasil.

Kevin mengangguk.

“Bagus.”

Darrien langsung menyela.

“Dia mendapat pujian juga.”

Fiona tersenyum bangga.

Kevin menatap Darrien.

“Kau iri?”

Darrien langsung membuang muka.

“Tidak.”

Fiona tertawa.

Kevin kembali ke pelajaran.

“Sekarang kalian berdua.”

Darrien dan Fiona berdiri.

“Apa yang harus kami lakukan?”

“Gabungkan sihir kalian.”

Darrien dan Fiona saling memandang.

“Kami sudah pernah melakukannya,” kata Fiona.

“Benar.”

Kevin meletakkan sebuah kristal di antara mereka.

“Namun kali ini…”

Ia menatap mereka serius.

“Jangan saling menyesuaikan.”

Darrien mengerutkan kening.

“Lalu?”

“Biarkan sihir kalian menemukan keseimbangannya sendiri.”

Mereka mengangkat tangan.

Cahaya keemasan muncul dari Fiona.

Hawa dingin muncul dari Darrien.

Keduanya bergerak mendekati kristal.

Awalnya stabil.

Kemudian—

**Krek.**

Darrien dan Fiona langsung menghentikan sihir.

Kristal retak.

Fiona menatapnya.

“Kita gagal lagi.”

Kevin mengangguk.

“Ya.”

Darrien menghela napas.

“Kenapa?”

“Karena kalian masih mencoba mengendalikan satu sama lain.”

Mereka saling memandang.

“Kalian harus percaya pada kekuatan masing-masing.”

Darrien terdiam.

Fiona juga.

Kevin mengambil kristal baru.

“Sekali lagi.”

Mereka mencoba.

Kali ini Darrien tidak mencoba menyesuaikan cahayanya.

Fiona juga tidak mencoba mengubah aliran sihirnya mengikuti Darrien.

Dua kekuatan berbeda bertemu.

Tidak menyatu.

Tidak bertabrakan.

Hanya berjalan berdampingan.

Kristal menyala.

Tidak retak.

Kevin mengangguk.

“Bagus.”

Fiona tersenyum.

Darrien juga.

Namun Kevin segera menambahkan,

“Sekarang seratus kali.”

Darrien membeku.

“Seratus?”

“Ya.”

Fiona menatap Kevin.

“Kenapa sebanyak itu?”

“Karena kalian masih memiliki sembilan puluh sembilan kesempatan untuk gagal.”

Darrien menutup wajahnya.

Fiona mulai tertawa.

Kevin berbalik.

“Mulai.”

Darrien menatap Fiona.

Fiona mengangkat tangannya.

“Semangat?”

Darrien menghela napas.

“Semangat.”

Dan latihan kembali dimulai.

Di balik pepohonan, Ace mengamati dengan tenang.

Sementara jauh di istana Veyth, laporan lain perlahan mulai disusun.

Namun untuk saat ini…

tidak ada kerajaan.

Tidak ada masa lalu.

Tidak ada rahasia.

Hanya dua anak yang sedang belajar mengendalikan kekuatan mereka.

Dan seorang guru yang sepertinya tidak mengenal kata kasihan.

Share this novel

Guest User
 


NovelPlus Premium

The best ads free experience